BERUNTUNGNYA ORANG YANG MENSUCIKAN JIWANYA

Ketika Hadhrat Rasulullah saw. menghadapi kenyataan bahwa keadaan sekitarnya tidak kondusif bagi perkembangan kerohanian. Beliau saw memilih untuk pergi berkhalwat. Tempat yang dijadikan untuk berkhalwat menyendiri, mencari ketenangan jiwa dari Sang Pencipta adalah tempat yang sunyi dari keramaian yaitu Gua Hira.

 

Beliau saw. melewatkan waktunya untuk pensucian jiwa, menepi dari hiruk-pikuk dunia. Allah SWT memberikan jawaban atas segala keresahan hatinya dengan menurunkan wahyu pertama yang tercantum di awal Surah Al-‘Alaq.

 

Relevansi keadaan sekarang ini dengan keadaan saat Hadhrat Rasulullah saw diutus, memberikan gambaran pada kita, bahwa saat dunia sedang tidak baik-baik saja maka tugas kita sebagai makhluk adalah kembali mendekat, memohon untuk perbaikan.

 

Perbaikan keadaan harus dimulai dari perbaikan setiap individu. Karena ketika setiap orang mulai memperbaiki dirinya, maka akan tercipta komunitas yang signifikan untuk terjadi sebuah perbaikan secara global.

 

Berkenaan dengan hal ini Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda:

“Dia yang menyucikan dirinya memperoleh keselamatan. Penyucian diri menuntut seseorang untuk terus bergaul dengan orang-orang yang baik dan dekat dengan orang suci. Orang itu harus meninggalkan dusta dan perbuatan buruk, juga harus menyingkirkan kelemahan-kelemahannya. Sebagaimana sebuah tulisan tidak mungkin sempurna tanpa diperiksa berulang-ulang. Dia hanya tetap di jalan yang benar jika terus-menerus menyucikan dirinya setiap waktu. Jika tidak melakukan hal itu maka dia dapat menyimpang kapan saja.” [1]

Allah SWT. dalam Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa:

“Sesungguhnya beruntunglah yang mensucikan jiwanya.” [2]

Ayat di atas memberikan gambaran seseorang yang akan beruntung, yaitu orang yang mensucikan jiwanya. Ketika seseorang berangsur-angsur mensucikan jiwanya maka perubahannya akan dirasakan bukan hanya oleh yang bersangkutan saja tetapi lingkungan pun akan turut merasakannya. Saat seseorang mulai melakukan kebaikan dengan menyelaraskan setiap ibadah pribadinya maka kebaikannya akan menjadi contoh bagi lingkungannya untuk melakukan kebaikan yang sama atau bisa jadi memicu untuk melakukan kebaikan yang lebih. Maka tak heran bila setiap individu mulai memperbaiki diri, mensucikan jiwa maka keselamatan secara kelompok akan terjadi.

 

Hadhrat Masih Mau’ud as. menasehatkan dalam sabdanya:

“Ciptakanlah suatu perubahan dalam diri kalian. Jadikanlah diri kalian seorang insan yang baru. Pahamilah rahasia ini dan ciptakanlah suatu perubahan sedemikian rupa sehingga kalian dapat mengatakan bahwa kalian sudah berubah.”[3]

Allah SWT. senantiasa memberikan penghargaan kepada makhluk-Nya dengan memberikan pahala dalam setiap kebaikan yang dilakukan. Semuanya dilakukan agar manusia senantiasa melakukan kebaikan bagi kemaslahatan dirinya agar tercipta damai di dunia.

Sebagimana yang disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as.:

“Allah tidak akan menyia-nyiakan upaya gigih sejati seorang. Dia akan menganugerahkan nur serta cahaya yang dicari-carinya.” [4]

Allah SWT. menginginkan makhluk ciptaan-Nya menjadi penjabaran keberadaan-Nya, agar sifat-Nya bisa terwujud di dunia ini. Oleh karena itu sangatlah pantas bila kita sebagai manusia ciptaan-Nya melakukan segala upaya agar bisa mewujudkan segala maksud Allah SWT.

Memperbaiki diri dengan segala bentuk ibadah dan pengakuan segala kelemahan lalu menjadi pribadi yang mewujudkan keberadaan Allah SWT. di muka bumi sehingga genaplah tujuan dari penciptaan manusia.

Hal ini ditegaskan kembali oleh Hadhrat Masih Mau’ud as. dalam sabdanya:

_”Manusia sebaiknya mengetahui penyakit kalbunya lalu langsung mengobati siang malam dengan doa-doa dalam salatnya, terus melantunkan istighfar dan doa-doanya mencapai batas-batas klimaks, maka manifestasi Ilahi akan membasuh ketidaksucian dengan air karunia-Nya. Sebenarnya ada dua cara untuk menghindarkan diri dari dosa. Pertama, manusia berusaha lalu kedua istiqamah kepada Allah SWT. sampai memperoleh kehidupan yang suci. Inilah yang dinamakan tazkiyah nafs/pensucian diri.”_ [5]

Semoga kita bisa melaksanakan dan menjadikannya sebagai karakter diri masing-masing.

 

Referensi:

[1] Malfuzat Vol. I, hal. 443]

[2] QS. Asy-Syam 91: 10

[3]Al-Hakam, jld. 6, no. 26, hal. 5-12; Malfuzat, Add. Nazir Isyaat, London, 1984, jld. II, hal. 72-73

[4] Malfuzat, Add. Nazir Isyaat, London, 1984, Jilid II, p. 239-230

[5] Malfuzat, Add. Nazir Isyaat, London, 1984, jld. IV, hal. 446-447

 

 

 

Views: 50

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *