
Menggapai Ridha Allah dengan Jalur Takwa
Jarak hanya perihal jauhnya haluan yang ditempuh, perbedaan waktu yang jauh dan perasaan hati yang seringkali tak satu. Itu berarti sebagai makhluk yang hidup di muka bumi, tidak ada yang menjadi pembeda antara satu dengan lainnya. Namun, seringkali seseorang merasa derajatnya lebih tinggi, lebih mapan, dan lebih memiliki.
Islam sendiri mengagungkan kata setara. Tidak ada yang menjadi pembeda ras, suku, bahasa, budaya, dan lainnya. Begitu pun dengan gender, antara laki-laki dan perempuan, keduanya setara sebagai hamba Allah SWT. tanpa ada pembeda di dalamnya. Pembedanya hanya ketakwaan dari orang tersebut.
Seperti dalam sebuah hadits yang masyhur ada disebutkan, “Wahai, sekalian manusia! Tuhan kalian satu, dan bapak kalian satu. Ingat! Orang Arab tidak lebih mulia dibanding orang non-Arab, dan orang non-Arab tidak lebih mulia atas orang Arab. Tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, dan tidak ada kelebihan bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah, kecuali dengan ketakwaan.” [*]
Hadits tersebut seolah mengatakan bahwa siapa pun kamu adalah makhluk Allah, namun kamu akan jauh lebih berbeda dan lebih tinggi derajatnya jika kamu senantiasa menempatkan dirimu dalam jalan ketakwaan. Ketakwaan sendiri bermakna bahwa kita harus senantiasa taat. Sering kali sebagai hamba Allah Ta’ala, kita larut dalam nikmatnya dunia, melupakan segala yang dapat membuat kita dekat dalam jalur takwa atau ridha Allah SWT.
Lalu, bagaimana agar kita dapat menjadi seseorang yang senantiasa memiliki takwa?
Semua bermula dari diri kita sendiri, dengan salah satunya harus bisa mengendalikan diri dari keinginan. Sering kali kita menginginkan sesuatu yang tidak kita butuhkan, hingga akhirnya hanya menjadi pajangan dan terbuang, terutama berkeinginan pada sesuatu yang tidak halal bagi Allah. Berusahalah untuk menjauhi yang haram dan terus mencari keridhaan Allah SWT.
Selanjutnya berusaha meningkatkan sikap dermawan. Memberi bukan perihal siapa dan apa yang kita miliki, tapi keridhaan atas cinta dan pengkhidmatan kita kepada Allah SWT. Hal-hal kecil lainnya yaitu meninggalkan segala apa yang dilarang-Nya dan melaksanakan perintah-Nya, melaksanakan salat 5 waktu, sunah, pengorbanan, dan juga sering introspeksi diri untuk sebuah kemajuan diri dan perbaikan diri yang senantiasa diinginkan Allah Ta’ala.
Semoga setiap langkah kita menuju takwa didasarkan pada ketulusan. Karena pada akhirnya, hanya ketulusan kepada-Nya sajalah yang mampu menarik ridho dan berkah dari-Nya.
Referensi:
[*] HR. Imam Ahmad
Views: 84