KISAH PENGABULAN DOA: JALAN MENUJU PENGKHIDMATAN

“Sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”

(Al-Baqarah:187)

 

Agaknya ayat al-quran di atas sangat tepat dengan apa yang saya alami kala itu. Di tahun 2012-2016 saya berkuliah di salah satu Universitas Negeri di Jakarta dengan menggunakan beasiswa full dari pemerintah. Saat itu saya masih mubayin baru yang bai’at pada bulan November 2011 bersama kedua orang tua dan adik saya. Keluarga dari mamah saya hampir semuanya Jema’at sedangkan keluarga dari papah semua ghair ahmadi. Alhamdulillah keluarga besar papah tidak mempermasalahkan keputusan kami.

Saat berkuliah di Jakarta, saya tinggal bersama salah satu keluarga ibu. Karena kesibukan di universitas, jadi saya tidak begitu aktif di dalam kegiatan jemaat. Hanya salat jum’at yang rajin saya ikuti di Mesjid Balikpapan itupun ketika tidak ada jam kuliah atau halangan. Karena bagi saya salat jum’at dapat menenangkan hati saya, juga sebagai pengobat rindu dengan mamah yang ada di kampung serta hal ini juga salah satu cara saya untuk mendekatkan diri kepada Khalifah.

Berbeda hal nya ketika saya pulang ke kampung, selain salat jum’at, saya juga suka ikut acara Reboan (Mu’awanah) di Mesjid bersama mamah.

Suatu hari saat saya pulang kampung dan setelah sholat jum’at, ada pengumuman terkait penggalangan dana untuk merenovasi masjid. Mendengar itu saya ingin sekali berkontribusi, namun untuk dana sepertinya belum memungkinkan karena saat itu beasiswa perbulan tidak besar.

Melihat saya yang sedih tidak bisa ikut menyumbang dana. Mamah berkata, ”Niatkan saja dalam hati setelah lulus atau ketika ada peluang untuk berkhidmat Teteh bisa ikut berkontribusi. Untuk sekarang bersabar dulu, pakai uang nya untuk kuliah dan dawam bayar candah.” Ujar Mamah pelan.

Berkat ucapan Mamah kala itu saya bisa bersemangat kembali dan mulai menggali kira-kira apa yang dapat saya lakukan untuk jemaat selain dalam bentuk uang. Dan terbersit lah dalam hati saya bahwa, saya kan baru selesai mempelajari tentang instalasi listrik bangunan sederhana. Mungkin saya bisa membantu dengan mendesign atau mengecek instalasi listrik agar sesuai dengan PUIL (Peraturan Umum Instalasi Listrik)

Saya segera menghubungi teman, seorang khudam dan mengutarakan maksud saya yang ingin ikut berkhidmat dalam merenovasi masjid. Namun teman ia berkata, ”maaf untuk design nya sudah di buat dari PB (pengurus besar) dan kita hanya merealisasikannya. Untuk supervisi nya pun langsung dari PB.”

Mendengar itu ada rasa kecewa dalam diri saya karena tidak bisa ikut berkhidmat. Sampai sempat saya berfikir, ”mana mungkinlah saya seorang mubayin baru ini bisa kenal atau dapat kepercayaan dari PB untuk bergabung di tim perencanaan masjid dan bangunan-bangunan jemaat”.

Sangking sedih nya hati ini saya sempat berdoa kala itu.

”Ya Allah saya mubayin baru, ilmu dan keimanan saya tentang agama dan jemaat memang masih dangkal sekali bahkan mungkin tidak tau apa-apa. Saya hanya bisa design instalasi listrik, dan entah bagaimana caranya saya ingin menjadi salah satu orang yang berguna untuk jemaat di tim perencanaan. Saya tidak kenal siapapun di jemaat ini selain teman yang tidak banyak dan keluarga saya yang tidak seberapa ini, apalagi jika dibandingkan total keseluruhan anggota jemaat yang ada di Indonesia. Tapi saya ingin sekali bisa berkhidmat dan berguna untuk jemaat, tidak dibayar sekalipun tidak apa-apa.”

Doa ini saya ucapkan kala itu sambil beraktifitas, bukan dalam keadaan khusyu dan khusus dalam salat. Dan berjalannya waktu, do’a dan keinginan itu pun terlupakan begitu saja.

Sekitar akhir tahun 2016 saya di ajak om saya, yang juga merupakan lulusan Teknik Geofisika untuk bergabung di IAAAE (_International Assosiation of Ahmadyya Architects and Engineerings_). Sebagai lulusan Sarjana Pendidikan Teknik Elektro sangat bersemangat sekali karena bisa bertemu dengan para ahli arsitek dan engineering di jemaat. Meskipun saya kuliah keguruan namun minat saya lebih besar di bidang Teknik Elektro.

Setelah terbentuknya IAAAE sebagai fresh graduate yang belum banyak pengalaman saya lebih banyak diam dan memperhatikan saja.

Sampai suatu waktu sekitar tahun 2017 ada project pembangunan Mesjid di salah satu daerah di Jawa Tengah. Tentunya saya tidak berharap bisa gabung ke dalam tim karena keterbatasan ilmu saya. Hampir 1 bulan berlalu setelah project tersebut diinfokan di group. Tiba-tiba saya dihubungi oleh salah satu pengurus IAAAE untuk bergabung ke dalam tim perencanaan.

Tentunya dengan senang hati saya menyetujui dan memberitahu bahwa saya fresh graduate yang masih minim pengalaman di projects ini. Hanya pengalaman praktek di bengkel kampus dan ketika saat PKL saja. Alhamdulillahnya semua anggota tim tidak merasa keberatan dan memaklumi hal tersebut. Mereka membimbing saya ketika ada beberapa hal yang tidak saya ketahui dalam perencanaan. Beberapa kali design di ubah karena penyesuaian dana dan lokasi masjid yang unik. Setelah design beberapa kali diganti akhirnya pembangunan di mulai dan tahun 2018 mesjid selesai dibangun. Saya dipanggil ke pusat untuk rapat membahas final design. Saat itu semua tim disuruh menandatangani design yang sudah kita buat masing-masing mulai dari arsitek dan engineer.

Acara dilanjutkan sholat berjamaah di masjid. Ketika sedang khusyu sholat tiba-tiba saya teringat dengan doa saya yang beberapa tahun lalu saya ucapkan. Seluruh badan saya bergetar haru hingga tak terasa air mata berlinang dengan sendirinya. Doa yang dahulu saya panjatkan, kini telah terwujud dengan indahnya.

Setibanya di rumah, saya hubungi mamah melalui sambungan telepon dan menceritakan semuanya. Di sebrang sana terdengar dengan jelas suara haru dan rasa bangganya kepada saya.

Saat itu ada tim yang minta nomor rekening untuk memberikan fee. Namun, saya ingat dengan doa yang saya panjatkan dahulu bahwa “tidak dibayar pun tidak apa-apa” diawal menerima projects ini pun saya tidak berharap di bayar jadi rasanya malu sekali ketika saya harus mendapatkan bayaran atas keinginan dan doa yang saya panjatkan sendiri.

Namun sayangnya, hingga saat ini saya belum pernah menginjakan kaki ke masjid tersebut karena memang lokasinya cukup sulit untuk ditempuh oleh kendaraan umum. Tapi, beberapa tahun terakhir saya dapat informasi ternyata teman SMA saya yang menikah dengan seorang Mubaligh adalah orang pertama yang menempati masjid dan guest house tersebut. Masya Allah, berlipat-lipat kebahagiaan yang saya rasakan.

Ini hanya satu momen yang saya rasakan ketika sudah berbaiat dan masuk kedalam jemaat. Masih banyak lagi keberkahan yang saya rasakan di dalam jemaat ini. Seperti perjalanan saya ingin berbaiat dan harus menunggu selama 6 tahun, saat saya ingin menikah dengan khudam namun yang mendekati kebanyakan adalah ghair ahmadi, ketika saya ingin mendapatkan momongan dan juga ketika mamah meninggal dunia.

Inilah kisah awal pengkhidmatan saya sebagai mubayin baru jemaah ahmadiyah. Dan berkat dorongan berbagai pihak saya dapat mempelajari jemaah ilahi ini dengan lebih baik lagi.

 

Views: 28

1 thought on “KISAH PENGABULAN DOA: JALAN MENUJU PENGKHIDMATAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *