
Menyingkirkan Emosi dalam Mengambil Keputusan
Dalam kehidupan, manusia kerap kali dihadapkan dengan berbagai pilihan yang terkadang amat sulit untuk dipilih. Banyak pertimbangan-pertimbangan yang tentunya menjadi sebuah kesulitan. Pada akhirnya manusia dituntut untuk bisa mengambil keputusan yang terbaik.
Dalam mengambil keputusan, kita harus selalu berhati-hati. Jangan sekali-kali kita mengambil keputusan ketika keadaan emosi sedang tidak karuan, sedih, atau marah. Mengapa? Karena dalam keadaan demikian, manusia sulit berpikir dan cenderung mengambil keputusan tidak berdasarkan logika atau akal sehat. Melainkan hanya berdasarkan emosi sesaat.
Seperti dalam kisah berikut ini, seorang anak yang telah menginjak masa remaja, memiliki pergaulan serta pola pikir yang sangat bertentangan dengan ibunya. Bahkan, apa yang dilakukan serta pikiran ibunya merupakan suatu hal yang terkesan kolot atau ketinggalan zaman menurut anak remaja tersebut.
Suatu ketika, sang ibu menegur dan menasehatinya supaya bisa berperilaku baik serta berhati-hati dalam bergaul dengan teman-temannya. Namun anak remaja tersebut tidak terima dengan sikap ibunya yang seolah mengatur segala hal yang menurutnya dalam batas wajar.
Anak remaja tersebut meluapkan amarahnya dengan membentak sang ibu, dan dengan perasaan emosi serta marah anak tersebut pun memutuskan untuk pergi dari rumah. Tanpa izin dan tanpa membawa bekal apapun si anak meninggalkan rumah, dengan perasaan marah.
Beberapa waktu kemudian, si anak mulai kebingungan dengan apa yang akan ia lakukan dan ke mana ia akan pergi. Di tengah perjalanan, lapar dan haus mulai dirasakan namun ia sama sekali tidak memiliki uang untuk sebatas membeli air mineral.
Di persimpangan jalan, si anak melihat pedagang kaki lima penjual mie ayam, ia memegang perutnya yang dirasa semakin lapar. Tanpa diduga di balik gerobak mie ayam, seorang ibu memanggilnya, yang ternyata adalah pemilik mie ayam tersebut.
“Kamu kenapa, Nak? Wajahmu terlihat pucat sekali?” tanya penjual mie ayam. “Saya lapar, Bu,” jawabnya,
Tanpa menunggu lama, Ibu tersebut membuatkan mie ayam untuknya yang langsung di sodorkan dan menemaninya makan sampai selesai.
Setelah selesai makan, si Ibu kembali bertanya, “Kamu dari mana dan hendak kemana?”
“Saya tidak tahu, Bu,” jawabnya terlihat sangat bingung,
Melihat kondisi si anak, tanpa banyak bertanya lagi si Ibu pun sementara waktu membawanya ke rumahnya yang kebetulan tidak jauh dari lokasi tempatnya berdagang.
Sesampainya di rumah, setelah beberapa saat melihatnya sudah agak tenang. Si ibu tersebut pun kembali bertanya, “Nak, maaf ya, Ibu mau tanya lagi. Sebenarnya kamu kenapa? Ibu lihat sepertinya kamu sedang kebingungan,”
“Iya, Bu. Saya minggat dari rumah orang tua saya,” jawabnya.
“Kenapa?” tanya si ibu heran.
“Saya bertengkar dengan ibu saya, karena ibu saya terlalu banyak aturan. Setiap apa yang saya lakukan seolah selalu salah,” jawabnya masih dengan nada marah, “Lebih baik saya pergi saja, supaya ibu sadar bahwa setiap aturan yang ibu saya berikan dan apa yang ibu lakukan kepada saya sangat keterlaluan.”
Mendengar penjelasannya, keadaan seketika hening. Tiba-tiba, terlontar ucapan dari si anak remaja. “Bu, terima kasih. Karena Ibu sudah baik terhadap saya. Saya tidak tahu akan ke mana kalau tidak bertemu dengan Ibu.”
Mendengar ucapan tersebut, si ibu bertanya, “Bagaimana dengan ibumu? Apakah pernah kamu mengucapkan terimakasih? Kita baru kali ini bertemu dan kamu menganggap saya orang baik, bagaimana dengan kebaikan ibumu yang selama ini telah mengurusmu, menyayangimu, bahkan mengorbankan segalanya untukmu. Andai saja kamu tahu bahwa apa yang telah dilakukan ibumu terhadapmu hanyalah untuk kebaikanmu, yang justru malah membuatmu membencinya serta seakan menurutmu itu merupakan kesalahan dari ibumu.”
Anak remaja tersebut tidak bisa berkata, sesak terasa mengingat apa yang telah ia katakan dan perbuat kepada ibunya dalam keadaan marah.
Ia menangis, menyadari kesalahannya dan tak sepantasnya ia berbuat demikian kepada ibunya. Dia ingin pulang, meminta maaf dan segera memeluk ibunya.
Keesokan harinya, si anak remaja diantar pulang ke rumahnya. Dengan tidak sabar ia seakan ingin berlari menuju halaman rumah. Namun, yang didapati, rumahnya telah penuh keramaian. Seketika langkahnya menjadi terasa berat. Dalam hatinya penuh tanya, “Apa gerangan yang terjadi?”
Banyak tatapan mata tertuju memandang wajahnya, ia pun segera berlari hendak masuk rumah. Setibanya di ambang pintu terlihat sesosok jasad yang telah ditutupi kain. Didekatinya tanpa memalingkan pandangan. Dan dengan ragu tangan si anak membuka kain penutup jasad tersebut.
Sosok ibu yang ingin dia peluk kini telah terbujur kaku di hadapannya. Seketika tangisnya pecah, “Bu, bangun! Maafkan aku, Bu! Aku pulang, Bu. Maafkan aku!” teriaknya.
Namun penyesalan kini tinggallah penyesalan. Ibunya terkena serangan jantung mengetahui anaknya telah pergi dari rumah dan semalaman tidak pulang. Dan kini si anak sadar dengan keputusannya ketika amarah merajainya. Ia seolah tidak berpikir panjang. Ia pun teringat janjinya kepada sang ibu yang telah ia ingkari yang tak akan pernah bisa lagi ia tepati, bahwa ia akan selalu bersama dan menjaga ibunya dalam keadaan apapun.
Dari cerita di atas, kita bisa ambil kesimpulan. Bahwa ketika dalam keadaan marah, kita seolah kehilangan kendali diri kita, kehilangan rasionalitas kita. Sehingga benar-benar dibutakan oleh amarah dan hanya ingin melampiaskannya. Oleh karena itu, ada nasihat supaya jangan memutuskan sesuatu ketika sedang marah, kerena besar kemungkinan akan menjadi suatu penyesalan.
Sebagaimana yang telah dinasihatkan oleh Hadhrat Ali bin Abi Thalib r.a., “Jangan membuat keputusan ketika sedang marah, jangan membuat janji sewaktu sedang gembira.”
Setelah jangan membuat keputusan ketika marah, mengapa jangan membuat janji sewaktu dalam keadaan hati gembira?
Sebab, seperti halnya dalam keadaan marah orang akan tanpa berpikir panjang. Begitupun dengan keadaan gembira, ia cenderung dengan perasaan hatinya. Maka janji yang diucapkan pada waktu tersebut biasanya hanya sekedar imbas dari rasa gembiranya. Namun ketika keadaan hati kian berubah maka besar kemungkinan janjinya hanya akan menjadi sebuah janji dan enggan untuk menepati.
Mengambil suatu keputusan dalam segala kondisi memang bukanlah hal mudah, namun setiap keputusan yang kita ambil akan dapat memberi pelajaran berharga dalam hidup kita. Sehingga kita pun bisa memahami langkah mana yang akan menentukan jalan kita di kemudian hari.
Semoga dengan petunjuk-Nya kita senantiasa terjaga dari sebuah keputusan dan perjanjian yang akan membawa kita kepada jurang penyesalan.
Views: 181