Melerai Konflik Kafir VS Non-Muslim

Saat NU mengumumkan keputusan Munasnya perihal penghapusan istilah “kafir” untuk warga negara yang bukan Islam, banyak pihak yang tidak terima dan mengajukan argumen-argumen yang tidak proporsional.

Misalnya dengan menantang pihak NU atau yang pro dengan keputusan Munasnya, “Gak sekalian ganti surat AlKafirun dengan surat AlNonMuslim.”

Terlihat jelas betapa dangkalnya pemahaman pihak-pihak yang tidak mampu bersikap proporsional dengan sebuah lompatan besar NU ini. Sebab, istilah “kafir-mukmin” sangat tidak relevan dalam konteks berbangsa dan bernegara.

Justru, polaritas yang ditimbulkan dari istilah tersebut menjadi salah satu faktor utama merebaknya gerakan-gerakan intoleransi juga diskriminasi agama atau keyakinan tertentu.

Rendahnya pemahaman terhadap konsep “kafir” dalam Al-Quran membuat orang bersikap reaktif serta meledak-ledak. Ya, lebih tepatnya bersumbu pendek.

Padahal, terma “kafir” menurut Quran tak sesempit yang dipahami oleh kebanyakan orang. Terutama mereka yang hobi mengkafirkan pihak-pihak yang berseberangan dengannya.

Bagi kaum bersumbu pendek, kafir adalah mereka yang bukan Islam. Menurut mereka, orang kafir tempatnya di neraka, seberapapun baiknya Bunda Teresa dengan konsep cinta kasihnya yang mampu menembus sekat-sekat sosial, seberapapun baiknya Gandhi dengan perlawanannya yang tanpa kekerasan, juga seberapapun baik Mark Zuckerberg yang telah menghubungkan banyak orang di dunia.

Sempit sekali. Dangkal sekali. Islam jadi terlihat menakutkan. Islam jadi terlihat menghakimi. Padahal, Tuhan setiap agama sama. Sama-sama Tuhan yang menciptakan alam semesta ini. Mungkin namanya berbeda. Mungkin penyebutannya berlainan. Tapi, Wujudnya tetap satu.

Lalu. Mengapa kita senang memonopoli? Mengapa kita hobi mengatakan bahwa kita paling benar, dan yang lain salah? Mengapa identitas keagamaan kita adalah penentu kita masuk surga? Tanpa ada surga dan neraka sekalipun, Bunda Teresa dan Mahatma Gandhi akan terus memberi arti bagi hidup ini. Lalu, mengapa kita malah meributkan sesuatu yang belum tentu berarti bagi hidup ini?

Menurut saya, kafir adalah ukuran, bukan alat untuk mengukur orang lain.

Tiap orang memiliki ukuran celananya. Ada yang 30, 31, atau 33. Misal, ukuran si fulan adalah 30. Lalu, ada fulan lain, dengan menggunakan penglihatannya, ia mencoba menebak ukuran celana si fulan. Tebakannya adalah 33. Benar tidak tebakan fulan lain? Tentu salah.

Kafir itu ukuran setiap manusia. Secara bahasa kafir itu artinya menutup. Dalam konteks Quran, kafir itu adalah orang yang menutup dirinya dari kebenaran. Kebenaran itu punya makna yang luas. Jangan sampai itu disempitkan kepada kebenaran agama Islam saja.

Menurut Quran, orang yang tidak mensyukuri nikmat dikatakan kafir. Menurut Quran juga, orang yang tidak memiliki kepedulian sosial juga dikatakan kafir. Orang yang suka berbuat zalim juga dikatakan kafir. Begitu juga dengan orang yang suka menghalangi orang lain dalam mencari kebenaran dikatakan kafir. Bahkan, orang yang putus asa pun dikatakan kafir.

Belum lagi dalam hadits, orang yang tidak mengerjakan shalat lima waktu adalah kafir. Begitu juga, orang yang tidak melakukan shalat jumat tiga kali berturut-turut, itu juga kafir.

Konsep kafir dalam Islam sungguh luas. Bak samudera yang mengharuskan kita bisa berenang untuk mengarunginya. Kalau tidak bisa berenang, kita akan tenggelam dan menyangka bahwa tidak ada samudera disini. Hanya ada kolam yang dalam.

Tiap orang punya ukuran kekafirannya. Saya, anda, kita semua punya ukuran kekafirannya masing-masing. Tidak ada yang salah dengan ukuran itu. Sebab, itulah realitas yang kita miliki. Dan ukuran tidak memihak kepada siapapun, ia netral, ia adalah gambaran kita seutuhnya.

Tiap kita punya kekafirannya sendiri. Sebab, apakah kita telah melaksanakan seluruh perintah Quran yang berjumlah kurang lebih 700-an itu? Tentu, tidak ada yang sanggup melakukannya. Ini berarti peluang menjadi kafir itu tetap ada.

Boleh jadi kita taat dengan perintah shalat lima waktu, tapi kita kafir terhadap hak-hak fakir miskin di sekitar kita. Boleh jadi kita taat dengan perintah puasa di bulan ramadhan, tapi kita kafir terhadap larangan menjaga lisan kita dari membicarakan aib orang lain. Selalu ada kelemahan dalam diri manusia. Tapi, kita maunya dianggap sempurna. Padahal, kesempurnaan hanya milik Allah.

Apakah umat Kristiani kafir? Jawabannya, setiap umat beragama punya ukuran kekafirannya sendiri. Bukankah Tuhan juga membalas amal setiap manusia, meski itu sebesar biji sawi? Lalu, mengapa kita harus memonopoli kebenaran?

Toh, pekerjaan setiap manusia di dunia ini bukan cuma beribadah kepada-Nya. Tapi, menjadi manfaat bagi setiap orang adalah ibadah kita terhadap sesama.

Jadi. Agama bukanlah ukuran bahwa kita yang terbaik. Tapi, akhlak, akhlak dan akhlak yang membuat kita menjadi manusia yang lebih baik.

Ketika kita mempunyai keluasaan dalam memahami topik terkait konsep kafir ini, tentu tidak ada lagi yang akan mempertontonkan kedangkalan berpikirnya seperti beberapa pihak yang bersumbu pendek tadi.

Dan memilih mengganti panggilan “kafir” menjadi “non-muslim” menjadi sangat relevan dengan kondisi umat Islam sekarang ini.

Hits: 149

Writer | Website

Sab neki ki jarh taqwa he, agar yeh jarh rahi sab kuch raha ~ Akar dari semua kebaikan adalah takwa, jika ini ada maka semua ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories