Apakah Hawa Tercipta dari Tulang Rusuk Adam?

Saya akan mengangkat sebuah bahasan yang sebenarnya cukup sensitif. Mengapa? Pertama, karena bahasan ini akan sangat berbeda dengan pandangan umum. Kedua, dalam bahasan ini saya pun terpaksa mengutip Kitab Suci umat Kristiani, yakni Alkitab. Ini mau tak mau, karena ada aspek sejarah yang perlu diulas.

Saya berharap bahasan kali ini dapat menambah wawasan kita. Bukan malah menambah kasus baru dalam isu “penistaan agama”. Saya harap pembaca yang Kristiani dapat memaklumi ini. Dan menjadikan ini sebatas kajian teks, yang mudah-mudahan ilmiah. Hehe…

Dimulai dari Last Child dan Gissele yang pernah nyanyi bareng “..Jika memang dirimu lah tulang rusukku, kau akan kembali pada tubuh ini..

Sudah menjadi pandangan umum bahwa Hawa (istri Nabi Adam as) diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam as. Lagu di atas pun, sepertinya, terinspirasi dari pandangan tersebut.

Sebenarnya, dalam perspektif Islam, pandangan seperti itu bersumber dari mana? Quran atau Hadits atau dari sumber lainnya? Apakah Quran menceritakan tentang hal ini?

Quran dan Hadits tidak pernah menceritakan tentang penciptakan Hawa yang tercipta dari tulang rusuk Nabi Adam as. Justru, cerita tentang penciptaan Hawa ini mengadopsi cerita yang bersumber dari Perjanjian Lama (Alkitab/Bibel).

Lalu Tuhan Allah membuat manusia itu tidur nyenyak, ketika ia tidur, Tuhan Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil Tuhan Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” (Kitab Kejadian 2:21-23)

Cerita tentang penciptaan Hawa yang dipahami sebagian besar kaum Muslimin adalah warisan dari cerita-cerita “israiliyyat” (bersumber pada Alkitab/Bibel). Mengapa bisa?

Menurut Ibnu Khaldun, sebagaimana dikutip Mana’ al-Qathan dalam Mahabits fi Ulum al-Quran, dalam sejarah diketahui bahwa orang-orang Arab telah berinteraksi dengan orang Yahudi jauh sebelum Rasulullah, Muhammad datang membawa Islam. Orang-orang Arab adakalanya menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan penciptaan alam semesta, rahasia-rahasia yang terkandung dalam penciptaan alam, sejarah masa lalu, tokoh-tokoh tertentu, atau tentang suatu peristiwa yang pernah terjadi pada suatu masa, kepada orang-orang Yahudi karena mereka memiliki pengetahuan yang didapat dari kitab Taurat atau kitab-kitab agama mereka lainnya.

Setelah Islam datang, ada sebagian kecil orang Yahudi yang menerima ajaran Islam, seperti Abdullah bin Salam dan Ka’ab al-Ahbar (masuk Islam pada masa Umar bin Khattab). Para sahabat kadang bertanya kepada orang-orang Yahudi yang telah menjadi muslim itu tentang beberapa peristiwa masa lalu. Dan pada masa itu, memang cerita-cerita israiliyyat suka dijadikan referensi yang mudah didapat, karena masih minimnya buku-buku sejarah pada masa itu.

Jadi. Dalam konteks ini, pandangan bahwa Hawa tercipta dari tulang rusuk Nabi Adam as, merupakan pandangan israiliyyat yang bersumber pada Alkitab. Pandangan tersebut bukan berasal dari Quran maupun Hadits.

Dalam perspektif Quran, tidak ada perbedaan penciptaan manusia yang hidup di bumi ini. Oleh karenanya, penciptaan Hawa pun sama dengan penciptaan manusia pada umumnya. Dimulai dari perkawinan, mengandung, dan lahir lah Hawa ke dunia.

Sebenarnya. Ada sebuah hadits yang dijadikan dalil untuk mengonfirmasi penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam. Begini bunyi haditsnya:

“Nasehatilah kaum wanita, karena mereka telah diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk itu bagian pangkalnya. Jika kamu memaksa meluruskannya, maka akan membuatnya patah. Jika kamu biarkan, maka dia akan tetap bengkok. Untuk itu, nasehatilah kaum wanita.” (HR. Bukhari)

Banyak yang salah memahami dan mencoba untuk memaksakan bahwa hadits di atas telah mengonfirmasi pemahaman umum tentang penciptaan Hawa. Padahal, setelah dilakukan kajian yang lebih mendalam, makna hadits tersebut bukan membicarakan tentang penciptaan, tapi berisi sebuah nasehat untuk para pria.

Yang disebut dari hadits ini adalah “kaum wanita”, bukan Hawa. Sebab, Hawa hanya satu dari sekian banyak wanita yang lahir ke dunia.

Coba perhatikan kata-kata ini, “Nasehatilah kaum wanita, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok.

Pertanyaannya, apa hubungan antara “menasehati” dengan “tulang rusuk yang bengkok”? Tulang rusuk yang bengkok pasti memiliki suatu makna tersembunyi. Ada sebuah “metafor” dari penggunaan kata “tulang rusuk yang bengkok”.

Dalam Kitab Tafsir Bahrul Muhith, Abu Hayyan al-Andalusi menulis bahwa kata “dhil’un” (tulang rusuk) yang digunakan dalam hadits Nabi di atas tersebut, menunjuk kepada suatu pembawaan yang bengkok. Kata itu sendiri berarti kebengkokan.

Kata “dhil’un” pada dasarnya menunjuk kepada sifat khas wanita. Yang mempunyai kebiasaan berpura-pura tidak senang juga bertingkah manja, untuk menarik perhatian orang. Sebagai “suami siaga”, saya tahu yang beginian. Dimana jomblo gak akan pernah tahu.. Hihihi..

Wanita itu suka berlaga marah. Mereka memang orangnya begitu. Cuma ingin diperhatikan. Marahnya mereka hanyalah fatamorgana di siang hari.

Kalau pria berlaku kasar atas sifat uniknya ini, maka kita, Bani Adam telah secara tidak sadar telah meluluh-lantakkan sifat paling menarik lagi menawan hati dalam kepribadiannya.

Dan lagi-lagi.. jomblo gak akan pernah bisa mengerti.

Hits: 263

Writer | Website

Sab neki ki jarh taqwa he, agar yeh jarh rahi sab kuch raha ~ Akar dari semua kebaikan adalah takwa, jika ini ada maka semua ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories