MELEPASKAN MASA LALU, MENJEMPUT DAMAI KEMBALI

Hidup adalah sebuah perjalanan panjang yang harus kita lewati. Banyak peristiwa dalam kehidupan sehari-hari yang membuat hati dan perasaan kita berubah-ubah, kecewa, marah, senang, sedih, terharu, dan berbagai rasa lainnya yang datang silih berganti. Namun tidak jarang kita dirundung kesedihan mendalam ketika hidup yang kita bayangkan tidak berjalan sesuai dengan harapan dan doa-doa yang telah kita panjatkan.

Adakalanya masalah dan cobaan yang menghampiri tidak kita sikapi dengan hati yang tenang. Justru sebaliknya, masa lalu yang kelam terus kita ratapi dan kita simpan rapat-rapat sebagai luka yang belum sembuh. Akibatnya, hari-hari kita terasa semakin berat dan sulit untuk dijalani. Kesedihan menjadi tirai yang menutupi cahaya, membuat kita enggan bangkit dari keterpurukan.

Mengenai hal ini, Hadhrat Ali bin Abi Thalib ra. memberikan sebuah nasihat yang berharga dan patut kita renungkan dengan hati yang jernih. Beliau berkata, “Jangan libatkan hatimu dalam kesedihan atas masa lalu atau kamu tidak akan siap untuk apa yang akan datang.” [1] Nasihat ini bukan hanya kalimat indah, tetapi sebuah bimbingan yang sangat dalam maknanya. Masa lalu dapat menjadi guru, tetapi tidak boleh menjadi belenggu yang terus mengikat langkah kita.

Dengan melepaskan beban masa lalu, kita memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk kembali berdiri, kembali tersenyum, dan kembali membuka hati terhadap berbagai kemungkinan baik yang disediakan Allah Ta’ala. Ketika pikiran dan hati lebih ringan, kita mampu melangkah dengan sikap yang lebih matang, lebih siap, dan lebih penuh harapan dalam menghadapi tantangan dan peluang yang datang kemudian.

Terlebih lagi, Islam mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak dianjurkan untuk tenggelam dalam kesedihan berlarut-larut. Kesedihan adalah fitrah, tetapi jika berlebihan, ia bisa menjadi pintu bagi keputusasaan. Maka ketika kita merasa sedih dan sulit melepaskan masa lalu, Islam mengarahkan kita untuk mendekat kepada Allah Ta’ala dan memohon pertolongan-Nya. Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang dan perlahan-lahan diberikan kekuatan untuk bangkit kembali.

Allah Ta’ala berfirman, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas.” [2] Ayat ini mengajari kita bahwa doa bukan sekadar permintaan, melainkan juga bentuk penyerahan diri dan pengakuan bahwa kita membutuhkan pertolongan-Nya. Ketika kesedihan membuat hati sempit, doa selalu menjadi jalan terbuka menuju kelapangan.

Masa lalu memang tidak bisa kita ubah. Ia akan tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup, baik berupa pengalaman yang manis maupun pahit. Untuk melepaskannya dibutuhkan waktu, usaha, dan kesabaran. Proses itu melibatkan introspeksi, penerimaan diri, dan bahkan pengampunan, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain yang mungkin pernah melukai.

Namun melepaskan masa lalu adalah langkah penting untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Dengan melepaskan beban yang menghambat, kita membuka ruang bagi pertumbuhan pribadi, kedamaian batin, serta peluang baru yang mungkin selama ini tertutup karena hati masih dipenuhi bayangan lama.

Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk terlepas dari masa lalu adalah berdamai dengannya. Caranya adalah dengan mengubah sudut pandang dan menempatkan masa lalu sebagai bagian dari proses pendewasaan diri. Jadikan ia sebagai pelajaran berharga yang pantas dikenang, bukan sebagai jerat yang menahan kebahagiaan. Hadapilah dengan senyuman dan keyakinan bahwa Allah Ta’ala selalu menyediakan jalan keluar bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh ingin memperbaiki diri.

Referensi:
[1] Nahjul Balaghah, Hikmah No. 349, Ali bin Abi Thalib ra.
[2] Qs. Al-A’raf, 7:56

Views: 130

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *