Kenangan Pertemuan dengan Mln. Mahmud Ahmad Cheema Syahib dan Sembuhnya Penyakitku

Semasa usiaku masih muda, saat itu aku masih bekerja di sebuah kantor notaris di Jakarta dan menjadi seorang karyawati. Aku tinggal di ibu kota seorang diri dan berusaha mandiri menjadi anak kosan. Alhamdulillah kantor tempat ku bekerja milik anggota Jemaat Ahmadiyah, sehingga aku masih dapat mengikuti segala kegiatan Jemaat. 

Di antaranya mengikuti lomba pidato dan menjadi perwakilan wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya pada acara Ijtima Nasional di Kampus Mubarak-Kemang pada tahun 1996, dan Alhamdulillah meraih juara ke 1. Selain itu aku juga masih dapat mengikuti acara Jalsah salanah.

Seiring waktu berjalan, tak terasa 1 tahun sudah aku bekerja di kantor tersebut. Karena rutinitas pekerjaan yang melelahkan, suatu hari kondisi badanku terasa sakit dan tidak fit. Akhirnya kuperiksakan kondisi kesehatan ke sebuah  rumah sakit di Jakarta. Setelah diperiksa oleh dokter spesialis THT, aku dinyatakan mengalami sakit sinusitis kronis dan ada kebengkokan tulang hidung. Mungkin hal ini terjadi disebabkan pada saat usia balita aku pernah mengalami tenggelam di sebuah sungai yang sangat besar.

Aku mengalami kebingungan karena dokter menyarankan agar segera dilakukan tindakan operasi karena cairan di hidung tersebut dapat berpengaruh ke otak. Saat itu dokter juga mengabarkan soal biaya operasi yang cukup besar. Tentu saja Aku merasa khawatir akan kondisi kesehatan yang sedang dialami saat itu. Hanya pada Allah SWT aku berserah diri dan memohon pertolongan supaya diberikan kesehatan dan petunjuk jalan untuk kesembuhan.

Aku juga tidak mau memberikan kabar atas kondisi kesehatanku kepada Ibu yang tinggal di Cianjur dan Ayah yang sedang bertugas menjadi seorang mubaligh di daerah Wanasalam-Banten. Karena pada saat itu di tempat tugas Ayah sedang terjadi provokasi dari ustadz pimpinan pesantren sekitar rumah misi yang sangat membenci Ahmadiyah. Karena itulah aku tidak mau membuat khawatir Ayah atas kondisi kesehatan yang sedang aku alami.

Pada suatu malam, sehabis melaksanakan shalat Isya, aku terus memanjatkan doa, semoga Allah SWT memberikan pertolongan dan kesembuhan atas penyakit yang sedang aku derita. Di saat tidur, aku bermimpi mendengar seseorang berbicara, tetapi wujudnya tidak terlihat. “Datanglah kamu ke Bogor!” Lalu nampak di pandangan mataku sebuah gedung putih, yaitu Masjid An-Nashir Parung. Akhirnya aku bangun dari tidur dan mengingat mimpi yang aku alami saat tidur tadi malam.

Keesokan harinya, kebetulan hari minggu dan kantor lIbur. Aku berniat ingin datang ke Masjid An-Nashir di Kampus Mubarak, Parung-Bogor. Setelah satu jam perjalanan dari Tanah Baru, Depok, sampailah aku di Kampus Mubarak. Saat itu aku tidak tahu harus ketemu siapa, karena aku hanya mengikuti kata hatiku dan petunjuk mimpiku yang dialami semalam.

Setelah masuk ke area masjid, aku sempat terdiam di depan pintu, bingung harus ketemu siapa untuk mencurahkan dan meminta solusi atas kondisiku saat itu. Namun, Masya Allah! Tiba-tiba ada seseorang yang datang ke arahku dari dalam masjid sambil tersenyum dan dengan sorotan mata yang tajam dan penuh kharisma. Beliau adalah Bapak Raisut Tabligh, Bapak Mln. Mahmud Ahmad Cheema Syahib. Aku mengenalnya, karena pada waktu Ayahku masih bertugas di Cianjur, beliau selalu memperlihatkan foto Bapak Raisut Tabligh kepadaku.

Saat itu aku langsung mengucapkan salam kepada beliau sambil terharu, karena dapat langsung bertemu dengan bapak Mln. Mahmud Ahmad Cheema, Sy. Dengan tersenyum beliau menjawab salamku dan menanyakan mau bertemu dengan siapa. Aku pun menjawab, “Ingin bertemu dengan siapa saja yang dapat memberikan solusi atas kondisi kesehatan yang sedang saya alami, Tuan,” jawabku.

Akhirnya beliau mengajak aku masuk ke dalam ruangan kantor kerjanya. Tentu saja aku bahagia dan tidak menyangka akan bertemu langsung dengan Bapak Raisut Tabligh. Sesampainya di ruang kerja beliau, aku dipersilahkan duduk oleh Bapak Mln. Mahmud Ahmad Cheema, Sy. Dan beliau pun menanyakan, “Apa yang akan kamu sampaikan kepada saya?” tanyanya.

Akupun menyampaikan kondisi kesehatan yang sedang aku alami. “Begini, Tuan. Saya sudah beberapa kali berobat ke rumah sakit dan ke spesialis dokter THT. Dokter mendiagnosa bahwa saya mengidap sakit sinusitis kronis dan harus segera di operasi. Yang menjadi kekhawatiran pada saat ini, saya belum siap mengenai biaya untuk operasi tersebut, karena sangat besar dan saya pun tidak mau mengajukan ke pihak kantor, karena masih baru bekerja,” jawabku.

Dan beliau pun bertanya, “Apakah orang tuamu tahu kondisimu saat ini?” tanya beliau. “Tidak, Tuan. Saya tidak memberitahukan kepada Ayah saya yang sedang bertugas menjadi seorang mubaligh di daerah Wanasalam-Banten. Karena di tempat Ayah bertugas, situasinya sedang tidak baik. Khawatirnya nanti Ayah saya menjadi tidak fokus dalam melaksanakan tugasnya di tempat tersebut, karena memikirkan kondisi kesehatan saya saat ini,” jawabku. “Ohhh…,” begitu kata beliau.

Akhirnya beliau pun mengambil selembar kertas putih dan satu buah alat tulis . Lalu beliau menulis di atas kertas tersebut. Setelah selesai menulis beliau menyampaikan kepada saya, “Kamu tidak usah memberitahukan kondisi kesehatanmu saat ini kepada Ayahmu. Kamu baca saja doa-doa yang sudah saya tuliskan dan tolong kamu baca setelah kamu melaksanakan shalat,” kata beliau.

“Alhamdulillah. Baik, Tuan. Akan saya amalkan pembacaan doa-doa yang sudah Tuan tuliskan. Jazakumullah atas bantuan dan solusi yang sudah Tuan berikan kepada saya. Dan saya mohon doanya, mudah-mudahan Allah SWT memberikan kesembuhan atas penyakit yang sedang saya alami.” Beliau pun langsung mengamini doa saya. Dengan penuh rasa terharu dan bahagia, akhirnya saya pun berpamitan kepada beliau dan mengucapkan salam.

Setiba di rumah, waktu itu pas waktunya shalat Maghrib. Setelah melaksanakan shalat, aku pun segera mengambil kertas yang diberikan oleh Bapak Mln. Mahmud Ahmad Cheema, Sy. Dan aku membukanya. Di situ beliau menuliskan beberapa doa yang harus aku baca setiap selesai shalat, di antaranya:

– Surat Al-Fatihah

– Sholawat 33 x

– Istighfar 33x

– Surat terakhir Al-Baqarah

– Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas

Tiba saat tidur malam, aku pun bermimpi kembali ada suara yang menyuruhku, “Baca surat Al-Kautsar.” Suara tersebut sangat jelas terdengar di telingaku, tapi aku tidak melihat siapa sosok orangnya. Aku pun akhirnya terbangun dari tidur sambil mengucapkan Istighfar, aku mengingat kembali suara yang terdengar dalam mimpiku tadi. 

Akhirnya aku bergegas bangun dan mengambil air wudhu, lalu mengambil Al-Qur’an, lalu aku buka surat Al-Kautsar ayat 1-3 dan membaca artinya sebagai berikut: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”.

Keesokan harinya, akupun melaksanakan aktivitas bekerja di kantor dan menjadi rutinitas setiap hari. Tak disangka pada suatu hari,  waktu jam istirahat tiba, satpam memberitahukan kepadaku bahwa di luar ada Ayahku, katanya mau bertemu. Tentu saja aku bahagia, karena Ayah datang menengokku ke kantor dan akupun segera bergegas keluar menemui Ayah.

Beliau pun bertanya mengenai kabarku. Aku menjawab, “Alhamdulillah baik, Pak.” Kami pun mengobrol hal-hal yang lain dan tidak membahas kondisiku yang kronis dan harus segera di operasi, agar Ayah tidak merasa khawatir. Tapi pada saat itu, aku sampaikan kepada Ayah, bahwa aku saat tidur bermimpi mendengar suara yang menyuruhku membaca surat Al-Kautsar dan sudah dibaca artinya.

Lalu Ayah bertanya kepadaku, “Apakah kamu punya uang tabungan untuk membeli seekor kambing ?” tanya Ayahku. Lalu aku jawab, “Alhamdulillah ada, kalau untuk membeli seekor kambing,” jawabku. “Kalau begitu nanti kamu serahkan uangnya, Insya Allah akan Ayah belikan seekor kambing untuk berkorban atas namamu di cabang Cikalongkulon-Cianjur.” Dan aku pun menyanggupi usulan dari Ayah.

Tak sengaja aku pun keceplosan dan bertanya kepada Ayah, “Apakah Ayah tahu obat sinusitis yang bagus?” tanyaku, tapi aku tidak menyampaikan masalah harus segera dioperasi. “Coba nanti Ayah cari dulu dalam buku pengobatan,” jawab Ayah. Tak lama kemudian setelah makan siang, Ayah pun berpamitan pulang ke tempat tugasnya di Wanasalam-Banten dan aku mengantar Ayah sampai ke mobil.

Mungkin ada jarak waktu 2 minggu, setelah Ayah menengok aku di kantor, beliau menulis surat kepadaku, bahwa Ayah menemukan sepotong kertas koran yang sudah lusuh di jalan. Lalu Ayah mengambilnya dan pas dilihat ada tulisan obat sinusitis antara lain: ketumbar disangrai sampai harum, lalu diblender seperti kopi. Setelah itu diseduh dengan air hangat, lalu diberi madu dan perasan jeruk nipis. 

“Coba kamu minum obat tersebut. Insya Allah atas pertolongan Allah SWT, penyakitmu bisa sembuh,” kata Ayah. Akhirnya aku coba obat tersebut diminum selama satu minggu dan sambil mengamalkan doa-doa yang diberikan oleh Bapak Mln. Mahmud Ahmad Cheema, Sy.

Tiba waktunya aku cek kesehatan ke rumah sakit untuk berobat jalan. Aku duduk di kursi tunggu dan terlihat beberapa pasien yang menderita sakit sinusitis sama sepertiku. Akhirnya giliran nomorku dipanggil oleh perawat untuk masuk ke ruang periksa. Aku bertemu dr.Toha, spesialis THT yang sudah biasa memeriksaku dari awal, jadi beliau sudah mengetahui riwayat penyakitku.

Pada saat aku diperiksa, Masya Allah keajaiban pun terjadi. Aku lihat beberapa kali dokter Toha memeriksa keadaan rongga hidungku yang biasanya penuh cairan, karena sakit sinusitis dan sudah kronis, harus segera di operasi. Tapi hari itu dr.Toha merasa heran. Beliau bertanya kepadaku, “Mbak minum obat apa? Kok cairannya sudah tidak ada di rongga hidungnya? Sudah bersih dan kering,” tanya beliau.

Aku jawab, “alhamdulillah mungkin pertolongan Allah SWT, Dok. Saya hanya minum resep obat yang dikasih Ayah saya,” jawabku. “Coba, untuk memastikan sekali lagi, akan saya foto rontgen hidungnya,” kata dokter Toha. Dan Masya Allah hasil foto rontgen pun menunjukan bahwa hidungku sudah bersih tidak tersumbat oleh cairan. Lalu dokter Toha mengucapkan selamat dan mulai saat ini tidak usah berobat lagi. Pakai saja uang gajinya untuk beli makanan yang banyak, kata dokter bercanda. Aku segera mengucapkan, “Alhamdulillahi Robbil alamin.”

Allah Ta’ala selalu punya jalan yang jauh di luar logika manusia. Aku sama sekali tak bisa menyangka, juga tak mampu menalar bagaimana Allah Ta’ala memintai rantai proses kesembuhanku. Tapi janji-Nya itu pasti, Dia mengabulkan doa siapapun yang meminta, dengan cara-Nya sendiri.

Itulah sekelumit kisah yang indah penuh berkah bertemu dengan Bapak Mln. Mahmud Ahmad Cheema, Sy. Dan sekarang beliau sudah menghadap ke hadirat Allah SWT. Semoga almarhum ditempatkan dalam surga keridhoan-Nya. Dan pengalaman bertemu dengan beliau menjadi kenangan yang akan selalu teringat di benakku sampai akhir hayatku. Semoga Segala pengkhidmatan beliau selama hidupnya mendapatkan pahala yang terbaik di sisi Allah SWT. Aamiin YRA.

Visits: 391

Dede Nurhasanah

4 thoughts on “Kenangan Pertemuan dengan Mln. Mahmud Ahmad Cheema Syahib dan Sembuhnya Penyakitku

  1. MasyaaAllah.. Kegembiraan yg tertinggi bukan sekedar sembuh dari penyakitnya, namun pertemuan dengan sang khaliq adalah merupakan bukti bahwa jalan yg ditempuh sudah benar. InsyaaAllah.
    Berarti kenal sama mbak Rukillah ya yang dari Semarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *