RAMADAN TANPA AL-QURAN, APAKAH BERARTI KITA KEHILANGAN HAKIKATNYA?
Bulan suci Ramadan adalah bulan penuh berkah yang dinantikan dan disambut dengan sukacita oleh umat Islam di seluruh dunia. Segala persiapan dilakukan untuk menyambutnya, mulai dari kesehatan hingga perlengkapan ibadah.
Namun, perlu diingat bahwa puasa Ramadan bukan sekadar menahan makan dan minum dari fajar hingga senja, atau melaksanakan salat Tarawih, lalu merasa cukup untuk meraih ketakwaan. Hal itu tidaklah memadai tanpa perhatian khusus kepada Al-Qur’an.
Sebagaimana ditekankan oleh Hz. Khalifatul Masih V atba:
“Berpuasa dan beribadah saja tidaklah cukup, melainkan di bulan ini perhatian kalian juga hendaknya tertuju pada Al-Qur’an Karim.”
Nasihat ini menyentuh inti esensi Ramadan yang kerap terlupakan. Beliau tidak hanya mengingatkan, tetapi mengangkat standar spiritual kita. Ibadah puasa dan Tarawih bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mengarahkan hati kepada Kalamullah.
Allah Ta’ala berfirman:
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata mengenai petunjuk dan Furqan…” (Q.S: Al-Baqarah:186)
Oleh karena itu, Ramadan harus menjadi momen untuk mengalihkan fokus kepada Sang Pemberi Petunjuk, bukan hanya pada aturan formal ibadah. Sebagaimana ditegaskan dalam khutbah Khalifah V Hadhrat Mirza Masroor Ahmad atba., siapa pun yang ingin imannya maju, mendambakan qurb Ilahi, atau merindukan zaman Rasulullah saw., harus menunaikan hak Ramadan dan Al-Qur’an dengan memahami hubungan hakiki antara keduanya.
Hak Al-Qur’an itu adalah membacanya secara rutin dan sungguh-sungguh, merenungkan maknanya, serta menelaah tafsirnya. Banyak yang lalai dalam hal ini, membaca hanya sekadarnya tanpa perhatian mendalam. Padahal, berdasarkan teladan Nabi saw., kita hendaknya menargetkan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an minimal sekali disertai perenungan. Dengan demikian, kita baru dapat mengamalkan hakikatnya sebagai “petunjuk bagi manusia” (هدى للناس).
Petunjuk itu hanya dapat diraih melalui pembacaan, pendalaman, dan pengamalan dengan kesadaran penuh. Allah menjadikan petunjuk-Nya disertai dalil yang jelas (بيّنات من الهدى), agar kita mampu menyampaikannya kepada orang lain dan memenuhi perintah tabligh.
Tujuan akhir dari ibadah Ramadan dan interaksi dengan Al-Qur’an adalah transformasi diri menjadi pribadi yang bertakwa. Sebagaimana pesan Khalifah, Al-Qur’an harus menjadi cahaya yang membahagiakan dan memberi manfaat abadi bagi jiwa, jauh melampaui bulan Ramadan.
Ramadan adalah kesempatan tahunan untuk mengisi ulang spiritualitas langsung dari Sumbernya. Mari jadikan Ramadan ini sebagai bulan di mana mushaf tak lagi berdebu, hati tak lagi lalai, dan setiap hari kita rasakan kedekatan baru dengan Kalamullah.
Referensi:
(1) Kitab Suci Al-Qu’an dengan Terjemah dan Tafsir Singkat, Neratja Press, 2023.
(2) Ramadhan dan Al-Qur’an: Sumber Petunjuk dan Keselamatan https://ahmadiyah.id/khotbah/ramadhan-dan-al-quran-sumber-petunjuk-dan-keselamatan
Puasa Ramadhan https://ahmadiyah.id/khotbah/puasa-ramadhan
Views: 58
