ISTIQOMAH, BUKTI IMAN DAN CINTA DI TENGAH UJIAN DUNIA
Iman tidak pernah lahir dari kenyamanan. Perjuangan, pengorbanan dan kesabaran adalah tiga hal penting yang dibutuhkan seorang mukmin dalam melakukan ibadah (amal saleh) sebagai buah dari iman. Ujian dan rintangan pasti akan terus dihadapi hingga iman dapat menghasilkan ibadah dan amal saleh yang konsisten.
Oleh karenanya seorang mukmin haruslah menjaga dan merawat amal ibadahnya dengan hati-hati, agar akar imannya tetap kokoh dan mendapatkan ganjaran yang telah Allah Ta’ala janjikan.
Di masa awal Islam, kita bisa melihat teladan istiqamah yang amat luar biasa dari para sahabat dalam menjaga keimanan mereka. Siapa yang tak mengenal sosok Bilal bin Rabah ra. seorang budak dari suku Habasyah yang tetap istiqamah dalam imannya meski terus mendapatkan penyiksaan, diseret di atas pasir panas dan ditindih dengan batu agar mau berpaling dari keislamannya.
Demikian pula Khabbab bin Al Arat ra. dari suku Bani Tamim yang teguh keimanannya meski harus mendapatkan ujian dan penyiksaan untuk meninggalkan Islam. Masih banyak lagi kisah para _shalafus shalih_ yang bisa menjadi teladan kita dalam sikap istiqamah menjaga keimanan dan amal saleh mereka.
Dalam satu riwayat Hadhrat Rasulullah saw. pun telah menggambarkan bahwa manusia akan menghadapi beratnya mempertahankan keimanan, mengenai hal ini beliau saw. bersabda:
“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” [1]
Pada zaman ini, ujian untuk istiqamah dalam menjaga iman dan amal saleh bukan lagi dalam bentuk siksaan fisik atau hinaan secara verbal seperti pada masa awal penyebaran Islam, namun lebih kepada bujuk rayu dan pesona dunia yang menyilaukan. Sebagaimana kutipan pidato Khalifah Islam Ahamdiyah:
“Kita hidup di masa materialisme dan keduniawian yang terus meningkat. Meskipun memiliki kecerdasan dan memiliki mata untuk melihat, kebanyakan orang mengalami kebutaan rohani dan akhlak, di mana mereka menganggap segala sesuatu yang berkilau atau mengkilap itu terbuat dari emas. Mereka gagal menyadari betapa dangkalnya mereka dan terus mengabaikan dampak dan kerugian besar yang disebabkan oleh merajalelanya materialisme.”
Selanjutnya beliau menyampaikan:
“Mereka akan dipaksa untuk mengakui bahwa kekayaan dunia telah membuat mereka miskin dan bangkrut secara rohani dan akhlak. Sungguh kita telah melihat buktinya, bahwa semakin banyak orang yang menderita kecemasan, depresi dan masalah kesehatan mental dalam skala yang jauh lebih besar daripada sebelumnya. Saya sangat yakin bahwa akar penyebabnya adalah karena mereka telah terperangkap dalam pengejaran dan keinginan materialistis mereka, dan di atas semua itu, karena mereka telah meninggalkan keimanan kepada Allah Ta’ala.” [2]
Kenikmatan duniawi yang ditawarkan justru mampu menyeret seseorang lalai menjaga keimanan dan amal salehnya, hingga perlahan iman dan amal saleh itu tenggelam dalam arus dunia yang menghanyutkan. Tak bisa dipungkiri, bisikan setan akan terus ada untuk menggerus sifat istiqamah dalam keimanan pada setiap orang. Beratnya ujian terkadang menggiring rasa putus asa bila hati kita jauh dari Allah Ta’ala. Karena itu istiqamah dalam keimanan dan amal saleh menjadi tolok ukur rasa cinta kita pada wujud Allah Ta’ala, sebagai bukti kita yakin bahwa Dia selalu melihat segala perbuatan hamba-Nya.
Dalam Al-Qur’an surah An-Nahl ayat 93, Allah Ta’ala menyampaikan sebuah pengingat untuk kita semua:
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali.”
Allah Ta’ala sifat Rahman dan Rahimnya, telah menghadirkan bulan suci Ramadan yang baru saja kita lewati, demi memintal kembali simpul-simpul iman yang mungkin telah rapuh, merajut kembali ibadah dan amal saleh yang berantakan untuk menjelma menjadi seorang mukmin yang istiqamah dalam berislam.
Janganlah merusak kembali untaian amal ibadah yang telah susah payah dilaksanakan pada bulan suci itu dengan kembali terjerumus dalam perbuatan dosa dan segala hal yang sia-sia dalam mengejar dunia. Jadikanlah istiqamah sebagai bukti rasa syukur dan cinta hamba pada wujud Penciptanya.
Referensi:
[1] HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan
[2] Pidato Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah, Khalifah Kelima, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba. Tanggal 26 September 2021, Islamabad, Tilford, Inggris
Views: 18
