MEMAHAMI MAKNA DAN TUJUAN PUASA, MENUJU KETAKWAAN SEJATI

Bulan Ramadan adalah bulan yang mulia dan penuh keberkahan bagi umat Muslim. Ramadan merupakan momen istimewa untuk meningkatkan ketakwaan. Puasa, pilar utama bulan ini sering disalahpahami sebagai ritual menahan lapar dan haus. Puasa sejatinya melampaui rasa lapar dan haus. Ia adalah perjalanan spiritual untuk mencapai ketakwaan. Lebih dari sekedar menahan diri, puasa melatih kita untuk menguasai hawa nafsu dan kesenangan duniawi.

Di bulan Ramadan, fokus kita tertuju pada pengendalian diri dan peningkatan disiplin, mengantarkan diri agar dekat pada Allah Ta’ala melalui zikir dan ibadah yang lebih khusyuk. Allah Ta’ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, supaya kamu bertakwa.”[1]

Khalifatul Masih Al-Khaamis, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba. menjelaskan pentingnya puasa dalam Islam sebagai sarana untuk meraih ketakwaan dan keridaan Allah Ta’ala. Puasa tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus, namun merupakan perangkat untuk membersihkan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Dalam khutbahnya, Hadhrat Khalifatul Masih aba. menyampaikan bahwa puasa bukanlah praktik unik dalam Islam, tetapi juga ada dalam agama-agama terdahulu seperti puasa pada zaman Nabi Musa as. dan Nabi Daud as. Namun, kendati ada praktik puasa dalam agama lain, Islam menegaskan pentingnya puasa dengan dengan tujuan yang jelas yaitu untuk meningkatkan ketakwaan.

Hadhrat Khalifatul Masih aba. juga menekankan bahwa tujuan sejati puasa adalah untuk memutuskan hubungan dengan keinginan duniawi dan sepenuhnya mempersembahkan diri kepada Tuhan. Hal ini tidak hanya mencakup aspek fisik, tetapi juga aspek spiritual dan moral. Puasa dalam Islam mengajarkan kedisiplinan, kontrol diri dan empati terhadap sesama.

Selain itu, Huzur aba. juga menyampaikan pentingnya memanfaatkan bulan Ramadan sebagai kesempatan untuk meraih ampunan dosa dan mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah, introspeksi diri, dan amal saleh.

Puasa bukan sekedar praktik keagamaan tetapi juga merupakan peluang untuk transformasi spiritual yang mendalam. [2]

Dalam menjalankan ibadah puasa, kita seringkali dibayangi rasa lelah, haus dan lapar. Namun, bagi orang yang menjalankan ibadah puasa dengan ikhlas dan sabar maka Allah Ta’ala telah menjanjikan pahala yang berlipat ganda kepad orang tersebut. Bukan hanya itu, Allah Ta’ala juga berjanji akan melindungi serta mengabulkan doa orang-orang yang berpuasa. Hal ini telah diungkapkan oleh Hadhrat Khalifatul Masih ke II, Hadhrat Muslih Mau’ud ra., bahwa Allah Ta’ala telah berjanji untuk melindungi orang-orang yang berpuasa. Oleh karena itu, setelah menyebutkan puasa Allah Ta’ala juga membahas tentang dikabulkannya doa.

Bulan Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah dan introspeksi diri. Kita perlu merenungkan kualitas ibadah dan akhlak kita, serta mencari cara untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Semoga bulan Ramadan membawa berkah dan kebaikan bagi umat Islam seluruh dunia.

 

Referensi :

[1] QS. Al-Baqarah 2: 184

[2] Khutbah Jumat Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba. pada tanggal 12 Juli 2013

Views: 25

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *