MUHASABAH DI DUNIA, RINGANNYA HISAB DI AKHIRAT

Manusia adalah makhluk sosial. Setiap hari kita bertemu, berbicara, dan bekerja sama dengan banyak orang. Dalam interaksi ini, tidak jarang kita merasa tidak cocok atau tidak puas dengan apa yang kita lihat dan dengar.

 

Namun, perlu diingat: apa yang kita anggap benar, belum tentu benar menurut orang lain. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar.

 

 

Di sinilah kita perlu saling introspeksi diri. Dalam Islam, introspeksi diri disebut muhasabah.

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), muhasabah berarti introspeksi diri, yaitu meninjau dan mengoreksi perbuatan, sikap, kelemahan, serta kesalahan yang pernah kita lakukan.

 

Kita bisa belajar dari perjuangan Nabi Muhammad saw., saat menyebarkan agama Islam. Beliau mendapat banyak pertentangan dari kaum musyrikin.

 

Mengapa mereka menolak? Karena ajaran tauhid yang dibawa Nabi saw., bertentangan dengan keinginan pribadi mereka, terutama para tokoh terpandang. Mereka merasa nyaman dengan tradisi dan kekuasaan yang sudah ada.

 

Ini pelajaran berharga bagi kita: sering kali seseorang enggan menerima kebenaran karena kebenaran itu tidak sesuai dengan pendapat atau kepentingan pribadinya.

 

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba, menyampaikan hal berikut dalam khutbahnya:

 

Kita harus jujur melihat kenyataan. Bangsa-bangsa yang maju adalah bangsa yang berani introspeksi kelemahan mereka sendiri. Jika kita menutup mata dan berkata “semuanya sudah baik,” justru itu akan menghalangi kemajuan kita.

 

Kita tidak boleh puas dengan perbaikan setengah-setengah. Target kita harus 100%. Jika setiap orang berhasil memperbaiki diri sepenuhnya, maka pertengkaran, keserakahan, tontonan yang merusak moral, sikap kurang hormat, dan keburukan lainnya akan hilang.

 

Yang tersisa adalah suasana cinta, kasih sayang, dan persaudaraan. Dunia seperti surga.

 

Jika tertanam perasaan tanggung jawab di dalam hati setiap orang, maka pengkhidmatan terhadap agama itu akan dianggap sebagai karunia dari Allah Ta’ala. Akan tetapi 100% dari Anggota Pengurus atau Para pengurus tidak menganggap demikian. Seringkali masalah-masalah dihadapkan kepada saya yang membuktikan bahwa para Anggota Pengurus tidak mampu mengontrol emosi dan toleransi. Jika seseorang berkata kepada mereka dengan suara keras maka timbul ego dan keras kepala mereka, ada juga yang menunjukkan kehormatan palsu dan kesombongan. Oleh karena itulah, orang yang menganggap mengkhidmati agama itu sebagai karunia Ilahi akan sabar dan tabah menghadapi setiap masalah demi keridhaan Allah Ta’ala. Ia tidak dirasuk oleh kehormatan pribadi melainkan karena lafaz “العزة لله” ‘Al-izzatu lillah’ – “Semua kehormatan milik Allah” telah memaksanya berlaku lemah lembut dan merendahkan diri.

 

Beliau juga mengingatkan agar kita menganggap diri lebih buruk dari orang lain dalam pikiran kita (bukan untuk merendahkan diri secara berlebihan, tapi agar tidak mudah merasa lebih benar dari Nabi Muhammad saw., adalah teladan terbaik. Beliau tidak pernah berkata kasar, bahkan kepada pembantunya. Ketika ada orang yang ketakutan karena wibawa beliau, Nabi menenangkannya:

“Jangan takut. Aku bukan raja yang zalim. Aku hanyalah anak seorang perempuan yang biasa memakan daging kering.”

Rasulullah saw., bersabda:

“Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia.” (HR. Tirmidzi)

Artinya, jika kita sudah membiasakan diri mengevaluasi kesalahan dan memperbaiki diri setiap hari di dunia, maka perhitungan amal di akhirat nanti akan terasa ringan.

 

Hisab di dunia jauh lebih ringan daripada hisab di akhirat.* Maka, memperbaiki diri menjadi manusia yang lebih baik adalah kewajiban setiap orang. Karena tidak ada manusia yang sempurna selain Allah Ta’ala.

 

Referensi:

Instrospeksi Diri

 

 

Views: 14

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *