HIDUP KARENA CINTA ALLAH

 

“Jika surga dan neraka tak pernah ada

Masihkah kau bersujud kepada-Nya

Jika surga dan neraka tak pernah ada

Masihkah kau menyebut nama-Nya”

Pernahkah kalian mendengar sebuah lagu dengan lirik di atas? Sebuah lagu dari seorang penyanyi legenda Chrisye (alm) yang diciptakan oleh Ahmad Dhani. Begitu dalam bukan makna dari lirik lagu tersebut, yang mengajak kita merenungi bagaimana seorang manusia yang beribadah maupun melakukan kebaikan: apakah karena pengharapan akan surga-Nya Allah atau karena takut akan neraka-Nya? Jika iya, berarti kita sebenarnya tidak mencintai Allah SWT; jika tidak ada cinta kepada Sang Pencipta, bagaimana mungkin Allah SWT memberi kasih sayang kepada hamba-Nya?

Lirik lagu di atas rupanya terinspirasi dari doa seorang Rabi’ah al-Adawiyah, seorang sufi wanita yang hidup di zaman Dinasti Umayyah. Berbeda dari para zahid atau sufi yang mendahuluinya dan sezaman dengannya, Rabi’ah dalam menjalankan tasawuf itu bukan karena dikuasai oleh perasaan takut kepada Allah atau takut akan neraka-Nya. Hatinya penuh oleh perasaan cinta kepada Allah sebagai kekasihnya.

Ada doa Rabi’ah yang sangat populer, yakni: “Ya Ilahi! Jika sekiranya aku beribadah kepada Engkau karena takut akan siksa neraka, maka bakarlah aku dengan neraka-Mu. Dan jika aku beribadah kepada Engkau karena harap akan masuk surga, maka haramkanlah aku daripadanya! Tetapi jika aku beribadah kepada Engkau hanya karena semata-mata karena kecintaanku kepada-Mu, maka janganlah, Ya Ilahi, Engkau haramkan aku melihat keindahan-Mu yang azali.” [1]

Kezuhudan Rabi’ah, beliau juga adalah penyair yang membuat banyak cendekiawan Eropa meneliti pemikiran dan menuliskan riwayat hidupnya. Pemikiran Rabi’ah mengenai cinta kasih yang menjadi landasan kita untuk mendekat kepada Allah SWT patut dicontoh karena sejatinya, karena cinta kasihlah yang membuat kita melakukan apapun tanpa syarat dan tanpa pengharapan.

Sebagaimana Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu murtad dari agamanya maka Allah segera akan mendatangkan suatu kaum, Dia akan mencintai mereka dan mereka pun akan mencintai-Nya”

(Al-Ma’idah:55) [2]

Dalam tafsir ayat ini dijelaskan bahwa jika jumlah pengikut suatu agama kian hari kian berkurang tanpa ada harapan pulih kembali, maka agama itu harus dianggap mati. Oleh karena itu, Allah akan segera mendatangkan kaum lain yang mencintai Dia dan Dia pun mencintai mereka; ada hubungan timbal balik dari keduanya.

Hubungan baik dengan Allah SWT juga dilanjutkan dengan hubungan baik terhadap sesama makhluk ciptaan-Nya, karena cinta lah yang membawa kita kepada perilaku yang sesuai dengan ajaran agama yang sesungguhnya. Seperti yang dikatakan Rabi’ah:

“Aku mencintai semua makhluk karena di dalam diri mereka ada jejak kasih Tuhan.” [3]

Konsep inilah yang diajarkan oleh Islam kepada umatnya; inilah cinta yang sesungguhnya. Kita mencintai seseorang itu harus karena Allah SWT agar konsep cinta ini berada pada jalurnya. Rasulullah saw. pun bersabda:

“Sayangilah siapa yang ada di muka bumi, niscaya kamu akan disayangi oleh siapa saja yang ada di langit”

(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi) [4]

Mari kita sebarkan pesan cinta penuh damai dalam kehidupan sehari-hari. Aamiin.

Referensi

[1] Rabi’ah al-Adawiyah. Doa Cinta kepada Allah, Riwayat Sufi.

[2] QS. Al-Ma’idah, 5:55.

[3] Rabi’ah al-Adawiyah. Kutipan dalam The Sufi Path of Love 2010.

[4] Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Sunan Abu Dawud dan Jami’ At-Tirmidzi, Hadits tentang kasih sayang.

Views: 161

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *