Kebaikan Tidak Mengenal Spesies

Seekor monyet dengan terampil mengendarai sebuah sepeda kecil, memakai topeng, berjalan berkeliling dengan memegang payung, dan melakukan banyak atraksi lainnya diiringi sorak sorai anak-anak. Terlihat sekali bahwa hewan yang selalu dikaitkan dengan teori Darwin itu telah dilatih dengan keras. Pertunjukan pun akhirnya berakhir, sebuah kaleng yang disodorkan sang pemilik hewan yang lincah itu akhirnya dipenuhi uang recehan.

Selanjutnya penulis membayangkan sang monyet akan mendapatkan beberapa buah pisang atau makanan kesukaannya. Yang mencengangkan, si pemilik hewan hanya memberi monyet itu sebuah permen karet. Miris rasanya melihat monyet itu mengunyah permen karet dengan susah payah. Bukan hanya monyet itu yang menderita, di pinggiran kota sering terlihat delman-delman yang dipenuhi penumpang dan barang, sedangkan kuda yang menariknya berlari dengan kepayahan diiringi cambukan dari sang kusir.

Kisah lainnya, kita juga sudah sering mendengar lumba-lumba yang dipaksa melakukan atraksi. Mamalia laut itu dipaksa berlatih dengan membuat mereka lapar dan sering menerima kekerasan fisik. Bukan hanya itu, lumba-lumba juga hanya ditempatkan dalam sebuah kolam kecil beralas terpal, dan saat dibawa bekerja berpindah-pindah kota hanya ditempatkan dalam sebuah kontainer sempit yang membuat mamalia laut itu stres.

Lumba-lumba yang hidup di laut lepas umumnya bisa berumur panjang sekitar 40 hingga 50 tahun. Tapi tidak bagi mereka yang menjadi pemain sirkus. Seorang aktivis pecinta hewan dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN) bernama Pramudya mengatakan bahwa lumba-lumba sirkus rata-rata umurnya hanya 5-6 tahun. [1]

Keserakahan telah membuat sebagian manusia kehilangan hati nurani dan tega memperlakukan hewan dengan kejam. Para manusia itu lupa bahwa hewan juga memiliki perasaan dan membutuhkan kasih sayang. Padahal Allah menciptakan hewan untuk keseimbangan alam dan membantu manusia dalam kehidupannya. Dan, sedikit pun manusia tidak memiliki hak untuk mengeksploitasi hewan-hewan itu.

Manusia memang memerlukan hewan dalam kehidupannya. Kita memakan daging hewan, memerah susunya, menunggangi dan juga bekerja bersama para binatang itu. Dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Nahl ayat 9: “Dan Dia telah menciptakan kuda, bagal, dan keledai, supaya kamu dapat menungganginya, dan juga sebagai sarana keindahan. Dan Dia akan menciptakan apa yang masih belum kamu ketahui.”

Ada adab yang harus kita lakukan dalam kehidupan kita bersama hewan-hewan itu. Kita memiliki kewajiban untuk menyayangi dan mengasihi hewan. Kita harus memberi makan dan minum apabila hewan peliharaan kita lapar dan haus. Kita tidak boleh mengurung hewan tanpa diberi makan, dan juga tidak membebani pekerjaan yang melebihi kadar kemampuan hewan tersebut.

Hadhrat Rasulullah saw. yang diriwayatkan Abu Dawud bersabda, “Takutlah kepada Allah dalam (memelihara) binatang-binatang yang tidak dapat bicara ini. Tunggangilah mereka dengan baik dan berilah makanan dengan baik pula.”

Hewan bisa mengantarkan kita ke surga, dan hewan juga bisa mengantarkan kita ke neraka. Sebagaimana dicantumkan dalam shahih Bukhari yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: “Ketika seorang laki-laki sedang berjalan, dia merasakan sangat kehausan. Ia kemudian turun ke sumur yang dilewatinya dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing yang sedang menjulurkan lidahnya dan menjilati tanah basah karena kehausan. Laki-laki tersebut kemudian mengatakan, ‘anjing ini kehausan sepertiku’. Laki-laki tersebut kemudian melepas sepatunya dan memegang dengan mulutnya untuk mengambil air di sumur, setelah itu ia naik dan memberi minum anjing tersebut. Allah kemudian senang dengan perbuatannya dan mengampuni dosa-dosanya.”

Lalu kebalikannya, ada satu kisah yang disampaikan oleh Rasulullah saw. dalam shahih Bukhari dan Muslim:
 “Ada seorang wanita yang diazab karena seekor kucing yang dikurungnya hingga mati, wanita itu masuk neraka karenanya. Kucing itu tidak diberinya makan, tidak diberinya minum, tidak pula dilepaskannya hingga dia bisa memakan hewan yang ada di tanah.” [2]

Hadis ini menjelaskan bolehnya memelihara hewan dengan syarat selalu memperhatikannya dan tidak mengabaikannya. Hukum memelihara hewan adalah boleh, baik itu dengan cara melepaskannya berkeliaran dalam pengawasan pemelihara maupun dengan cara mengurungnya dalam sangkar/kandang atau mengikatnya dengan rantai/tali.

Walaupun kita tidak memiliki hewan peliharaan, kita dapat membantu menyediakan makanan atau minuman untuk hewan-hewan yang berkeliaran di sekitar kita. Misalkan dengan menyediakan air dalam wadah dan diletakkan di depan rumah untuk minum kucing atau burung.

Hewan diciptakan oleh Tuhan yang sama, pencipta umat manusia. Manusia bisa menjadi penerima kasih sayang dan keridaan Allah Ta’ala dengan menunjukkan kebaikan kepada semua makhluk hidup lain yang menghuni planet ini. [3]

Rasulullah saw. juga bersabda dalam Misykat: “Semua makhluk adalah anak-anak Allah dan sebaik-baik kalian adalah yang memperlakukan makhluk-Nya dengan baik.” Sebarkan kasih sayang bukan hanya dengan sesama manusia, tetapi juga dengan makhluk ciptaan Allah lainnya.

Referensi:
[1] https://www.google.com/amp/s/nasional.tempo.co/amp/435234/jadi-binatang-sirkus-bikin-lumba-lumba-cepat-mati
[2] https://markazsunnah.com/masuk-neraka-karena-kucing
[3] https://ahmadiyah.id/bagaimana-ajaran-islam-dalam-memperlakukan-hewan.html

Views: 53

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *