Hadiah Indah dari Sedekah

Pagi itu, seperti biasa setelah suami saya berangkat bekerja, saya mulai mengerjakan pekerjaan rumah. Sambil menikmati segarnya udara pagi, saya membersihkan halaman, merapikan tanaman hias kesayangan, dan memangkas daun-daun pandan yang tumbuh subur di kebun. Saat itu, Mawar, tetangga sebelah rumah saya, melintas di depan pagar.

“Wah, daun pandannya mau dibuang, ya?” sapa Mawar. “Saya biasanya suka menambahkan daun itu kalau menanak nasi, bikin wangi.”

“Oh, begitu. Kalau mau, ambil saja,” jawab saya dengan ramah.

Namun, dengan tersenyum kecil, Mawar menahan diri. “Tapi beras bantuan di rumah saya sudah habis. Suami saya sakit, jadi hari ini tidak bisa bekerja,” ujar Mawar dengan suara pelan, merasa sedikit sungkan.

Saya mengangguk dengan penuh simpati. “Oh, begitu ya.. Yang sabar, ya, semoga suamimu cepat sembuh,” ucap saya sambil menengok ke arah tanaman yang sedang saya rapikan. “Nanti ke sini ya, sebentar lagi aku selesai,” lanjut saya sambil menunjukkan tangan yang masih kotor berlumuran tanah.
“Baiklah, kebetulan hari ini saya belum masak nasi. Tadi pagi kami sarapan nasi sisa kemarin,” jawab Mawar.

Saya tertegun sejenak, lalu dengan cepat mengajak Mawar masuk ke rumah. Saya segera membersihkan tangan dan berpikir sejenak tentang bagaimana saya bisa membantunya lebih dari sekadar memberikan daun pandan.

Beberapa waktu lalu, saya dan Mawar sama-sama menerima beras bantuan dari pemerintah. Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama mendapatkannya, sehingga saya hanya sesekali menggunakan beras itu sebagai tambahan untuk beras yang biasa saya beli dari tetangga. Tapi bagi Mawar, beras itu sangat berarti karena sudah menjadi makanan pokok keluarganya di tengah situasi sulit seperti sekarang.

Saya membuka lemari beras dan terlihat ragu. “Hanya ini yang bisa aku berikan, ya,” ujar saya sambil menggenggam segenggam beras bantuan. Raut wajah saya tampak cemas, takut kalau bantuan ini justru dianggap kurang layak.

Namun, bagi Mawar, bantuan itu sangat berharga. “Alhamdulillah, terima kasih banyak, ya! Keluargaku sudah biasa makan ini. Beras ini sangat membantu sekali. Semoga Allah membalas kebaikanmu,” kata Mawar dengan mata yang berkaca-kaca, terharu dengan kebaikan yang tidak pernah ia duga.

“Aamiin yaa robbal’alamiin,” jawab saya sambil memberikan sekantong beras dan beberapa potong ikan yang ada di kulkas.

Dengan hati yang tenang dan rasa syukur, Mawar pulang ke rumah membawa beras dan ikan pemberian saya. Bantuan kecil ini terasa begitu besar bagi keluarganya.

Setelah itu, saya kembali melanjutkan pekerjaan di halaman. Tak lama kemudian, tetangga saya yang lain datang membawa bunga langka yang belum pernah saya miliki dan juga bayam segar, sayuran kesukaan saya.

Menjelang sore, suami saya pulang lebih awal dan menyerahkan uang tambahan belanja, yang katanya adalah bonus kerja dari bosnya. Saya tersenyum dalam hati. Hari itu, Allah seolah membalas setiap kebaikan saya dengan hadiah-hadiah kecil yang indah dan tak terduga.

“Bersedekahlah dengan apa pun yang kamu miliki. Meski terlihat sederhana, mungkin sangat bermakna bagi orang lain,” itulah pelajaran yang saya dan Mawar dapatkan hari itu, bahwa kebaikan sekecil apa pun, selalu akan kembali dengan cara yang luar biasa.

Views: 45

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *