JANGAN ULANGI LUKA ITU : KETIKA KITA MENGUBAH LUKA MENJADI PELAJARAN BUKAN WARISAN

Sebagian luka tidak tampak. Ia tidak memar, tidak berdarah, tetapi membekas di dalam jiwa. Dan seringkali, luka itu berasal dari lidah kita sendiri.

Ada seorang anak yang tumbuh dalam sunyi, bukan karena tak ada suara, tetapi karena terlalu banyak suara yang menyakitkan. Dan bertahun-tahun kemudian, luka-luka itu menjelma jadi tangisan dalam sujud dan sesak dalam dada.

Dari kisah itu kita belajar bahwa satu kalimat bisa menghancurkan satu jiwa. Kadang, yang paling menyakitkan bukan karena orang yang bersikap jahat, tetapi karena orang yang seharusnya melindungi.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an,

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan menimbulkan perselisihan di antara mereka.” [1]

Berhati-hatilah bahwa fitnah, ejekan dan diskriminasi itu bukan sekadar dosa sosial. Melainkan dosa kepada Allah karena setiap manusia adalah ciptaan-Nya. Dan menyakiti ciptaan-Nya berarti menantang kasih-Nya.

Hadhrat Rasulullah saw. bersabda,

“Seorang Muslim adalah orang yang mana orang lain selamat dari lisan dan tangannya.” [2]

Jika dulu aku pernah disakiti, maka hari ini aku memilih untuk tidak menyakiti. Jika dulu aku pernah dilupakan, hari ini aku memilih untuk menjadi pelipur. Bukan karena aku lebih suci, tetapi karena aku tahu rasanya menjadi korban.

Hadhrat Masih Mau’ud as. Pernah bersabda,

“Manusia sejati adalah ia yang menjaga lidah dan hatinya dari menyakiti sesama makhluk Allah .” [3]

Hadhrat Khalifatul Masih V atba. pun mengingatkan,

“Jadilah cermin akhlak Rasulullah saw., yang tidak pernah menyakiti, bahkan terhadap mereka yang membencinya.” [4]

Maka, mencintai manusia tanpa memilih-milih siapa, itulah keteladanan Nabi. Tidak ada ruang bagi kebencian, jika kasih sudah tertanam dalam hati. Bahkan kepada yang berbeda, yang menjauh, yang mencaci, balasannya adalah kebaikan.

Setiap kita punya masa lalu. Tapi masa depan bisa kita bentuk, dengan pilihan untuk mencintai, bukan mencaci. Dengan doa, bukan fitnah. Dengan pengertian, bukan penghakiman.

Karena dunia ini sudah menjadi tempat ujian bagi semua manusia. Maka janganlah kita tambah kesulitan merekandengan menjadi luka.

Setiap hari adalah kesempatan. Kesempatan untuk memilih, antara menjadi luka atau menjadi pelipur lara. Dunia ini tidak butuh lebih banyak ucapan-ucapan yang menyakitkan. Dunia butuh lebih banyak hati yang bisa memahami dan penuh rasa kasih.

Mari mulai dari diri sendiri dengan ucapan yang lembut, sikap yang sopan, dan doa yang tulus untuk sesama. Karena kadang satu kebaikan kecil itu bisa menyelamatkan satu jiwa yang nyaris hilang harapan.

Semoga kita tidak menjadi sebab air mata orang lain tetapi menjadi alasan bagi mereka tersenyum, dan tetap bertahan. Aamiin.

Referensi :

[1] QS. Al-Isra: 54

[2] Sahih al-Bukhari, Hadis no. 10 dan Sahih Muslim, Hadis no. 63

[3] Aain-e-Kamalat-e-Islam, halaman 32, 1891

[4] Pidato Hadhrat Khalifatul Masih V atba, pada Jalsah Salanah 2018 di  UK

Views: 101

1 thought on “JANGAN ULANGI LUKA ITU : KETIKA KITA MENGUBAH LUKA MENJADI PELAJARAN BUKAN WARISAN

  1. Masya Allah! Sebuah tulisan refleksi yang begitu indah namun menusuk jiwa, memberikan kesadaran pentingnya menjaga kata dan sikap, menahan diri agar jangan sampai melukai hati siapa saja. Mubarak, sebuah tulisan indah yang menggugah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *