AWAL MULA AHMADIYAH DI MANISLOR: DARI ABANGAN MENJADI PENCINTA TUHAN

Dalam tulisan ini, aku ingin mengabadikan catatan-catatan penting yang pernah ayahku ceritakan kepadaku tentang awal-mula Jemaah Ahmadiyah di Desa Manislor, Kabupaten Kuningan.

Ayahku senang menulis kejadian-kejadian penting dalam hidupnya. Ia pun senang membaca. Dan ia juga suka menceritakan perjalanan hidupnya. Khususnya yang terkait dengan pribadinya sebagai seorang Ahmadi.

Mungkin, tulisan ini akan menjadi bagian pertama yang aku tulis. Khusus mengenai awal mula Jemaat Ahmadiyah yang tumbuh sumbur di bumi Manislor.

Sebelum Jemaat Ahmadiyah datang ke Manislor, leluhur kami suka berpesan bahwa nanti akan datang “Ratu Adil”, kalau dia datang, kalian harus ikut. Nubuat tentang ratu adil memang popular di banyak masyarakat. Ada yang hingga kini masih menunggu, ada juga yang telah menerima kedatangannya.

Dan warga desa Manislor mempunyai cerita unik dalam kaitannya dengan nubuat tentang ratu adil.

Pada bulan Desember 1953, Ketua Ranting Cirebon, Bapak Juandi (Jemaah Ahmadiyah lebih dulu lahir di Cirebon tahunn 1952) meminta Bapak H. Basyari Hasan ke Cirebon karena ada seorang Kuwu (Kepala Desa) di desa Manislor meminta keterangan terkait dengan Ahmadiyah. Saat itu Bapak H. Basyari Hasan yang merupakan Ketua Jemaat Ahmadiyah Ranting Samarang Garut segera berangkat ke Cirebon.

Bersama Bapak Juandi, Bapak H. Basyari tiba di Manislor dan bertemu Kuwu Bening dan saudaranya Ahmad Sukrono. Terjadilah diskusi panjang tentang berbagai hal. Setelah mendapatkan keterangan yang lengkap dari Bapak H. Basyari, Kuwu Bening dan Ahmad Soekrono akhirnya baiat.

Setelahnya, orang berbondong-bondong baiat masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah. Sampai akhirnya, 80 persen penduduk desa Manislor baiat yang berjumlah sekitar 3000 orang. Dan ayahku termasuk salah seorang yang baiat pada saat itu. Di saat usianya masih remaja.

Ayahku bercerita bahwa sebelum Jemaat datang ke desa, penduduk desa memang seratus persen beragama Islam. Namun, dikarenakan minimnya guru atau kiai yang mengajarkan agama Islam yang hakiki, akhirnya amalan-amalan beragama mereka masih menjalankan warisan nenek moyang, yang biasa disebut “islam abangan”.

Penduduk desa hampir tidak ada yang shalat. Bukan karena mereka tidak mau. Tapi karena mereka tidak tahu cara shalat itu seperti apa. Jadi, dapat dibayangkan bagaimana keadaan para mubayyin baru ketika mereka masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah.

Inilah yang lalu menjadi pekerjaan besar bagi Bapak H. Basyari Hasan—yang tak lama setelah itu ditetapkan sebagai Pembantu Mubaligh oleh Pengurus Pusat di Jakarta—juga Bapak Kuwu Bening dan Bapak Ahmad Soekrono untuk membentuk satu masyarakat Islam yang menjunjung tinggi Tauhid Ilahi.

Penduduk desa saat itu lebih gemar puasa mati geni atau semedi. Mereka kuat menjalankannya bahkan sampai 40 hari baru berbuka. Mereka bersemedi di hutan, ruangan gelap, kuburan atau di tempat-tempat yang dianggap keramat.

Jadi kalau ada cerita dalam film seorang pendekar tidak terluka saat terkena senjata tajam, dulu memang benar adanya. Dalam istilah Sundanya “ilmu kawedukan”, hasil dari persemedian tadi.

Orang-orang desa rata-rata mampu berjalan berkilo-kolo meter membawa dagangan hasil panennya di sawah. Mereka jalan dari Manislor hingga Cirebon yang berjarak 35 kilometer.

Ayah bercerita lagi satu jenis ilmu hitam yang dikuasai beberapa warga desa. Suatu hari ada petani panen padi. Pada tersebut tidak langsung dibawa pulang, tapi dijemur dulu di awah. Ketika malam-malam, sang pemilik mengontrol ke sawah, ia melihat ada dua orang pencuri sedang mengarungi padinya.

Kata si pemilik sawah, silahkan kamu bawa padi semampu kamu, kalau kuat bawa semua juga boleh. Dan apa yang terjadi? Ternyata padi itu tanpa disadari oleh si pencuri, rupanya dibawa ke rumah si petani pemilih sawah tersebut. Semua bisa terjadi karena si petani punya sejenis ilmu kanuragan. Dan memang saat itu, Manislor kenal dengan ilmu hitamnya.

Pada tanggal 15 Agustus 1954 terjadi peristiwa bersejarah bagi Jemaat Manislor. Karena hari itu adalah momen peletakan batu pertama masjid permanen pertama Jemaat di atas tanah yang diwakafkan oleh Bapak Sutawalam. Masjid berukuran 16 x 14 itu hanya memerlukan waktu satu setelah bulan hingga selesai. Akhir September 1954 masjid tersebut sudah bisa dipakai untuk beragam kegiatan keagamaan.

Disinilah mulai dibangun pondasi kerohanian warga Jemaat di Manislor. Kuwu Bening tak hanya membangun kampung Ahmadi secara fisik, tapi juga secara rohani. Penugasan Mln. H. Basyari Hasan di Manislor mengisi ruang-ruang yang dulu kosong dari unsur-unsur kerohanian.

Warga Jemaat mulai diajarkan shalat, mengaji dan beragam ilmu agama yang mendalam. Hingga desa Manislor berubah total menjadi kampung Ahmadi yang taat. Yang menjadi pecinta Wujud Allah Ta’ala dimana tidak ada sekutu bagi-Nya.

Tentu penentangan sudah ada sejak dulu. Hingga membuat Kuwu Bening dan Bapak Ahmad Soekrono beberapa kali di tahan di kantor polisi. Tapi itu sama sekali tak menyurutkan semangat kedua tokoh awalin ini untuk membangun desa Manislor.

Mereka kini telah menerima kedatangan Imam Mahdi alias Ratu Adil yang telah dinubuatkan oleh leluhur mereka. Kini mereka harus mengikutinya.

Dulu mereka lebih dekat kepada sesuatu yang kental dengan syiriknya. Kini mereka telah menegakkan Tauhid di atas bumi Manislor. Para jawara mulai meninggalkan ilmu kanuragannya. Karena setelah pesan Imam Mahdi itu sampai, ada ilmu lain yang benar-benar memikat mereka.

Dan tak lama setelah itu. Kemajuan demi kemajuan mulai dirasakan. Jalan-jalan desa makin luas dan tertata. Pertanian makin maju. Anak-anak mulai diperhatikan pendidikannya. Dan perniagaan makin merambah ke kota besar yang lain seperti Bandung.

Hari ini. Aku melihat sendiri sudah seperti apa desa Manislor. Penduduknya tersebar di berbagai tempat. Sekarang ada 10 masjid di desa ini. Begitu banyak kemajuan demi kemajuan diraih warga Jemaat di Manislor. Tentu, hal ini tak bisa lepas dari peran penting para awalin Jemaat di masa awal yang telah berjuang dengan caranya yang amat sederhana tapi penuh cinta dan keikhlasan.

Dalam bagian selanjutnya, aku akan menceritakan kisah ayahku saat hijrah ke Cirebon dan membangun Jemaat disana. Sebuah keajaiban terjadi saat ayah beserta beberapa orang hendak membeli sebidang tanah untuk masjid Jemaat Cirebon. Nantikan dalam kisah selanjutnya.

.

.

.

Penulis: Uminah Dimyati

Editor: Muhammad Nurdin

Referensi Penguat: Bunga Rampai Sejarah Jemaat Ahmadiyah 1925-2000

Views: 787

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *