MENUNDUKKAN HATI, MENGHALAU KESOMBONGAN DENGAN KERENDAHAN HATI DAN KESEDERHANAAN

Sejarah Islam menuliskan kisah-kisah yang sarat pelajaran bagi kita. Salah satunya adalah kisah seorang laki-laki yang makan dengan tangan kirinya di hadapan Hadhrat Rasulullah saw. Beliau saw. menegurnya, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Laki-laki itu menjawab dengan angkuh, “Aku tidak bisa.” Padahal, ia hanya terhalang oleh rasa sombong untuk mengikuti perintah Nabi. Maka Nabi saw. bersabda, “Semoga kamu benar-benar tidak bisa.” Setelah itu, tangannya benar-benar lumpuh dan tidak bisa diangkat ke mulutnya. [1]

 

Kisah ini memberikan pelajaran bahwa keangkuhan, sekecil apapun bentuknya walaupun hanya merasa ‘lebih tahu’ atau ‘lebih hebat’ di hadapan tuntunan syariat dapat mendatangkan murka-Nya. Kesombongan dan keangkuhan adalah sifat yang sangat dibenci oleh-Nya. Allah SWT. berfirman:

 

“Dan janganlah engkau memalingkan mukamu dari manusia dengan angkuh, dan janganlah berjalan di bumi dengan sombong. Sesungguhnya Allah tidak mencintai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” [2]

 

Sifat sombong baik dalam ucapan maupun perbuatan, hanya akan mendatangkan murka Allah SWT. dan kehancuran, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Bahkan, bencana yang terjadi bisa menjadi teguran dari Allah SWT. akibat kesombongan manusia. Oleh sebab itu, kita harus senantiasa menjaga diri untuk bersikap rendah hati dan menjauhi keangkuhan, baik kepada Allah SWT. maupun kepada sesama manusia.

 

Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda, “Hendaklah Jemaat kita tidak membatasi/mencukupkan diri mereka hanya pada kata-kata saja karena hal demikian itu bukanlah tujuan kita yang sejati, melainkan penyucian diri dan perubahan diri adalah hal yang lebih penting dan merupakan tujuan diutusnya saya oleh Allah Ta’ala.”

 

Beliau as. menginginkan terjadinya perubahan akhlak. Beliau mengatakan agar tidak membatasi diri hanya pada perkataan (diskusi dan perdebatan) saja atau pembicaraan saja dan mengubah-ubah perkataan sesuai dengan kepentingan pribadi, melainkan hendaknya kita dapat menjaga akhlak yang baik dan tinggi. Kita dituntun senantiasa mengadakan penyucian diri di dalam hidup untuk memenuhi syarat-syarat baiat. Kita harus senantiasa memperhatikan segala perintah Allah SWT. dan berusaha mengamalkannya.

 

Allah SWT. berfirman dalam Al-Qur’an:

 

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Rahman ialah mereka yang berjalan di muka bumi dengan merendahkan diri; dan apabila orang-orang jahil menegur mereka, mereka mengucapkan “Selamat.”” [3]

 

Ayat ini secara singkat menguraikan perubahan revolusioner akhlak dan rohani oleh Hadhrat Rasulullah saw. yang kemudian diamalkan oleh para sahabat beliau saw. Ketika dunia terjatuh ke dalam jurang kegelapan moral dan pengaruh setan sedang yang merajalela, kekacauan karena egoisme, keakuan serta kejahatan. Saat itulah manusia diajarkan akhlak kerendahan hati yang bermutu tinggi, perwujudan ayat di atas.

 

Diutusnya seorang pecinta sejati Hadhrat Rasulullah saw., yakni Hadhrat Masih Mau’ud as. adalah Allah Ta’ala menginginkan agar para hamba-Nya bisa kembali meraih tingkat akhlak yang sama seperti masa Hadhrat Rasulullah saw. Agar berjalan di muka bumi ini dengan penuh wibawa, penuh kelembutan dan merendahkan hati serta menghilangkan kesombongan.

 

Hadhrat Rasulullah saw. mengajarkan kita untuk mengamalkan kerendahan hati hingga mencapai suatu tingkatan tidak ada satupun lagi yang ia banggakan. Tidak ada cara zahir untuk dapat mengukur hal ini. Setiap orang yang menyatakan dirinya memiliki keimanan perlu mengadakan introspeksi diri serta melihat apakah ia telah terbebas dari segala kebanggaan; kebanggaan atas garis keturunan, kebanggaan atas kekayaan, kebanggaan sebagai orang yang berpendidikan tinggi, kebanggaan atas kecakapannya dalam bidang akademik dan lain-lain.

 

Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda, “Ingatlah, kesombongan berasal dari setan dan menjadikan seseorang bersifat setan. Selama manusia tidak menjauhinya, kesombongan akan menjadi penghalang dalam kebenaran dan kemurahan hati Ilahi.”

 

Seseorang menjadi muttaki haruslah memenuhi syarat untuk menjalani hidup dengan kerendahan hati dan kesederhanaan. Ini adalah sebuah cabang daripada ketakwaan, dengan perantaraannyalah kita akan melawan amarah/murka yang bukan pada tempatnya. Tahapan yang terakhir dan paling sulit bagi orang-orang untuk memperoleh makrifat atau bagi para sidiq adalah menghindarkan diri dari amarah/murka. Kesombongan dan keangkuhan timbul dari amarah, kadang-kadang amarah itu sendiri merupakan hasil daripada kesombongan dan keangkuhan. Sebab amarah tersebut timbul tatkala seorang manusia menganggap dirinya lebih tinggi dari yang lain. Bersikap angkuh terhadap satu sama lainnya maupun memandang rendah. Tuhan mengetahui siapa yang besar atau siapa yang kecil. Hal yang demikian itu adalah semacam kenisataan, kehinaan tersebut tumbuh besar bagaikan benih dan mengakibatkan kehancuran baginya.

 

Sebagian orang menemui orang-orang besar dengan penuh hormat. Akan tetapi sebenarnya orang besar adalah dia yang mendengarkan/memperhatikan perkataan orang miskin dengan kerendahan hati; membahagiakan hatinya; menghormati perkataannya tidak mengeluarkan kata-kata sinis yang dapat melukai hatinya. Allah SWT. berfirman:

 

Walaatanaabazuw bil-alqaabi bi’sal-ismu-fusuwqu ba-dal-iymaan, wamal-lam yatub fa’ulaa’ika humuz-zolimuwn

 

Artinya:

 

“Jangan panggil memanggil dengan nama buruk. Seburuk-buruknya nama adalah fasik sesudah beriman, dan barangsiapa tidak beriman dan tidak bertaubat, mereka itulah orang-orang yang aniaya.” [4]

 

Janganlah kalian saling menghimbau dengan panggilan buruk. Sikap yang demikian itu adalah suatu perbuatan buruk dan dosa. Barang siapa yang mengejek-ejek orang lain, dia tidak akan mati sebelum dia sendiri tenggelam di dalam hal yang seperti itu. Janganlah kalian menganggap hina saudara-saudara kalian. Kalian itu semua meminum air dari satu telaga yang sama. Maka siapa yang tahu bahwa sudah nasib seseorang akan meminum air yang banyak? Seseorang tidak dapat menjadi terhormat dan terpandang berdasarkan ketentuan-ketentuan duniawi. Di sisi Tuhan, orang yang besar itu adalah orang yang mutaki. inna akramakum ‘indallahi atqakum innallaha alymun khabyr. [5]

 

Referensi:

[1] HR. Muslim

[2] QS. Luqman 31: 19

[3] QS. Al-Furqan 25: 64

[4] QS. Al-Hujurat 49: 12

[5] QS. Al-Hujurat 49: 14; Pidato Pertama Hadhrat Masih Mau’ud as.,Jalsah Salanah 25 Desember 1897; Malfuzat, jld. 1, h. 36

 

 

 

Views: 12

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *