Islam dan Perdamaian

Semua manusia patutnya menyadari bahwa agama adalah pedoman hidup sebaik-baiknya, baik itu Islam, Kristen, Hindu, Buddha dan lain-lainnya. Ia tidak hanya identitas semata untuk menunjukan bahwa seseorang beradab, namun lebihnya, dengan adanya agama, maka manusia hidup dalam batasan-batasan yang membedakan kemuliaannya dengan makhluk Tuhan yang lain.

Karena, jika manusia yang berakal ini tidak memiliki pedoman maka hidupnya akan sembarangan. Salah satunya setiap agama pasti mengajarkan tentang cinta kasih terhadap sesama. Jika ada agama yang menyerukan kebencian maka perlu dipertanyakan apakah benar itu adalah agama. Sebagaimana dituliskan di dalam kitab suci berbagai agama.

1. Islam (Al-Qur’an)
Artinya: “(Akan tetapi) jika mereka condong pada perdamaian, condonglah engkau (Nabi Muhammad) padanya dan bertakwallah kepada Allah. Sesungguhnya hanya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal : 61)

2. Kristen (Injil)
Artinya: “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak akan seorangpun akan melihat Tuhan.” (Ibrani 12:14)

3. Hindu (Veda)
Artinya: “Semoga kami memiliki kerukunan yang sama dengan orang-orang yang dikenal dengan akrab, semoga kami memiliki kerukunan yang sama dengan orang-orang asing, semoga engkau memberkati kami dengan keserasian (kerukunan dan ).” (Atharvaveda, V11.52.1)

4. Buddha (Tripitaka)
Artinya: “Di dunia ini kebencian belum pernah berakhir jika dibalas dengan membenci, tetapi kebencian akan berakhir kalau dibalas dengan cinta kasih. Ini adalah hukum kekal abadi.” (Dhammapada ayat 5)

Banyak sekali yang membangun narasi bahwa banyak kebencian di dalam peperangan dilatarbelakangi oleh agama dan menabrakkan satu sama lain dengan anggapan bahwa salah satu agama lebih baik dibanding agama yang lain. Sehingga, tidak jarang, hal ini mengundang pihak-pihak di luar peperangan untuk beropini dan memperluas isu perang yang dilatarbelakangi agama.

Tak jarang isu ini pun menyusup hingga di kalangan masyarakat dan membangun pandangan yang salah tentang suatu agama. Padahal, jika menengok kepada setiap kitab-kitab agama, pastilah ditemukan anjuran berkenaan memelihara perdamaian. Oleh sebab itu seharusnya, setiap individu mengkritisi perihal ini, bahwa yang mengajarkan kebencian bukanlah agama melainkan individu yang mengatasnamakan agama.

Khususnya agama Islam, kita mengenal Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin yang maksudnya adalah bahwa karunia Allah SWT bersifat universal tidak terkotak-kotakan pada suatu agama, baik itu kaum, negeri bahkan zaman. Ini bisa menyangkal persepsi bahwa umat Islam adalah umat terbaik dibanding umat lain karena anggapan karunia Allah Swt. hanya menghujani umat Islam saja dan mengabaikan umat yang lain.

Namun di sisi lain, makna rahmatan lil alamin ini idealnya tidak hanya tercantum secara kontekstual saja, tetapi tiap-tiap pribadi yang mengimani Islam pun harus mampu menyerap sifat-sifat Allah Swt. berkenaan cinta kasih dan memancarkannya kepada orang lain. Karena hal yang sangat berseberangan apabila secara lisan kita memproklamirkan diri sebagai umat yang meyakini agama Allah Swt., namun menyangkal sifat-sifat Allah Swt. yang penuh cinta kasih

Kita harus menjadi lapisan pertama yang menyerukan perdamaian apabila ditemukan perpecahan. Kita harus menjadi yang terkeras dalam menggaungkan cinta kasih apabila kedamaian mulai terusik. Sebagaimana disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s.:

“Segeralah berdamai antara satu sama lain, dan maafkanlah kesalahan-kesalahan saudaramu. Sebab, jahatlah orang yang tidak sudi berdamai dengan saudaranya. la akan diputuskan perhubungannya, sebab ia menanam benih perpecahan. Tinggalkanlah keinginan hawa nafsumu dalam keadaan apapun, dan lenyapkanlah ketegangan antara satu dengan yang lain.”

Visits: 39

Renna Aisyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *