Husnuzan Memangkas Kemustahilan

Jenjang pendidikan sering menciptakan kesenjangan di antara manusia. Banyak orang yang hanya beberapa tahun saja mengenyam pendidikan formal akan merasa rendah diri saat membandingkan dirinya dengan orang yang memiliki gelar di belakang namanya.

Padahal sejatinya itu hanyalah pendidikan formal di dunia. Allah menciptakan manusia dengan dikaruniai akal dan pikiran, karunia istimewa yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk Allah lainnya.

Islam mengajarkan umat-Nya untuk terus belajar. Tidak menjalani pendidikan tinggi bukan berarti tidak bisa apa-apa. Banyak cara untuk kita bisa mendapatkan banyak ilmu. Banyak jalan untuk kita bisa bertahan hidup dan bermanfaat bagi orang lain.

Kita ambil contoh dari kisah Thomas Alfa Edison, yang kita kenal sebagai penemu bola lampu listrik. Pada usia 12 tahun, Thomas mengalami gangguan pendengaran dan akhirnya menghentikan pendidikan formalnya di sekolah. Ia lalu bekerja sambil belajar otodidak dengan bimbingan Ibunya. Thomas Alfa Edison membaca buku-buku ilmiah dan mulai mengadakan berbagai percobaan ilmiah sendiri. 

Di usianya yang relatif muda, Thomas sudah berhasil mengukuhkan temuan-temuannya. Bukan hanya bola lampu, ia juga menjadi penemu fonograf, baterai alkaline dan salah satu kamera film paling awal. Ia juga menciptakan laboratorium penelitian industri pertama di dunia. Hingga akhir hayatnya, Thomas tercatat memegang rekor 1.093 temuan paten atas namanya. 

Kemudian ada kisah Henry Ford, ia adalah pendiri perusahaan kendaraan bermotor Ford. Ia hanya menjalani pendidikan formal hingga usia 15 tahun. Pada tahun 1896 ia mencoba membuat mobil pertamanya tetapi produk mobil itu gagal.

Tidak putus asa, Ford mendirikan Ford Company pada 30 November 1901, dan mengembangkan mobil pertama untuk kalangan menengah Amerika. Henry Ford sangat terkenal dengan ungkapannya yaitu, “Entah kamu berpikir kamu bisa atau kamu berpikir kamu tidak bisa, kamu benar.”

Jika kita berpikir bahwa kita mampu melakukan sesuatu, itu akan terjadi. Dan bila kita berpikir bahwa kita tidak mampu melakukan sesuatu, maka kita pun tidak mungkin melakukannya. Hal itu pun dapat dijelaskan secara medis, yakni bagaimana pemikiran kita dapat  memengaruhi tubuh kita. Saat kita berpikir positif, tubuh memproduksi hormon dopamin dan serotonin.

Dopamin adalah salah satu senyawa kimia di dalam otak yang dapat meningkatkan suasana hati serta berperan dalam menyampaikan rangsangan ke seluruh tubuh. Produksi kadar dopamin yang cukup dapat menyebabkan seseorang merasa bahagia. Serotonin adalah hormon yang bertugas untuk membawa pesan antarsel dalam otak. Hormon ini berperan penting dalam memperbaiki suasana hati menjadi lebih baik.

Berpikir positif dikaitkan dengan rendahnya kemungkinan sakit dan umur lebih panjang. Dalam penelitian besar baru-baru ini terhadap perempuan, dibuktikan bahwa pemikir paling optimis memiliki umur 5,2% lebih panjang (kira-kira 4,4 tahun). Dalam keadaan bahagia dan bersemangat, tentunya pekerjaan yang kita lakukan pun akan mencapai target maksimal, bukan?

Kedua tokoh penemu di atas membuktikan bahwa walaupun kita tidak memiliki pendidikan formal yang tinggi, bila kita berpikir positif dan optimis, maka kita akan mampu melakukan hal-hal yang luar biasa. Pemikiran yang positif pula yang akan mendorong kita untuk tidak menyerah setiap kali menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan.

Mari kita terapkan hal ini tidak hanya untuk kepentingan duniawi kita, tetapi juga untuk mempersiapkan bekal akhirat kita. Yakinlah bahwa kita pasti mampu meningkatkan ibadah kita. Kita harus berpikir positif bahwa kita akan mampu melaksanakan ibadah yang selama ini dirasakan berat atau kita kurang percaya diri dalam melaksanakannya.

Tanamkan keyakinan bahwa kita pasti berhasil dengan pertolongan Allah Ta’ala. Karena Allah sesuai prasangka hamba-Nya. Misalkan untuk berangkat ke tanah suci. Sikap optimis harus melekat dalam diri bahwa Allah akan memampukan kita. Allah akan memberikan karunia kesehatan dan rezeki untuk kita memenuhi panggilan-Nya.

Lalu dalam kegiatan bertabligh, yakinlah bahwa kita mampu menyebarkan kebenaran. Yakin bahwa kita bisa belajar lebih banyak dan membagikan ilmu pada orang lain. Jangan pernah merasa takut ataupun rendah diri.

Rasa percaya diri dan menghargai diri sendiri akan membuat pekerjaan menjadi lebih ringan, apalagi untuk melakukan kebaikan. Saat kita berpikir positif, kita akan lebih mudah berkomunikasi, dan apa yang ingin kita ungkapkan akan mudah dipahami orang lain.

Tugas bertabligh bukan hanya tugas para Mubaligh. Menyampaikan kebenaran adalah kewajiban individu. Tidak ada hal yang mustahil selama kita terus belajar dan mengerahkan seluruh kemampuan kita. Tentu saja semuanya harus disertai dengan doa yang penuh keyakinan pada Allah Ta’ala. Kita harus berprasangka baik bahwa Allah senantiasa akan menolong kita.

Husnuzan kepada Allah hukumnya wajib. Sesuai yang disampaikan Rasulullah saw., “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi)

Sumber: The Power of Positive Thinking – drscottlear.com

Views: 97

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *