KESETIAAN SEBAGAI BUKTI KEBENARAN

Memiliki putera yang tidak hanya setia kepada orang tuanya, namun juga meyakini hal yang sama dan teguh pada keimanannya adalah salah satu karunia terbesar dalam hidup. Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Al-Masih Al-Mau’ud a.s. adalah salah seorang penerima karunia terbesar tersebut. Sebagaimana yang disebutkan oleh Hazrat Rasulullah saw. bahwa sang Putra Rohani yang suci ini sebagai Muslih Mau’ud. Beliau saw. bersabda:

“Yatazawwaju-wa-yuuladu-lahu”

“Almasih yang dijanjikan akan menikah dan akan memiliki anak. Ini merupakan indikasi bahwa penikahan ini bersifat khusus dan melaluinya, Allah mengenugerahi keturunan yang akan membantu dan bekerjasama dalam menjalankan misinya.” [1]

Sang putera, Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a., yang pada saat kewafatan ayahandanya berdiri di sampingnya dan berkata, “Seandainya semua orang meninggalkan engkau dan tinggal saya sendiri, saya akan berdiri di samping engkau dan akan menghadapi semua penentangan dan serangan terhadap dakwah engkau,” menjadi salah satu bukti kebenaran Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai Al-Masih Yang Dijanjikan kedatangannya oleh Baginda Hazrat Rasulullah saw.

Kesetiaan Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra. tidak hanya terucap dari mulutnya saja, namun terwujud dalam setiap perilaku dan pekerjaannya yang gemilang di sepanjang hidupnya yang diwujudkannya dalam meluaskan dakwah Islam yang hakiki yang menjadi misi sang ayah. Melalui kepemimpinannya yang panjang sebagai Khalifah kedua, dakwah Islam yang sejati tersebar dengan lebih terorganisir dan semakin kaya akan khazanah keilmuan yang semakin luas dan dalam.

Tak semua orang, bahkan nabi sekalipun, mendapatkan karunia anggota keluarga yang setia dalam keimanan dan keyakinannya pada Allah Ta’ala dan utusan-Nya. Kita akan selalu diingatkan tentang Hazrat Ibrahim a.s. yang mendapat penentangan dari ayah angkat yang juga paman sekaligus mertuanya, Azar. Al-Qur’an juga mengingatkan kita akan seorang anak dan seorang istri yang menolak ikut bahtera yang dibangun ayah dan suaminya karena tak meyakini kenabiannya, Hazrat Nuh a.s.

Kemudian di dalam Al-Qur’an yang kita baca berulang-ulang, kita akan diingatkan bagaimana Hazrat Luth a.s. tidak bisa membaiatkan istrinya untuk meyakini ketuhanan Allah Ta’ala. Dan akhirnya, bahkan nabi terbesar sepanjang zaman, Baginda Yang Mulia Hazrat Rasulullah saw. tidak bisa membuat sang paman yang sudah membesarkannya dengan penuh kasih sayang, Abu Thalib, menyatakan keyakinannya pada kenabian beliau saw. dan keimanannya pada Allah Ta’ala hingga akhir hidupnya.

Oleh karena itu, pernyataan kesetiaan seorang anak seperti yang diutarakan sang Muslih Mau’ud Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. kepada sang ayah, membuktikan janjinya sepanjang hidupnya untuk memperluas misi dakwah sang ayah bahkan setelah sang ayah tiada, adalah sebuah karunia besar. Dan ini adalah sebuah janji yang tergenapi. Bukan janji sembarang orang, tapi janji Allah Ta’ala yang diucapkan nabi terbesar sepanjang zaman, Hazrat Rasulullah saw.

Referensi:

[1] https://ahmadiyah.id/khilafat/mirza-basyiruddin-mahmud-ahmad

 

Views: 23

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *