Ilmu Lebih Berharga daripada Harta

Allah telah menciptakan semuanya berpasangan. Diciptakan siang dan malam, matahari dan bulan, juga air dan api. Lalu manusia pun dengan kehendak-Nya ditakdirkan memiliki keadaan berbeda. Ada yang berlimpah harta benda dan ada pula yang hanya sedikit hartanya. Semuanya harus hidup berdampingan dan saling mengisi.

Jika seandainya semua orang berlimpah harta, mungkin tidak akan ada lagi yang mau menjadi petani yang menanam tanaman pangan, juga peternak yang mengembangbiakkan hewan ternak. Bahkan mungkin tidak akan ada lagi orang yang mau menjadi pekerja di berbagai sektor yang dibutuhkan umat manusia. Kalau sampai hal ini terjadi, bagaimana kita akan memenuhi kebutuhan kita?

Demikian pula dengan ilmu yang dimiliki tiap manusia. Allah ciptakan manusia yang memiliki kemampuan untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya dan manusia yang memiliki sarana terbatas. Meskipun berbeda, keduanya memiliki kewajiban yang sama untuk terus menambah ilmu dari berbagai sumber dan mengamalkannya.

Keutamaan ilmu begitu ditekankan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. saat ia didatangi beberapa orang secara bergantian. Mereka sengaja datang satu persatu dan menanyakan hal yang sama karena ingin tahu bagaimana Ali menjawab mereka, apakah dengan jawaban yang sama atau berbeda.

Dimulai dengan orang pertama yang berkunjung kepada Ali dan bertanya, “Wahai Ali mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta.”

Orang itu lalu bertanya lagi, “Dengan dalil apa?” Ali membalas, “Ilmu itu warisan para nabi dan harta itu warisan Qarun, Syaddad, Firaun dan lainnya.” Lalu pergilah orang pertama ini.

Datang lagi orang kedua yang bertanya seperti orang pertama tentang ilmu dan harta. Dan tetap Ali menjawab dengan jawaban yang sama bahwa ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya pula, “Dengan dalil apa?” Ali menjawab, “Ilmu menjagamu, sedang engkau menjaga harta.” Kemudian pergilah orang itu.

Datang lagi orang ketiga memberi pertanyaan yang sama dan Ali pun memberikan jawaban yang sama. Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?” Ali menjawab dengan alasan yang berbeda, menurutnya pemilik harta mempunyai banyak musuh, dan orang memiliki ilmu mempunyai banyak teman.

Datang lagi orang yang keempat dan bertanya kepada Ali dengan pertanyaan yang sama dan lagi-lagi Ali menjawab bahwa ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya apa alasan dari jawaban Ali, kemudian Ali menjawab dengan alasan yang berbeda dengan jawaban ketika dia ditanya oleh orang pertama, kedua dan ketiga. Ali berujar, “Ilmu apabila kau belanjakan maka akan bertambah, tetapi harta jika kau belanjakan maka ia akan berkurang.”

Hingga datang lagi seorang yang lain yang bertanya, Ali terus bahwa menjawab ilmu lebih baik daripada harta dengan alasan harta akan dihisab pada hari kiamat sedangkan pemilik ilmu akan memberi syafaat pada hari kiamat.

Demikianlah, ketika Ali ditanya terkait keutamaan ilmu, beliau memiliki banyak alasan yang berbeda-beda. Ali berkata, “Andaikata ada banyak orang bertanya kepadaku tentang keutamaan ilmu, maka niscaya aku akan memberi alasan-alasan yang berbeda.”

Betapa ilmu adalah hal yang sangat mendasar yang harus dimiliki setiap manusia. Allah Ta’ala menghendaki kita untuk terus mencari ilmu selama hidupnya, sehingga kepada Rasulullah saw. yang merupakan manusia sempurna yang pernah ada di dunia ini pun tetap diajarkan doa, “Wahai Tuhan-ku! Tambahkanlah kepadaku ilmu.” (Q.S Thaha : 115)

Dewasa ini, sudah cukup banyak orang yang menyadari betapa pentingnya memiliki ilmu, terutama di kalangan orang-orang berharta. Tidak dapat dipungkiri, meskipun ilmu pengetahuan bisa didapatkan dari berbagai sumber, bangku perguruan tinggi adalah tempat yang dianggap dapat memberikan lebih banyak ilmu berharga dibandingkan sumber lainnya. Semua orang berlomba-lomba dalam meraih gelar yang kemudian disematkan di belakang nama mereka sebagai tanda pencapaian yang telah mereka raih.

Kebanyakan dari mereka mungkin lupa, bahwa sejatinya, tujuan dari menuntut ilmu bukanlah untuk mendapatkan gelar semata. Rasulullah saw. menghendaki kita menjadi insan yang bermanfaat bagi orang lain, sebagaimana beliau bersabda, ”Sedekah yang baik adalah seorang menuntut ilmu lalu mengajarkan pada saudara-saudaranya.” (Abu Hurairah ra.)

Menuntut ilmu kemudian mengajarkannya merupakan sebuah sedekah jariah yang mengalir, sebuah perbuatan baik yang juga bermanfaat untuk kehidupan sosial. Karena tidak akan ada manusia yang bisa hidup sendiri di dunia ini, sepandai apapun dia. Manusia adalah makhluk sosial yang hidup saling ketergantungan dan sangat membutuhkan orang-orang di sekitarnya.

Betapa sia-sia ilmu yang dimiliki jika tidak dipergunakan dengan benar. Apalagi jika ilmu ini kita anggap sebagai kelebihan yang membuat kita berbeda dari manusia lainnya dan akhirnya menciptakan kesenjangan serta menenggelamkan kita dalam kesombongan.

Tegas dikatakan kepada seluruh umat manusia, “Seandainya kamu orang berilmu, berilah orang-orang yang tidak berpengetahuan nasihat, dan janganlah merendahkan mereka dengan menonjolkan kepandaianmu.” (Hadhrat Masih Mau’ud. a.s)

Ilmu tidak berbeda dengan harta benda yang dititipkan Allah Swt. kepada kita. Kelak kita akan diminta pertanggungjawaban atas semua pengetahuan yang telah kita peroleh. Bahkan Allah mungkin saja akan mengambil kembali semua ilmu kita jika kita dinilai tidak pantas untuk memilikinya.

Karenanya bersikaplah rendah hati dan selalu siap berbagi. Jangan pernah merasa tinggi hati dengan apa pun yang kita miliki, termasuk ilmu.

Ada satu nasehat yang patut kita renungkan:
“Jika iblis memberikan waswas kepadamu bahwa engkau lebih mulia dari muslim lainnya, maka perhatikanlah, jika ada orang lain yang lebih tua darimu, maka seharusnya engkau katakan, ‘Orang tersebut telah lebih dahulu beriman dan beramal saleh dariku, maka ia lebih baik dariku.’ Jika ada orang lainnya yang lebih muda darimu, maka seharusnya engkau katakan, ‘Aku telah lebih dahulu bermaksiat dan berlumuran dosa serta lebih pantas mendapatkan siksa dibanding dirinya, maka ia sebenarnya lebih baik dariku.’ Demikianlah sikap yang seharusnya engkau perhatikan ketika engkau melihat yang lebih tua atau yang lebih muda darimu.” (Hilyatul Awliya’, hal. 226).

Dengan menerapkan pemikiran seperti ini, diharapkan kita bisa terhindar dari kesombongan yang mengundang celaka. Kita akan terus merasa kekurangan sehingga mendorong diri untuk terus berbuat baik di jalan Allah, termasuk menuntut dan menebar ilmu sebanyak-banyaknya.

Sumber:
https://kemenag.go.id/hikmah/kecerdasan-ali-bin-abi-thalib-dan-keutamaan-keutamaan-ilmu-LqWJS

Visits: 43

Maya Savira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *