ISTIQAMAH DALAM MENYEMBAH TUHAN HINGGA AJAL
Berita duka selama Ramadan datang silih berganti seakan turut menyambut keberkatannya. Tak ada yang luput darinya, semua mendapatkan bagiannya masing-masing tanpa ada diskriminasi. Karena semua makhluk bernyawa pasti akan menemui ajal.
Setiap insan yang hadir ke alam dunia akan menemui akhirnya. Ajal akan datang menjemput untuk kembali kepada Sang Pencipta. Penciptaan manusia sejak awal sudah ditegaskan oleh Allah hanya untuk beribadah dan menegakkan tauhid-Nya. Maka tak ada alasan bagi manusia untuk tidak beribadah.
Allah SWT. selanjutnya dalam Al-Qur’an kembali menegaskan bahwa:
“Dan sembahlah tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu.” [1]
Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa oleh karena tujuan utama misi Hadhrat Rasulullah saw. ialah menegakkan tauhid Ilahi, tidak lama lagi akan terpenuhi, maka dalam bersyukur yang penuh kegembiraan itu harus sambil memanjatkan puji-pujian kepada Tuhan dan bersujud kepadanya. [2]
Seiring dengan berjalannya waktu dan beragam pengaruh memasuki kesadaran manusia, maka keteguhannya untuk tetap berpegang pada tauhid Ilahi menemui pasang surut. Pasang surut ini tak lepas dari pantauan setan yang senantiasa berusaha mencari teman. Sebagaimana sabda Hadhrat Masih Mau’ud as.:
“Setan memanggil ke arah keburukan, pelanggaran, hawa nafsu, keangkuhan dan kebanggaan. Sedangkan Tuhan memanggil ke arah moral yang tinggi, kesabaran, menyatu dalam Tuhan, pengkhidmatan, ketulusan, keimanan dan keberhasilan. Manusia tegak di antara kedua daya tariknya. Siapa yang fitratnya terberkati ke arah Tuhan meskipun ribuan ajakan dan daya tarik setan menariknya. Orang semacam ini menemukan kepuasan dan kenikmatan hanya pada Tuhan.” [3]
Kehidupan manusia banyak sekali disibukkan oleh dunia. Seakan kehidupan tak akan berjalan bila tidak ditopang oleh dunia sehingga lupa kepada siapa yang telah menciptakan dunia. Hal ini diungkapkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as.:
“Orang-orang terlihat menyibukkan diri dalam urusan materi, menghitung uang. Tetapi mereka tidak pernah membuat perhitungan mengenai hidupnya. Malanglah kehidupan yang seperti ini. Hal yang paling penting untuk diperhitungkan hanyalah hidup, jangan sampai ketika kematian datang menjadi penyesalan. Kehidupan surga dimulai di dunia ini juga demikian juga dengan neraka. Saat manusia meninggal dengan penyesalan maka seolah-olah dia telah dilemparkan ke dalam neraka.” [4]
Alangkah beruntungnya bila kehidupan yang telah diberikan Tuhan dihiasi beragam ibadah agar membuat Sang Pencipta puas akan hasil karya ciptaan-Nya. Apalagi Ramadan baru saja selesai, bulan yang selalu dinanti karena keberkatannya. Ajang latihan beragam ibadah untuk diimplementasikan dalam 11 bulan berikutnya. Bekal untuk kehidupan yang abadi nanti.
Berusaha sekuat tenaga untuk tetap teguh dalam tauhid Ilahi bukanlah perkara gampang, akan tetapi hal itu juga bukan sesuatu yang tidak mungkin. Hadhrat Rasulullah saw. memberikan contoh sepanjang hidupnya dalam memegang teguh tauhid-Nya. Berusaha untuk tetap menyembah Tuhan sampai akhir hayat merupakan teladan yang diperlihatkan oleh beliau. Semoga kita bisa menjaganya sampai akhir kehidupan.
Referensi:
[1] QS. Al-Hijr 15: 100
[2] Tafsir QS. Al-Hijr 15: 100
[3] Malfuzat, Vol. II, hal. 169
[4] Malfuzat, Vol. II, hal. 183
Views: 40
