KETENANGAN HATI TIDAK AKAN DATANG SENDIRI

Di dunia ini, kita akan bertemu dengan berbagai peristiwa yang akan membuat kita bahagia maupun sedih, yang keduanya merupakan ujian dari Allah Ta’ala. Dalam menyikapi dua keadaan tersebut, berbagai reaksi pun timbul. Ada yang merasa tidak puas, gelisah, menjalani hidup dengan beban pikiran yang berat, berekspektasi terlalu tinggi, dan banyak sekali yang merasa minder.

Rasa minder itu datang seperti kabut, menyelimuti tanpa kita sadari. Ia muncul saat kita mulai membandingkan diri, menatap hidup orang lain, dan merasa hidup kita tertinggal jauh. Hal ini tentunya akan membuat kita sulit menemukan ketenangan dan kebahagiaan.

Allah menciptakan semua makhluk dengan takdirnya masing-masing. Semua memiliki peran dan makna. Semut kecil saja memiliki fungsi untuk keseimbangan semesta. Bagaimana mungkin manusia diciptakan Allah untuk menjadi makhluk yang gagal dan tidak berdaya?

Hendaklah kita fokus pada semua nikmat dan karunia yang telah kita miliki. Jalankan peran kita di dunia ini dengan penuh rasa syukur. Dunia butuh perbedaan untuk tetap seimbang. Bayangkan jika semua orang hanya pandai bicara, siapa yang akan mendengarkan? Jika semua orang menjadi penjual, siapa yang akan membeli? Keindahan hidup justru lahir dari keberagaman peran yang dimainkan oleh setiap jiwa.

Allah berfirman: “Dan janganlah kamu merasa lemah, jangan pula bersedih, dan kamu pasti unggul jika kamu orang-orang yang beriman.” [1]

Kita harus belajar untuk menerima kenyataan dengan lapang dada tanpa kehilangan semangat untuk terus berusaha. Sikap ini akan membuat kita lebih tangguh dalam menghadapi kehidupan dan tidak mudah terguncang oleh perubahan atau kegagalan.

Dalai Lama pernah berkata, “Kita tidak akan pernah memperoleh kedamaian di dunia luar sampai kita berdamai dengan diri kita sendiri.” [2]

Kedamaian diri bersumber dari hati dan pikiran, dan hal ini bisa didapatkan melalui aktivitas yang membawa ketenangan. Dalam agama kita, menjalani aktivitas yang membawa ketenangan berarti hidup selaras dengan nilai-nilai Islam: menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Ketenangan hati bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan harus dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan positif yang mendekatkan diri kepada Allah. Di antara amal yang dapat membantu mencapai ketenangan batin adalah berzikir. Zikir mengisi hati dengan cahaya keimanan. Dengan terus mengingat Allah, hati akan semakin tenang dan jauh dari keresahan duniawi.

Selain berzikir, membaca Al-Qur’an juga menjadi sumber ketenangan bagi setiap muslim. Membaca dan memahami maknanya dapat memberikan jawaban atas kegelisahan hidup serta menguatkan hati dalam menghadapi ujian.

Berdamai dengan diri sendiri adalah proses yang membutuhkan waktu dan usaha. Namun ketika kita mampu menerimanya, hidup akan terasa lebih ringan. Tidak ada kebahagiaan sejati tanpa kedamaian dalam diri. Karena itu, belajarlah untuk menerima, memaafkan, dan mencintai diri sendiri. Dengan begitu, kita dapat menjalani hidup dengan lebih tenang, bahagia, dan penuh rasa syukur.

Yakinlah bahwa kita memiliki potensi, dan selalu ada tempat untuk menunjukkan kemampuan kita. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan ketetapan-Nya.

Referensi:
[1] Qs. Ali-Imran, 3:140.
[2] The Art of Happiness, Dalai Lama & Howard C. Cutler, 1998, hlm. 45.

Views: 221

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *