
Meraih Hidayah Melalui Mimpi
Bagi Ahmadi, menyampaikan kebenaran adalah kewajiban. Karena, Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mencampuradukkan kebenaran dengan kepalsuan, dan jangan pula kamu menyembunyikan kebenaran itu padahal kamu mengetahui.” [QS. Al-Baqarah: 43]
Dengan landasan itulah para Ahmadi begitu bersemangat melaksanakan dakwah atau tabligh, termasuk Bu Ismi. Beliau bertabligh dengan berjalan kaki menelusuri jalan-jalan mengikuti kehendak kaki melangkah. Tentu dengan iringan doa yang penuh haru biru memohon agar Ilahi Robbi menunjukkan di mana insan-insan yang hatinya bersih dan sedang mencari kebenaran di zaman ini.
Beliau menelusuri jalan setapak, melewati kebun-kebun sayuran yang menghijau dan keramaian pasar. Tanpa segan dan malu untuk selalu bertegur sapa kepada siapa saja yang berpapasan di jalan. Berhenti sejenak untuk menyampaikan amanat kebenaran di akhir zaman ini bahwa Imam Mahdi sudah datang.
Ada perasaan lega di hatinya manakala kewajiban tabligh tertunaikan, walaupun hidayah belum turun kepada mereka. Semuanya diserahkan kepada-Nya, Sang Maha Pemberi Petunjuk. Tentu tidak pernah terhenti untaian doa untuk mereka agar hatinya terbuka dan menerima kebenaran Imam Akhir Zaman.
Tanda-tanda pengabulan doa mulai terlihat. Allah Ta’ala tunjukkan siapa di antara hamba-Nya yang saat itu sedang merindukan datangnya kebenaran.
Suatu ketika, aku diberitahu oleh Ibu Ismi bahwa beliau berkenalan dengan seorang ibu yang sering lewat ke rumahnya. Ibu tersebut bernama Aisyah yang sangat ramah kalau disapa. Naluri tabligh Bu Ismi begitu menguat seakan sinyal-sinyal halus memberitahunya dengan firasat yang begitu meyakinkan hati.
“Bu Euis, hayuk kita silaturahmi ke rumah bu Aisyah! Ditunggu, yaa….” Alhamdulillah aku yang lemah ini dan masih baru tinggal di Cisarua mendapat karunia untuk selalu siap melangkah tabligh. Kunjungan demi kunjungan terus dilakukan kepada Ibu Aisyah. Respon beliau sangat baik dan mau mempelajari apa yang telah disampaikan.
Hingga suatu hari, Bu Aisyah bercerita bahwa ketika beliau pulang kampung, disampaikanlah tentang Ahmadiyah kepada kepada ibunya. Ibunya langsung mengatakan, “Selama ibu kamu masih hidup, kamu jangan coba coba masuk Ahmadiyah! Camkan itu!”
Namun rupanya, keyakinan dan hidayah Allah Ta’ala mulai meresap ke dalam hati sanubari Bu Aisyah. Suatu malam Bu Aisyah bermimpi bertemu dengan seseorang bersorban dan berbaju panjang memakai tongkat. Bu Aisyah tidak mengenal siapa sosok bersorban yang muncul dalam mimpinya. Beberapa malam kemudian Bu Aisyah bermimpi bertemu dengan ayahnya yang sudah wafat dan mengatakan bahwa sosok itulah yang akan mengobati kamu .
Setelah kami mendengar cerita mimpi tersebut, maka diperlihatkanlah kepada Bu Aisyah foto Hazrat Imam Mahdi a.s. yang sedang memegang tongkat. Dan beliau membenarkan bahwa itulah sosok yang ada dalam mimpi tersebut. Beliau mengatakannya sambil menangis di hadapan aku dan ibu Ismi saat berkunjung ke rumahnya.
Akhirnya, pada tanggal 3 November 2023, Bu Aisyah mengikrarkan baiatnya kepada Hz. Imam Mahdi a.s. dengan penuh keyakinan dan ketulusan. Alhamdulillah.
Views: 105