DI ANTARA PERBEDAAN, ADA CINTA YANG ALLAH TITIPKAN
Tidak ada manusia yang dilahirkan dengan kebencian di dadanya. Seperti kata Nelson Mandela, “Tidak ada orang yang terlahir membenci orang lain karena warna kulitnya, latar belakangnya, atau agamanya. Orang harus belajar membenci, dan jika mereka bisa belajar membenci, mereka bisa diajari untuk mencintai, karena cinta datang lebih alami di hati manusia daripada kebalikannya.” [1] Kata-kata itu menggema begitu dalam, seolah mengingatkan kita bahwa cinta adalah fitrah, sedangkan kebencian adalah hasil dari ketidaktahuan dan jarak antar hati yang dibiarkan terlalu lama terbuka.
Islam telah mengajarkan hal yang sama jauh sebelum Mandela mengucapkannya: bahwa manusia diciptakan berbeda bukan untuk saling menafikan, tetapi agar saling mengenal. Cinta adalah bahasa pertama yang dikenal jiwa; ia hadir sebelum manusia belajar berbicara, sebelum dunia mengenalkan label-label perbedaan. Namun seiring perjalanan hidup, sebagian manusia lupa caranya mencintai, lupa bahwa fitrah itu pernah begitu jernih.
Padahal, Islam datang bukan untuk menyeragamkan manusia, melainkan untuk menuntun mereka menghormati ragam ciptaan Tuhan. Allah SWT berfirman, “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” [2] Ayat ini menggambarkan bahwa keberagaman adalah tanda kebesaran Allah, sebuah mozaik yang justru memperindah kehidupan manusia. Warna kulit, bahasa, suku, ataupun keyakinan bukan dinding pemisah, melainkan jembatan untuk memahami keluasan rahmat-Nya.
Rasulullah saw mencontohkan cinta yang tak mengenal sekat rupa, warna, atau asal. Beliau mencintai umatnya sebagaimana seorang ayah mencintai anak-anaknya—dengan kelembutan, doa, dan perhatian yang tidak pernah terputus. Beliau bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” [3] Cinta dalam ajaran Nabi adalah energi pemersatu, bukan sikap yang meremehkan perbedaan. Ia adalah cermin keimanan dan ukuran ketajaman hati dalam memandang sesama.
Jika kebencian bisa ditanamkan melalui kata, sikap, dan lingkungan, maka cinta pun bisa diajarkan melalui teladan, kelembutan, dan pengertian. Islam mengajarkan kita memperlakukan setiap manusia dengan adil dan bijaksana. Rasulullah saw menunjukkan kasih yang melampaui batas suku dan keyakinan, bahkan terhadap mereka yang memusuhinya. Inilah puncak akhlak: mencintai bukan karena kesamaan, tetapi karena kesadaran bahwa setiap jiwa adalah makhluk Allah yang layak dihormati.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh prasangka dan pertentangan, hati manusia semakin haus akan cinta yang lahir dari pemahaman dan keluasan jiwa. Maka marilah kita menjadi murid-murid cinta—belajar memahami sebelum menilai, menghargai sebelum membenci, dan menyembuhkan sebelum menyakiti. Karena sesungguhnya, cinta adalah bagian dari cahaya Allah yang dititipkan ke dalam hati manusia. Ia tidak mengenal warna, batas, atau agama. Siapa pun yang menebarkan cinta, sesungguhnya sedang menebarkan rahmat-Nya di muka bumi.
Referensi:
[1] Long Walk to Freedom, Nelson Mandela, 1994, Halaman terkait
[2] Qs. Al-Hujurat, 49:13
[3] Sahih al-Bukhari, Imam al-Bukhari, 1987, Halaman terkait
Views: 153
