Buah Kesabaran dalam Pernikahan

Pada awal pertemuan dengan suaminya, Melati selalu menjadi dirinya sendiri. Ia tidak pernah mencoba untuk menjadi orang lain. Ia tidak pernah berpura-pura seperti layaknya kebanyakan manusia yang di awal selalu berusaha menampakkan kebaikan dan kebagusan.

Baginya semua harus berjalan dengan organik, dengan ketulusan dan kejujuran. Dan semua harus dimulai dari diri sendir. Harapannya, jika ia menjalankan sesuatu dengan ketulusan dan kejujuran secara organik, orang lain pun akan melakukan hal yang sama.

Namun sebaliknya, suami Melati tidak pernah secara transparan menjelaskan tentang dirinya dan keluarganya. Melati hanya ingin berbaik sangka terhadap segala sesuatunya dengan niat baiknya. Dan melangkahlah mereka ke dunia rumah tangga.

Pada awal pernikahan, Melati merasa sangat beruntung dan bahagia. Di tengah banyaknya laki-laki yang menikah hanya untuk menumpang hidup, membiarkan istrinya yang banting tulang mencari nafkah, suami Melati bekerja dengan rajin.

Melati dan suaminya, mereka sama-sama bekerja. Suaminya begitu penuh perhatian pada orang tua dan saudara-saudaranya. Keluarga ini begitu baik dan hangat, penuh perhatian.

Setiap awal pernikahan adalah seperti bayi yang baru terlahir. Semua adalah pengalaman pertama, semua masih harus saling belajar. Namun baru saja beberapa bulan, satu persatu menjadi gamblang dan terlihat dengan terbuka.

Semua yang menjadi prinsip dasar Melati tentang ketulusan dan kejujuran yang dipegang teguh dan tidak dapat dikompromikan, malah ditampakkan jelas oleh pasangan dan keluarganya. Semua yang begitu rendah dan dapat mendatangkan murka Allah Ta’ala tampak di hadapan Melati.

Mulai dari meminta selain hanya kepada Allah Ta’ala, saling memakan daging saudaranya sendiri, menyatukan yang thayyib dengan yang tidak thayyib, membiasakan diri berhutang, semua ditampakkan dengan jelas. Impian Melati untuk membuat pernikahannya lebih baik dari pernikahan kedua orang tua mereka nampak mustahil.

Ketika suami Melati sudah mulai mapan dan dapat membiayai keluarga kecil mereka, Melati memutuskan untuk berhenti bekerja. Melati ingin dinafkahi dan bukannya menafkahi. Dan ketika Melati berhenti bekerja, ibu mertuanya semakin menjadi-jadi.

Hadirnya buah hati membuat Melati lebih mempunyai harapan. Buah hatinya menjadi tempat curahan penuh cinta, cinta tanpa syarat seperti yang seharusnya, cinta dengan ketulusan dan kejujuran.

Dengan sepenuh jiwa dan raga Melati mengasuh buah hatinya. Melati berjuang lebih keras lagi. Dia membenahi semua kekurangan dan kelemahan yang ada pada dirinya dan suaminya serta keluarganya, agar jangan sampai ada setitik noda pun yang mengotori buah hatinya.

Tahun demi tahun berlalu, berulang kali suami Melati terjatuh dengan kesalahan yang sama tetapi tetap juga tidak mau belajar dari kesalahannya, semua selalu berlalu begitu saja. Padahal, dalam keadaan suaminya jatuh dan ibunya pun sudah dalam keadaan sakit dan tidak berdaya di tempat tidur, Melati mengurus ibu mertuanya dengan tangannya sendiri.

Tidak putusnya Melati berharap dan memohon dalam tiap doa dalam sujudnya agar suaminya mau belajar dan memperbaiki kelemahannya. Namun belum membuahkan hasil.

Marah, kecewa sudah terlalu dalam. Mengajarkan atau meluruskan pasangannya sudah dilakukannya. Namun sesuatu yang sudah tertanam di dalam jiwa manusia sejak kecil dan dibenarkan seperti sebuah batu yang sudah mengeras.

Apakah pilihannya adalah pergi dari pernikahannya? Tapi Melati telah berkomitmen pada dirinya sendiri ketika ia memutuskan untuk menikah, maka itu untuk selamanya, sampai maut yang memisahkan.

Bertahan dalam pernikahan tanpa ketulusan dan kejujuran? Apakah mungkin? Apakah mampu? Hanya dengan karunia dan pertolongan Allah Ta’ala saja. Hanya Allah Ta’ala yang Maha Membolak-balikkan hati.

Melati selalu berdoa, di sisa perjalanan pernikahannya ia hanya ingin beribadah kepada-Nya, dengan menjalankan pernikahannya sebaik-baiknya dengan ketulusan dan kejujuran. Dan jika Allah Ta’ala berkehendak, maka Dia yang akan mengubah pasangannya.

Seperti yang terdapat pada HR. Abu Dawud, “Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya hati seorang hamba berada di antara dua jari-jari dari jari-jari Rahman, Dia membolak-balikkannya sesuai dengan kehendak-Nya.””

Tidak ada satu pun manusia yang tidak pernah berbuat kesalahan, tidak ada satu pun manusia yang sempurna. Namun segala sesuatunya, terutama dalam sebuah hubungan apa pun; mau dengan siapa pun; harus dilandasi dengan ketulusan dan kejujuran.

Dengan ketulusan dan kejujuran dalam mengasuh buah hatinya, kini buah hati Melati telah tumbuh menjadi laki-laki dewasa. Laki-laki dewasa yang penuh cinta dan kelembutan namun tegas. Anak soleh versi terbaik dari suami Melati yang takut akan Allah Ta’ala.

Keteguhan keduanya mendoakan suami dan ayahnya, telah menarik karunia Allah Ta’ala dengan kasih sayang-Nya. Kini, alhamdulillah, suami Melati menjadi versi terbaik dari seorang suami dan ayah yang dapat menjadi imam yang sesungguhnya dalam keluarga kecil mereka. kesabaran

Kesabaran, keteguhan, dan keyakinan akan kuasa Allah Ta’ala dari Melati dan juga anaknya, akhirnya membuahkan hadiah yang bahkan jauh lebih baik dari yang selama ini didoakan.

Visits: 61

Karina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *