
Memaafkan Kunci Kebahagiaan
Kelemahan sifat manusia salah satunya diibaratkan seperti cermin, apa yang ia lihat maka itulah yang terpantulkan. Jika ia melihat ke arah kegelapan maka gelaplah yang kita lihat pada cermin tersebut.
Seperti ketika seseorang menyakiti kita maka dari alam bawah sadar kita biasanya mendorong untuk melakukan hal yang sama. Setidaknya mencoba agar si pemberi luka bisa merasakan kesakitan yang kita rasakan, agar kita tidak merasakan keterpurukan sendiri. Karena itulah kita menjadi cermin yang memantulkan apa yang kita lihat atau dengan kata lain “dendam”.
Tentunya hal ini bukanlah sesuatu yang baik untuk kita pelihara dalam diri kita, karena tidak ada kebaikan dibalik sifat dendam tersebut. Cermin tidak akan mampu memantulkan suatu objek apabila ia telah terpecah belah menjadi butiran, maka manusia harus mencari apa yang mampu memecah keburukan itu, dan memaafkan mampu menjadi palu untuk menghancurkan cermin tersebut.
Dengan memaafkan, segala hal buruk yang diarahkan kepada kita tidak akan memancing sifat buruk kita. Namun memaafkan bukanlah hal yang mudah, sebagaimana yang disampaikan oleh Robert Enright dalam bukunya yang berjudul Forgiveness Is a Choice (2001) bahwa memaafkan tidak mudah dan instan. Ada 4 tahap yang manusia tempuh untuk memaafkan:
1. Uncovering Anger (Menemukan akar amarah), kita harus berfikir jernih terlebih dahulu tentang apa yang sebenarnya membuat kita marah.
2. Decide to Forgive (Memutuskan untuk memaafkan), pada tahap ini diperlukan akal sehat karena adanya perdebatan ego seperti harga diri, dendam, perasaan kesal dll. Dan kita perlu menerima terlebih dahulu perasaan-perasaan tersebut.
3. Work on Forgiveness (Berproses untuk memaafkan), membangun pandangan dan melihat lewat perpektif ban tentang asal muasal mengapa seseorang bersikap negatif kepada kita.
4. Release from Emotional Prison (Membebaskan diri dari penjara amarah), dengan menahan amarah dan ego maka kita tidak akan bangkit dan justru terpuruk dalam titik tersebut. Amarah dan ego yang dipelihara justru akan semakin menggerogoti hati dan pikiran kita.
Memang memaafkan adalah perkara yang sulit, maka ganjarannya pun sangatlah besar sebagaimana yang Allah Swt. firmankan dalam dua ayat berikut ini:
“(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” [QS. Ali-Imran: 134]
“Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan (rezeki) di antara kamu bersumpah (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(-nya), orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. An-Nur: 22]
Ayat pertama menjelaskan bahwa menahan amarah dan memaafkan mampu mengantarkan kita kepada rasa cinta Allah Swt. Siapa yang tidak ingin dicintai oleh Allah Swt.? Karena pastilah ia akan diperkenankan menetap di surga.
Lalu pada ayat kedua tersirat bahwa Allah Swt. benar-benar mengetahui tabiat manusia yang perhitungan terhadap apapun. Terlebih, memaafkan bukanlah perkara mudah yang bisa manusia lakukan dengan cuma-cuma.
Sehingga Allah Swt. menjanjikan pengampunan bagi mereka yang memaafkan sesama. Diampuninya dosa-dosa kita tentunya adalah hal luar biasa, maka memaafkan sesama mampu memancing rasa cinta dan pengampunan milik Allah Swt.
Bahkan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. pun mengecam siapapun yang tidak memiliki sifat pemaaf dalam dirinya, “Di antara kamu sekalian yang paling mulia adalah ia yang paling suka memaafkan kesalahan saudaranya, dan malanglah ia yang berkeras kepala dan tidak bersedia memaafkan kesalahan orang lain, orang yang semacam itu bukanlah bagian dari Jemaatku.”
Views: 104
❤❤❤
💖