BERBEDA KEYAKINAN BERSATU DALAM KEMANUSIAAN
“Kita bisa berbeda dalam keyakinan tetapi kita tetap bisa bersatu dalam kemanusiaan.” [1]
Perkataan Buya Hamka tersebut mengingatkan saya pada sebuah film berjudul _My Name Is Khan_, sebuah film yang menggambarkan dampak negatif dari Islamofobia dan perjuangan untuk menghilangkan stereotip atau prasangka bahwa semua Muslim adalah teroris, pasca serangan 11 September. Film ini menceritakan tentang seorang Muslim bernama Rizvan Khan penyandang Sindrom Asperger.
Penyakit ini mempunyai ciri-ciri: takut terhadap tempat baru, orang baru, tidak menyukai warna kuning dan suara-suara terlalu nyaring namun mempunyai kelebihan diantaranya, mampu memperbaiki segala hal serta mempunyai kecerdasan yang lebih dibandingkan dengan yang lainnya. Ia selalu mengingat perkataan ibunya yang mengajarkan bahwa manusia itu sama, yang membedakannya bukan agama tetapi baik buruknya sebagai manusia.
Rizvan Khan melakukan perjalanan melintasi Amerika Serikat pasca peristiwa 11 September 2001. Waktu itu terjadi penyerangan oleh kelompok teroris dengan mengendarai 2 pesawat lalu menabrak World Trade Center, menara kembar tertinggi dunia di New York kala itu. Hal tersebut menyebabkan kedua menara runtuh dan menewaskan 2.977 orang. Pemerintah Amerika membuat pernyataan yang memberatkan umat Islam dan kejadian itu menurut pemerintah di sana telah direncanakan serta dilakukan oleh teroris Muslim. Akibatnya, di beberapa tempat banyak terjadi penyerangan, pembunuhan dan pembullyan terhadap warga Muslim, salah satunya adalah anak sambungnya.
Perjalanan Rizwan dimotivasi oleh keinginannya bertemu presiden Amerika dan tekadnya untuk menyampaikan pesan bahwa namanya Khan, dia seorang Muslim dan bukan teroris.
Film ini menjadi perhatian saya berkaitan dengan aksi kemanusiaan, yaitu ketika Rizvan Khan ingin melanjutkan perjalanannya untuk menemui presiden, ia mendapatkan berita bahwa telah terjadi badai dan banjir di Wilhelmina, Georgia. Ia mengkhawatirkan kondisi Mama Jeni dan anaknya yang pernah menolongnya beberapa waktu sebelumnya. Walaupun mereka umat Kristen, Rizvan Khan memutuskan kembali ke Wilhelmina untuk menyelamatkannya.
Sesampainya di Georgia ia melihat daerah tempat tinggal Mama Jeni sudah tergenang banjir yang sangat tinggi. Kemudian ia pergi ke gereja tempat pengungsian penduduk Wilhelmina yang hampir roboh karena angin kencang. Ia membantu para warga memperbaiki gereja yang rusak dan merawat orang-orang yang cedera.
Aksi kemanusiaan yang dilakukan oleh Rizvan Khan, diliput oleh media dan menyentuh hati banyak orang, sehingga membangkitkan solidaritas dari berbagai ras, agama datang ke Wilhelmina membawa bantuan untuk berupaya menolong warga Wilhelmina secara bersama-sama.
Ia membantu warga Wilhelmina atas dasar kemanusiaan berdasarkan hadits yang mengatakan:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik dan harta kalian, tetapi Ia melihat hati dan amal kalian.” [2]
Dari film tersebut kita dapat mengambil pesan positif bahwa sebuah perbedaan dalam keyakinan tidak menjadi sekat dalam melakukan aksi kemanusiaan. Sebagaimana yang kita saksikan di dunia nyata yaitu bentuk aksi kemanusiaan terhadap warga Gaza, Palestina. Bagaimana dunia bergotong-royong dari beragam ras, agama dan berbagai organisasi yang berbeda untuk memberikan bantuan kepada warga Palestina dan salah satu organisasi yang melakukan aksi kemanusiaan tersebut adalah Jamaah Muslim Ahmadiyah. Organisasi ini selain membantu warga Palestina melalui Humanity First, juga mempunyai komitmen untuk melakukan aksi kemanusiaan seperti donor mata, donor darah dan Clean the City.
Semoga dengan bersatu dalam kemanusiaan tercipta keharmonisan, toleransi, dan solidaritas antar sesama. Selain itu, persatuan membantu mencegah konflik dan perpecahan, memperkuat rasa kebersamaan, mendukung pembangunan nasional yang lancar, serta membangun empati dan saling tolong-menolong. Insyaallah.
Referensi:
[1] Buya Hamka
[2] HR. Bukhari
Views: 130
