TAK SEMUA AMAL KEBAIKAN ITU BAIK DAN BENAR

Manusia sesungguhnya adalah makhluk yang lemah dan tak berarti apa-apa. Tanpa karunia Allah Taala, bahkan dalam melakukan amal kebaikan saja, manusia mudah sekali terkecoh.

 

Allah Taala sendiri menyampaikan dalam firman-Nya,

“…dan boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu, dan Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2: 217)

 

Sesuatu yang manusia pandang baik, belum tentu baik dalam pandangan Allah Taala. Dan sesuatu yang dalam pandangan manusia itu buruk, belum tentu buruk dalam pandangan Allah Taala. Walaupun ayat ini sebenarnya berbicara mengenai perintah untuk mengangkat senjata atas serangan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy kepada kaum Muslim, namun firman ini pun sangat bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Dalam melaksanakan amal kebaikan, tak semua hal yang baik itu benar untuk dilakukan. Sebuah kutipan disampaikan oleh Ibnu Rajab Al Hambali, “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya. Barangsiapa beramal kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain maka itu adalah tanda diterimanya amalan, dan barangsiapa beramal kebaikan kemudian diikuti dengan keburukan maka itu tanda tertolaknya amal.”

 

Kutipan ini menjelaskan bagaimana sebuah amal kebaikan itu memang baik dan diterima oleh Sang Maha Pemilik segala kebaikan. Bahwa apabila dengan melakukan kebaikan tersebut, kita semakin terpacu untuk berbuat kebaikan lebih banyak lagi, maka insyaallah amal kebaikan kita telah diterima oleh Allah Taala.

 

Akan tetapi, apabila amal kebaikan yang kita lakukan justru diikuti dengan keburukan setelahnya, maka itu pertanda bahwa amal yang kita lakukan bukanlah kebaikan dan tidak diterima Allah Taala. Amal kebaikan yang diterima Allah Taala adalah amal kebaikan yang dilakukan bersandarkan pada keimanan yang hakiki dalam diri seseorang.

 

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Al-Masih Al-Mau’ud a.s. dengan sangat indah menyampaikan:

“Jika di dalam diri manusia tercipta keimanan hakiki maka dia merasakan suatu kelezatan khusus dalam melakukan amal-amal baik, dan mata makrifatnya menjadi terbuka. Dia mengerjakan salat sedemikian rupa seperti yang memang sepatutnya salat itu dikerjakan. Pada dirinya timbul rasa benci terhadap dosa-dosa. Dia tidak suka terhadap perkumpulan yang kotor, dan dia mendapatkan suatu semangat dan dorongan khusus di dalam kalbunya untuk memperlihatkan keagungan dan keperkasaan Allah Taala serta Rasul-Nya.” (Malfuzat, jilid I, hlm. 376)

 

Demikianlah sebuah amal kebaikan yang lahir dari keimanan hakiki, melahirkan lebih banyak kebaikan-kebaikan lainnya yang deras seperti sungai yang jernih lagi sejuk airnya. Namun, sekali lagi, amal kebaikan hanya akan benar-benar kebaikan dalam pandangan Allah Taala dan akan diterima oleh-Nya serta akan melahirkan lebih banyak lagi kebaikan bila dilakukan bersandarkan pada keimanan yang hakiki.

 

Dalam bukunya, Filsafat Ajaran Islam, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menyampaikan sebuah contoh:

“…bayi yang masih menyusu pun—disebabkan oleh umurnya yang masih dini—memiliki kepolosan alami. Dan kemudian, dikarenakan oleh umur yang masih dini ia belum biasa terhadap kebiasaan-kebiasaan buruk. Ia demikian rupa tidak menyukai barang milik orang lain, sehingga ia sulit sekali menetek dari perempuan lain. Jika di waktu masih belum punya kesadaran tidak ditetapkan seorang ibu-inang, maka ketika sudah memiliki kesadaran sangatlah sukar memberikan susu kepadanya dari perempuan lain, dan jiwanya sangat menderita. Dan mungkin sekali akibat penderitaan itu ia bisa mati, sebab secara thabi’i (alami) ia tidak suka menyusu dari perempuan lain.” (Filsafat Ajaran Islam, hlm. 53)

 

Fitrat ini, yaitu tidak menyukai apalagi menginginkan milik orang lain, sesungguhnya telah tertanam dalam diri manusia. Namun ia tak bisa disebut sebagai amal kebaikan selama tidak dilakukan sesuai dengan tempat dan kondisi yang tepat. Ketika manusia sudah dewasa dan bisa berpikir, hanya keimanan hakikilah yang mampu mengarahkannya untuk menampilkan akhlak dan amal kebaikan yang sejati.

 

Selama tidak ada iman yang sejati, yang sungguh-sungguh meyakini keesaan dan kekuasaan Allah Taala, maka segala amal kebaikan yang dikerjakan belum tentu kebaikan yang sesungguhnya, yang juga akan melahirkan kebaikan-kebaikan lainnya.

 

 

Views: 38

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *