MENGENAL ALLAH TA’ALA JALAN UTAMA KESELAMATAN DAN KETENTRAMAN HIDUP

Apakah setiap orang telah mengenal Penciptanya?

Pertanyaan ini mungkin agak asing kita dengar. Bahkan, bagi sebagian orang akan terasa aneh dan terkesan tidak penting. Padahal, sejatinya mengenal Allah dengan benar, atau dalam istilah ilmu Islam disebut ma’rifatullah, merupakan poin penting yang mampu menjadi sumber ketentraman hidup di dunia maupun di akhirat.

Orang yang tidak mengenal Allah, niscaya tidak akan mampu mengenal keselamatan dan kebaikan bagi dirinya. Orang yang tidak mengenal Allah akan dengan mudah melanggar hak-hak orang lain, menzalimi dirinya sendiri, dan menebarkan kerusakan di atas muka bumi tanpa sedikitpun mengenal rasa malu.

Itu sebabnya Islam melalui Hadhrat Rasulullah saw. menganjurkan agar umatnya benar-benar mampu mengenal wujud Allah Ta’ala sebagai jalan keselamatan dan kebaikan bagi dirinya sendiri. Sebagaimana Hadhrat Rasulullah saw. bersabda:

“Kenalilah Allah di waktu luang, maka Allah akan mengenalmu di waktu sempit.”[1]

Sejauh apa seseorang telah mengenal Allah? Sebagai tolok ukur seseorang telah mengenal Penciptanya, ada beberapa poin yang bisa kita ambil dari Al-Qur’an maupun Sunnah Hadhrat Rasulullah saw., berikut beberapa diantara cirinya:

Orang yang mengenal Allah, akan muncul rasa takut dalam dirinya.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah orang-orang yang berilmu saja.” [2]

Dalam tafsir dari ayat ini dijelaskan bahwa ungkapan, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya yang berilmu,” memberikan bobot arti kepada pandangan, bahwa ketiga kata itu menggambarkan tiga golongan manusia, yang di antara mereka itu hanya mereka yang dikaruniai ilmu, yang merasa takut kepada Tuhan. Akan tetapi, di sini ilmu itu tidak seharusnya selalu berarti ilmu keruhanian, akan tetapi jugak pengetahuan hukum alam. Penyelidikan yang seksama terhadap alam dan hukum-hukumnya niscaya membawa orang kepada makrifat mengenai kekuasaan Maha Besar Tuhan dan sebagai akibatnya merasa kagum dan takzim terhadap Tuhan. [3]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ibnu Mas’ud pernah mengatakan, ‘Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai bukti keilmuan.’ Kurangnya rasa takut kepada Allah itu muncul akibat kurangnya pengenalan/ma’rifah yang dimiliki seorang hamba kepada-Nya. Oleh sebab itu, orang yang paling mengenal Allah ialah yang paling takut kepada Allah di antara mereka. Barangsiapa yang mengenal Allah, niscaya akan menebal rasa malu kepada-Nya, semakin dalam rasa takut kepada-Nya, dan semakin kuat cinta kepada-Nya. Semakin pengenalan itu bertambah, maka semakin bertambah pula rasa malu, takut dan cinta tersebut.” [4]

Selalu mengintrospeksi diri dengan banyak mengingat akhirat dan tidak silau akan dunia.

Seseorang yang mengenal Allah akan lebih banyak mengintrospeksi diri, mengutamakan kehidupan akhirat, karena ia tahu bahwa kesenangan dunia adalah sesuatu yang akan binasa.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka akan Kami sempurnakan baginya balasan amalnya di sana dan mereka tak sedikitpun dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak mendapatkan apa-apa di akherat kecuali neraka dan lenyaplah apa yang mereka perbuat serta sia-sia apa yang telah mereka kerjakan.”[5]

Karena itu Hadhrat Rasulullah saw. mengingatkan kita agar selalu memperbanyak amalan kita, sebagaimana beliau bersabda:

“Bersegeralah dalam melakukan amal kebaikan, sebelum datangnya fitnah-fitnah (ujian dan malapetaka) bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita, sehingga membuat seorang yang di pagi hari beriman namun di sore harinya menjadi kafir, atau sore harinya beriman namun di pagi harinya menjadi kafir, dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan duniawi semata.” [6]

Orang yang mengenal Allah merasakan manisnya iman dan tulus beribadah kepada-Nya.

Ketika seseorang telah mengenal wujud Allah Ta’ala dengan benar, maka akan merasakan kenikmatan dalam beribadah, kecintaan akan wujud Allah Ta’ala memenuhi relung hati dan jiwanya, sehingga tidak ada kemalasan yang timbul dalam dirinya untuk melakukan ibadah dan amal kebaikan. Sebagaimana Hadhrat Rasulullah saw. bersabda, “Ada tiga perkara, barangsiapa memilikinya maka dia akan merasakan manisnya iman, di antaranya, Allah dan rasul-Nya lebih dicintainya daripada segala sesuatu selain keduanya.” [7]

Ketika seseorang sudah mencapai tahap pengenalan yang sempurna akan wujud Allah Ta’ala, maka segala sesuatu yang ia lakukan hanya berdasarkan pada ridha Allah Ta’ala saja. Hatinya akan dipenuhi kecintaan pada Allah, keimanannya akan terus bertambah meskipun berbagai ujian diberikan padanya. Dia tidak lagi merasa ada beban yang berat dalam menjalani kehidupan. Karena dia tahu, Allah Ta’ala adalah sebaik-baik tempat bersandar dan sebaik-baik wujud yang mampu memberikan pertolongan dari segala persoalan, sehingga ketentraman hidup dapat dia rasakan, tidak hanya di dunia namun hingga ke akhirat dengan bekal amal ibadah yang lebih sempurna.

Mari kita menilai diri sendiri, sudah sejauh mana kita mengenal wujud Allah Ta’ala?

Referensi:

[1] HR. At-Tirmidzi

[2] QS. Fathir 35: 29

[3] Tafsir QS. Fathir 35: 29, No. 2419

[4] Thariq al-Hijratain, dinukil dari adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [5/97]

[5] QS. Hud 11: 16-17

[6] HR. Muslim

[7] HR. Bukhari dan Muslim

Views: 66

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *