
Berjuang Mencari Nafkah sebagai Bentuk Ibadah
Suatu pagi, penulis menyaksikan sosok seorang kakek. Raut wajahnya yang dihiasi kerutan serta gontai kakinya saat mendorong sebuah gerobak tua menyiratkan lamanya dia menjalani kehidupan. Gerobak yang dipenuhi beberapa hasil kebun, seperti singkong, pisang dan ubi menemaninya dengan setia. Hasil kebun itu untuk dijajakannya di pinggir jalan sebuah perumahan.
Lelaki tua yang biasa dipanggil ‘Engkong’ oleh ibu-ibu perumahan, setiap pagi menjajakan dagangannya dengan penuh semangat dan tak kenal lelah. Meski cuaca panas atau hujan beliau jalani dengan penuh kesabaran.
Butuh satu jam perjalanan dari rumahnya sampai ke perumahan penulis. Sungguh terharu dan bangga menyaksikan Engkong, demi mencari nafkah untuk keluarga beliau selalu semangat dan tidak mengenal rasa lelah walaupun usianya sudah tidak muda lagi.
Penulis pun merasa penasaran dan melontarkan pertanyaan pada Engkong.
“Engkong, kok, masih berjualan? Apakah anaknya tidak ada yang bisa bantuin Engkong untuk berjualan?” tanya penulis.
“Saya sengaja, Bu, pergi untuk berjualan karena tidak mau merepotkan anak-anak. Selagi saya masih sehat dan mampu untuk mencari nafkah akan saya jalani, karena tugas dan kewajiban seorang ayah adalah untuk mencari nafkah,” jawab Engkong dengan tulus.
Masyaallah! Seketika rasa bangga menyeruak dari dalam hati penulis. Terharu menyaksikan dan mendengar jawaban yang disampaikan oleh Engkong.
Karena banyak orang-orang yang masih muda tapi malas untuk mencari nafkah. Berbeda halnya dengan Engkong, walaupun sudah tua tapi masih memiliki semangat dan kesadaran untuk mencari nafkah sebagai kewajiban seorang lelaki atau ayah dalam sebuah keluarga.
“Ngomong-ngomong Engkong punya berapa putra-putri?” tanya penulis karena rasa penasaran.
“Putra-putri saya ada 17 orang, Bu. Itu dari tiga orang isteri. Isteri pertama dan yang kedua sudah meninggal, lalu saya nikah lagi dengan isteri yang ketiga sehingga saya mempunyai anak berjumlah 17 orang,” jawab Engkong yang menohok karena tak percaya.
“Masyaallah! Banyak sekali anaknya, ya, Kong! Apakah mereka semua sekolah, Kong?” tanya penulis dengan penuh penasaran.
“Alhamdulillah sekolah, Bu. Sekarang, yang paling kecil pun sudah duduk di kelas enam SD,” jawabnya kembali menerangkan.
“Makanya saya, walaupun sudah tua, masih tetap mencari nafkah buat isteri dan anak-anak saya, Bu. Karena kewajiban seorang ayah untuk mencari nafkah buat keluarga,” lanjut Engkong.
“Subhanallah! Semoga Engkong sehat terus dan dimudahkan dalam mencari rezeki yang halal dan baik,” kata penulis mengakhiri percakapan.
Engkong menjadi sosok contoh orang tua yang merdeka. Dia tidak tergantung pada anaknya hanya karena merasa tua. Dia bahkan memaknai perannya sebagai ayah yang menyatakan kemerdekaan dirinya. Tak ada yang bisa menginterfensi kemerdekaannya. Hal yang patut untuk dicontoh.
Kisah di atas menggambarkan kegigihan dan semangat dalam mencari nafkah yang dijalani oleh seorang lelaki tua. Tentunya hal tersebut bisa menjadi sebuah inspirasi dan motivasi bagi kaum laki-laki baik muda maupun tua untuk semangat dalam mencari nafkah.
Karena, hal tersebut merupakan suatu kewajiban serta infak dan sedekah yang paling utama dari seluruh jenis sedekah. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw. yang terdapat dalam sebuah hadis:
“Dinar( harta) yang kamu belanjakan di jalan Allah dan Dinar yang digunakan untuk membebaskan budak, Dinar yang disedekahkan kepada fakir miskin dan Dinar yang dinafkahkan kepada keluarganya, maka yang paling besar pahalanya adalah Dinar yang diinfakan kepada keluarganya.”[1]
Peran seorang suami (ayah) dalam ajaran Islam adalah sebagai pemimpin keluarga dan memiliki kuasa yang cukup tinggi dalam mengambil keputusan.Tapi, meskipun begitu, keputusan yang diambil juga perlu mempertimbangkan segala aspek penting yang mencakup pendapat dari seluruh keluarga, sehingga terasa adil dan menjadi solusi terbaik.
Selain menjadi pemimpin, ayah juga memiliki kewajiban untuk memenuhi nafkah keluarganya. Seorang ayah juga harus memastikan bahwa rezeki yang diperolehnya adalah halal dan baik. Serta, bekerja dengan ikhlas dan penuh rasa syukur karena rezeki yang diperoleh semata-mata hanya untuk menghidupi keluarga atas rida Allah. Juga, menerapkan prinsip bahwa apa yang dilakukan di dunia ini semata-mata untuk kebahagiaan di akhirat.
Karena, Allah Swt. pun telah berfirman di dalam Al-Qur’an, surat Al-Baqarah ayat 234: “Dan atas laki-laki yang punya anaklah tanggung jawab memberi mereka makan dan pakaian secara baik. Tidak seorangpun dibebani kecuali menurut kadar kemampuannya. Janganlah seorang ibu disusahkan karena anaknya dan jangan pula seorang ayah disusahkan karena anaknya.”
Kandungan tafsir dari ayat tersebut adalah bahwa sang ibu hendaknya jangan membuat si ayah menderita dan sang ibu hendaknya jangan dibuat menderita karena anaknya. Diutamakan di sini dari kata yang lebih sederhana ialah walid (bapak) untuk mengisyaratkan hak yang ada pada bapak yang memiliki anak itu dan pada tanggung jawab yang wajar bagi pemeliharaannya.[2]
Semoga Allah Ta’ala memberikan kesehatan dan kekuatan bagi seluruh ayah pejuang nafkah yang berjihad untuk keluarganya agar dapat terpenuhi segala kebutuhan baik materi maupun rohaninya. Semoga amal ibadah di dunia dapat menjadi amal untuk kehidupan di akhirat kelak. Amin.
Referensi:
[1] HR. Muslim
[2] Al-Qur’an, Terjemah dan Tafsir Singkat Jemaat Ahmadiyah
Views: 70