GARIS LURUS DI LAYAR ITU, DAN PELUKAN TERAKHIR UNTUK MAMAH

“Rabbi’ghfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.”

Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil. (QS. Al-Isra, 17: 24)

Doa itu terus ku panjatkan, sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Rabu, 17 Februari 2025, kabar itu datang lagi: Mamah masuk rumah sakit. Padahal baru sebulan lalu beliau dirawat. Kakiku terasa berat melangkah, tapi hatiku berkata harus kuat.

Sanak saudara bergantian datang. Bukan hanya untuk menjenguk, tapi juga menguatkan. Kami menunggu. Menunggu observasi, menunggu izin dokter, menunggu mukjizat.

Empat hari berlalu. Selasa pagi, aku bertemu dokter dengan setumpuk harap di dada.

“Dok, bagaimana kondisi mamah? Apakah sudah membaik? Boleh pulang?”

Jawaban itu datang, lembut tapi menghujam.

“Maaf, Teh. Untuk sementara kami prioritaskan kesembuhan ibu dulu. Kondisinya belum menunjukkan perubahan signifikan, jadi kami belum bisa mengizinkan pulang.”

Sakit. Tapi ini rumah sakit, bukan tempat untuk menampik kenyataan. Aku kembali ke sisi mamah. Tangan dan kakinya membengkak karena infus. Matanya terpejam, lelah oleh reaksi obat yang bertumpuk di tubuhnya. Tapi aku tahu, mamah pejuang. Sejauh ini beliau kuat.

Malam harinya, aku merebahkan diri di sampingnya.

“Mah, aku tidur di sebelah sini ya.”

“Sini,” jawabnya lirih, sambil mengelus kepalaku.

Elusan itu seperti sihir. Air mataku tumpah tanpa aba-aba.

Kamis sore, panggilan kedua dari dokter datang. Kali ini lebih berat.

Paru-paru mamah mengalami penyumbatan. Beliau harus segera dipindahkan ke ICU.

Aku mengangguk. Aku pasrah. Dalam hati, aku berbisik, *”Ini jalan terbaik, Mah. Kamu pasti sembuh.”*

Saat baru masuk ICU, kondisi mamah justru menurun drastis. Syukurnya, petugas mengizinkanku menemani. Di ruangan yang dingin itu, hanya ada aku, mamah, dan deru mesin. Aku duduk di sampingnya, menggenggam tangannya yang mulai terasa dingin.

Kupeluk tubuhnya, kucoba mengajaknya bicara.

Di sela kata-kataku, mamah meneteskan air mata. Jari-jarinya bergerak, walau hanya sepersekian detik. Itu cukup. Itu jawaban. Itu pelukan tanpa raga.

Seorang perawat memelukku dari belakang.

“Kuat ya, Teh. Kamu nggak sendiri. Kami berusaha maksimal.”

Di keheningan malam, aku membisikkan sesuatu di telinga mamah,

“Makasih udah berjuang, Mah. Ini hidup Mamah. Mamah berhak bahagia. Maafin aku ya, Mah.”

Jumat tiba. Keluarga dan kerabat bergantian datang. Doa-doa mengalir deras, mengisi ruang tunggu dengan harapan. Usai jam besuk, aku masih duduk menunggu. Menanti kabar baik yang tak kunjung tiba.

Lalu aku dipanggil lagi.

Dokter berkata pelan, “Kemungkinan hidup hanya beberapa persen, Teh. Kami sudah maksimalkan obat. Sekarang, tinggal mukjizat.”

Malam itu, suara alarm mesin berbunyi. Dada sesak. Layar menunjukkan garis lurus.

Jam 20:18.

Mamah pergi.

Perlahan, alat-alat dilepas. Kain putih menutup seluruh tubuhnya. Aku hanya bisa diam. Tak percaya, tapi harus menerima.

 

Ya Allah,

Aku tak meminta Engkau menghidupkannya kembali.

Aku hanya mohon, berikan aku hati yang lapang.

Pundak yang kuat untuk memikul rindu ini.

Karena kepada siapa lagi aku mengadu, kalau bukan kepada-Mu?

Selamat jalan, Mah.

Doaku akan selalu mengalir untukmu.

Seperti cintamu yang tak pernah kering untukku.

Views: 28

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *