Menghilangkan Rasa Sakit Orang Lain: Esensi Sejati dari Kemurahan Hati
Di era digital yang serba instant ini, tak jarang kita temukan hal-hal yang menunjukkan hilangnya kepedulian terhadap sesama. Masyarakat modern yang dalam menjalani kehidupannya tak lepas dari gadget, seringkali mengabaikan nilai-nilai moral dan akhlak yang sebenarnya sangat penting dalam membangun hubungan sosial yang harmonis.
Penggunaan media sosial yang berlebihan, telah membuat kita lebih fokus pada kehidupan virtual daripada kehidupan nyata. Kita seringkali lebih peduli dengan likes dan followers daripada dengan keadaan orang lain di sekitar kita. Namun, di tengah kehidupan yang serba digital ini, sebagai muslim kita harus senantiasa ingat, bahwa sifat murah hati dan kepedulian terhadap sesama adalah nilai-nilai yang tidak pernah ketinggalan zaman.
Kemurahan hati adalah salah satu sifat yang mulia dalam ajaran Islam. Hadhrat Rasulullah saw sendiri telah mencontohkan kemurahan hati yang luar biasa dalam kehidupannya. Salah satu contoh yang paling terkenal adalah kisah tentang seorang wanita Yahudi yang selalu menyakiti beliau dengan melempar kotoran ke arahnya. Namun, Hadhrat Rasulullah saw tidak pernah membalas kejahatan itu dengan kejahatan, malah beliau tetap menunjukkan kasih sayang dan kemurahan hati kepada wanita tersebut.
Suatu hari Hadhrat Rasulullah saw tidak melihat wanita Yahudi tersebut dan bertanya tentang keadaannya. Para sahabat menjawab bahwa wanita itu sedang sakit. Hadhrat Rasulullah saw kemudian pergi ke rumah wanita itu untuk menjenguknya. Wanita Yahudi tersebut sangat tersentuh oleh kebaikan Hadhrat Rasulullah saw dan akhirnya memeluk Islam. [1]
Contoh lainnya diriwayatkan oleh Abu Musa Asy’ari, jika seorang miskin menghadap Hadhrat Rasulullah saw dan mengajukan permintaan, beliau biasa bersabda kepada orang di sekitar beliau, “Kamu juga hendaknya memenuhi permintaannya itu sehingga mendapat pahala sebagai orang yang berperan serta dalam menggalakkan perbuatan baik.” Dengan tujuan membangkitkan rasa untuk menolong si miskin di satu pihak dalam hati para sahabat, dan di pihak lain menimbulkan kesadaran dalam hati kaum fakir miskin adanya cinta dan rasa kasih saudara-saudara mereka yang kaya. [2]
Kisah-kisah di atas menunjukkan bahwa kemurahan hati bukan hanya tentang memberikan sesuatu kepada orang lain, tapi juga tentang berusaha keras untuk menghilangkan rasa sakit, kesusahan, atau kesulitan orang lain. Hadhrat Rasulullah saw tidak hanya memberikan kasih sayang kepada wanita Yahudi itu, tapi juga berusaha untuk mengubah kehidupannya dengan memberikan hidayah Islam. Tepatlah kiranya jika sahabat Abu Bakar ra menasihatkan, “Berusaha keras untuk menghilangkan rasa sakit orang lain adalah esensi sejati dari kemurahan hati.”
Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga dapat menunjukkan kemurahan hati dengan cara yang sederhana. Misalnya, senantiasa tersenyum ketika bertemu orang lain, membantu saudara yang sedang kesulitan, berusaha empati terhadap kondisi orang yang kesusahan, atau bersedia menjadi pendengar bagi mereka yang membutuhkan teman bicara. Semua tindakan kecil ini dapat membuat perbedaan besar dalam kehidupan orang lain.
Dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Allah swt juga menekankan pentingnya kemurahan hati, “…dan berbuat baiklah kepada orang lain, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” [3] Kebaikan-kebaikan yang dilakukan dengan niat yang tulus untuk menghilangkan rasa sakit atau kesulitan orang lain, merupakan esensi sejati dari kemurahan hati.
Referensi:
[1] www.solopeduli.com
[2] HR. Bukhari dan Muslim, Buku Pengantar Mempelajari Al-Qur’an, hal. 448
[3] QS. Al-Baqarah: 196
Views: 211
