Ternyata, Neraka Tidak Kekal..!!

Saya hendak memulai bahasan kali ini dengan beberapa pertanyaan:

Untuk apa sih neraka diciptakan? Kalau jawabannya untuk menghukum para pelaku dosa. Maka, pertanyaan kedua:

Apakah yang hendak dicapai dari hukuman-hukuman di neraka?

Apakah hendak membuat para pelaku dosa mati? Eh, tidak ada lagi kematian di kehidupan akhirat.

Lalu, apakah neraka itu kekal? Kalau jawabannya “Ya”, maka, apakah para pelaku dosa akan disiksa secara abadi? Untuk sebuah laku dosa yang umurnya puluhan, sedikit yang ratusan tahun?

Untuk suatu kebaikan, Allah melipat-gandakan ganjaran-Nya. Sedang, untuk suatu kejahatan, Allah menetapkan satu keburukan atas itu. Itulah konsep keadilan yang kita ketahui bersama. Bukankah Quran menjelaskan semua ini?

Kalau memang demikian. Mengapa para penghuni neraka, yang dosa-dosa berupa kejahatan, kekafiran, kemusyrikan dan lain sebagainya, yang dilakukan dalam jangka waktu “rata-rata” tak sampai seabad, mereka harus merasakan siksaan panjang dalam suatu masa yang tak terhingga? Bukankah untuk sebuah kejahatan, nilai daripadanya adalah satu keburukan?

Baiklah, kita akan bahas tentang hal ini dari dalil ke dalil.

Pertama…

Dikatakan dalam Quran, “..Dia berfirman, Api itulah tempat tinggalmu, kamu akan tinggal lama di dalamnya, kecuali apa yang Allah kehendaki..” (QS. Al-An’am: 129)

Kata-kata “illa masyaa Allah”, kecuali apa yang Allah kehendaki, memunculkan satu dugaan bahwa neraka memang tidak kekal. Dalam bahasa Arab, kata “illa” disebut “istitsna’” yang berarti pengecualian.

Kata-kata “kamu akan tinggal lama, kecuali apa yang Allah kehendaki” berarti ada “pengecualian” yang didasarkan pada kehendak Allah, sehingga kamu tidak akan tinggal lama.

Kata “illa” biasa digunakan untuk kalimat-kalimat negatif. Semisal “Tidak ada tuhan “selain” Allah”, yang berarti hanya Allah lah Tuhan kita. Saat konjungsi “illa” dipakai untuk kalimat positif, maka fungsi akan menegatifkan kalimat sebelumnya.

Misal, kalimat “Ada tuhan selain Allah”, berarti kalimat ini bermaksud, Allah bukanlah satu-satunya Tuhan. Begitulah kira-kira.

Kedua…

Dikatakan dalam Quran, “Sesungguhnya Jahanam adalah tempat mengintai. Tempat kembali orang-orang yang melampaui batas. Yang akan tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya.” (QS. An-Naba: 22-24)

Kata “berabad-abad lamanya” menggunakan kata “ahqab”. Kata “ahqab” adalah bentuk jamak (plural) dari kata “huqub”.

Dalam kamus Arabic-English Lexicon, kata “huqub” memilki beberapa arti. Yaitu, satu atau beberapa tahun, 70 atau 80 tahun, satu jangka waktu yang lama.

Jadi. Para penghuni neraka akan tinggal di dalamnya dalam suatu jangka waktu yang lama. Dan masa itu akan habis jika Allah menghendakinya.

Ketiga..

Dikatakan dalam Quran, “Dan adapun orang yang akan ringan timbangannya. Maka ibu (pengasuh)nya adalah hawiyah. Dan apakah engkau tahu, apa hawiyah itu? Ialah api yang menyala-nyala.” (QS. Al-Qari’ah: 9-12)

Hawiyah itu adalah nama untuk neraka. Tapi, mengapa hawiyah disebut sebagai “ummu”, yang artinya ibu? Mengapa Allah menyebut neraka sebagai ibu?

Tentu ada filosofinya bagi manusia yang menggunakan akalnya. Sudahkah akal anda dipakai?

Seperti halnya embrio tumbuh melalui berbagai tingkat perkembangan di dalam rahim ibu. Hingga akhirnya lahirlah kita sebagai seorang manusia yang utuh. Begitu para pelaku dosa. Mereka akan melalui berbagai macam tingkat siksaan (batin), hingga pada akhirnya ruh-ruh mereka bersih dari dosa-dosa yang telah meracuni hati mereka.

Neraka (ibu) melahirkan kembali para pendosa sebagai insan baru yang telah sehat dari penyakit-penyakit rohani yang diderita.

Jadi, menurut Quran, neraka itu semisal panti asuhan atau rumah sakit. Tempat untuk para penderita penyakit-penyakit rohani. Sebagaimana di rumah sakit, terkadang diberikan obat yang pahit, terkadang juga disuntik, dioperasi, atau bahkan diamputasi. Yang semua itu, tujuannya adalah agar si pasien dapat sehat kembali.

Nah, begitu juga neraka. Ia adalah tempat untuk merawat orang-orang yang menderita penyakit-penyakit rohani. Para pendosa harus melewati hukuman demi hukuman. Dan, tentu. Kita semua tahu saat ibu kita menghukum kita. Untuk apa? Untuk kebaikan kita. Agar kita menjadi “orang” kelak.

Apakah ada seorang ibu yang menghukum anaknya hanya untuk memperlihatkan bahwa dirinya maha murka? Ibu saya gak kayak gitu. Gak tahu ibu situ kayak gimana?

Keempat…

Terdapat sebuah Hadits yang mengatakan, “Allah telah menciptakan rahmat. Terbagi atas 100 bagian. Di akhirat ada 99, Dia tahan. Di dunia satu bagian, Dia turunkan. Maka dengan satu bagian di dunia setiap makhluk seluruh alam semesta berkasih sayang saling mencintai.” (HR. Tirmidzi)

Kita tahu bersama. Rahmat (kasih) Allah selalu mengalahkan murka-Nya. Itulah mengapa, Allah tak mengazab seseorang begitu saja. Allah tak pernah melihat seseorang kafir atau mukmin untuk bisa sukses di kehidupan dunia.

Saya, anda, juga kita semua. Adalah makhluk yang bersimbah dosa dan nestapa. Setiap kita punya dosa yang Allah pasti tahu, tapi dia tak pernah mengumumkannya di FB. Namun, saat kita bertobat, Allah selalu mengatakan “Aku Maha Pengampun, Maha Penyayang”. Sedang kita maha pendendam.

Ini di kehidupan dunia loh, yang katanya cuma 1% dari rahmat-Nya. Sedang, 99% lagi diperuntukan untuk kehidupan akhirat.

Jika Neraka itu kekal, lalu yang 99% itu gak berlaku buat para pendosa? Padahal, untuk 1% di dunia, Allah selalu memaafkan.

Terakhir…

Rasulullah saw bersabda, “Akan tiba suatu hari untuk neraka, ketika pintu-pintunya akan melambai-lambai dan tak seorangpun akan tersisa disana. Hal itu akan terjadi bila penghuni neraka telah tinggal disana berabad-abad lamanya.” (Musnad Ahmad bin Hanbal)

Pada akhirnya, neraka pun akan sepi. Se-sepi Jakarta saat lebaran idul fitri. Hihihi…

Hits: 198

Writer | Website

Sab neki ki jarh taqwa he, agar yeh jarh rahi sab kuch raha ~ Akar dari semua kebaikan adalah takwa, jika ini ada maka semua ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories