Menghidupkan Kembali Ruh Cinta Kasih dalam Islam

Di tengah maraknya penggunaan agama sebagai senjata untuk menuduh, menghakimi, dan memecah belah, kita menyaksikan fenomena yang memprihatinkan. Tak sedikit kelompok yang dengan mudah menuding orang lain sesat, kafir, atau tidak islami hanya karena perbedaan pandangan. Realitas ini tercermin dari peristiwa yang menimpa salah satu komunitas muslim di Indonesia, yang mengalami ujaran kebencian, pengusiran, bahkan perusakan tempat ibadah. Di kesempatan lain, hendak mengadakan pertemuan tahunan, mereka dilarang dan dibubarkan secara paksa oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam. Sebuah ironi di mana sesama muslim justru saling melukai.

Aksi-aksi seperti ini, sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam sejati. Lebih memilukan lagi dakwah yang seharusnya menyebarkan rahmat/ cinta kasih justru kehilangan ruhnya karena amarah dan pemikiran yang sempit.

Dalam situasi seperti inilah, perlu menghidupkan kembali ruh Islam yang sejati: mengajarkan cinta, bukan kebencian. Sebab, Islam pada hakikatnya mengajarkan umatnya untuk menebarkan cinta, kasih sayang, dan belas kasih dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh KH. Ahmad Dahlan, Cinta kasih adalah inti Islam. Tanpa cinta, Islam menjadi kering dan kehilangan ruhnya.

Pesan tersebut mengingatkan kita bahwa Islam bukan sekadar kumpulan aturan, ritual, dan larangan yang kaku. Sebagaimana dengan jasad membutuhkan ruh untuk hidup, maka ibadah memerlukan cinta kasih untuk menghidupkannya. Tanpanya, seluruh ritual keagamaan bagai cangkang kosong, lengkap secara bentuk, namun hampa secara makna.

Kaitannya yang paling konkret dalam praktik ibadah kita sehari-hari, seperti salat, puasa, zakat, dan haji. Semua pada dasarnya adalah manifestasi dari cinta kasih kepada Allah dan sesama makhluk-Nya. Seperti ibadah salat, gerakan dan bacaan dalam salat adalah bentuk fisiknya, namun ruhnya adalah komunikasi penuh cinta dan kerinduan kepada Allah Taala. Salat yang dijiwai cinta akan mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar.

Sebagaimana firman-Nya:

“… Sesungguhnya salat mencegah dari kekejian dan kemungkaran; dan sesungguhnya mengingat Allah itu adalah kebaikan yang paling besar dan Allah mengetahui yang kamu kerjakan.”

(QS. Al-Ankabut: 46)

Mustahil seseorang yang merasa dekat dengan Sang Maha Pengasih akan tega menyakiti sesama ciptaan-Nya. Sebaliknya, salat tanpa ruh cinta bisa berubah menjadi rutinitas kosong yang justru dapat melahirkan sikap sombong dan merasa lebih suci dari yang lain. Janganlah kita hanya sibuk membangun citra keislaman yang menonjolkan kulitnya, secara lahir tampak sempurna, tetapi di dalamnya kosong dari kehangatan cinta kepada Allah dan sesama.

Cinta kasih (Ar-Rahmah) adalah sifat Allah yang paling mendasar. setiap tindakan penting seorang Muslim, dimulai dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”Kalimat ini bukan sekadar formalitas atau pembuka kata. Dua nama Allah, “Ar-Rahman”(Maha Pengasih) dan “Ar-Rahim”(Maha Penyayang), ini adalah sebuah pernyataan dan pengingat bahwa segala aktivitas harus dijiwai oleh kasih sayang. Mulai dari yang paling agung seperti salat hingga yang paling sederhana seperti makan.

Di dalam Al-Quran, Allah Swt. telah menggambarkan Rahmat dan Kasih Sayang-Nya yang menyeluruh, tetapi di samping itu, Dia juga telah memerintahkan umat manusia untuk memenuhi hak-hak satu sama lain, setiap saat. Karena alasan inilah Allah mengutus Nabi Suci Muhammad saw. sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia. Beliau-lah yang telah menanamkan dan menumbuhkan kecintaan dan sikap hormat di dalam diri kepada semua umat manusia di dunia, tanpa memandang agama atau latar belakang.

Rasulullah saw. adalah teladan sempurna dalam memanifestasikan cinta kasih. Bahkan kepada non-muslim yang memusuhinya. Sebagai contoh, ketika Rasulullah saw. berada di Madinah dan mendirikan suatu pemerintahan, terdapat beberapa non-muslim yang berupaya meracuni masyarakat dengan menciptakan kekacauan. Namun, walaupun mereka cenderung pada kejahatan Rasulullah saw. tetap memperlakukan mereka dengan kebaikan dan kasih sayang. Inilah wujud nyata dari misi kenabiannya sebagai ‘rahmatan lil ‘alamin,’rahmat bagi seluruh alam.

Tantangan terbesar umat Islam hari ini bukanlah pada bagaimana menegakkan bentuk-bentuk lahiriah agama, melainkan pada bagaimana menghidupkan kembali ruh cinta kasih di dalamnya. Mari kita menjadi agen-agen pembawa rahmat yang menyejukkan dan mempersatukan dalam kehidupan yang penuh dinamika ini, melampaui sekadar ketaatan ritual menuju penghayatan inti Islam sejati.

Referensi:

1. Kitab Suci Al-Qur’an, Terjemah dan Tafair Singkat, Neratja Press, 2023

2. INTI AJARAN ISLAM Bagian Pertama

Ekstrak dari Tulisan, Pidato, Pengumuman dan Wacana Masih Mauud dan Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s.

Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Neratja Press, 2014

3. Kasih Sayang Rasulullah (saw) bagi Semua Orang https://ahmadiyah.id/kasih-sayang-rasulullah-bagi-semua-orang

4. Islam Rahmatan lil Alamin https://ahmadiyah.id/islam-rahmatan-lil-alamin.html

Views: 143

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *