Emas Diukur dari Karat, Manusia Diukur dari Manfaat

Gadis berniqab itu masih duduk tersedu di luar ruang sidang. Tatapan sendunya masih tak mampu menahan bulir bening yang belum mau berhenti mengalir dari sudut matanya.

Baru saja Ainun menumpahkan segala kesedihan hatinya kepada ibunda tercinta lewat panggilan video. Ainun merasa sangat kecewa karena tak satupun rekan-rekan mahasiswi kampusnya yang bisa hadir untuk memberikan support saat ia menghadapi sidang seminar proposal hari itu.

Padahal selama ini Ainun berusaha selalu siap dan ada untuk mereka, di saat mereka membutuhkan bantuan. Hal inilah yang membuat Ainun menjadi bersedih dan merasa rendah diri karena di hari pentingnya, ia seakan tak dianggap serta disepelekan oleh rekan-rekannya.

“Sayang… Boleh Ainun lihat sebentar video yang Ibu kirim barusan, Nak.”

Ainun menyeka kembali air matanya dan mengecek video yang masuk ke gawainya. Pada video itu, tampak seorang dosen berdiri di depan para mahasiswanya sambil memegang uang USD 100. Dia mengatakan kepada mereka, “Angkat tangan jika kamu menginginkan uang ini.”

Setiap tangan di ruangan itu terangkat, lalu dosen berkata, “Saya akan memberikan uang ini kepada seseorang di sini, tetapi pertama-tama, izinkan saya melakukan ini…”

Dosen meremas-remas uang di tangannya hingga kusut, kemudian bertanya, “Siapa yang masih menginginkannya?” Tangan para mahasiswa tetap tegak.

Dosen itu kemudian menjatuhkan uang USD 100 ke lantai, menginjak-injaknya di lantai hingga lusuh dan berdebu, kemudian mengambilnya kembali. “Bagaimana kalau sekarang?” dia bertanya lagi.

Tangan para mahasiswanya tetap tegak. “Kelas, saya harap kalian melihat pelajarannya di sini. Tidak peduli apa yang saya lakukan terhadap uang ini, Anda tetap menginginkannya karena nilainya tetap sama. Meski kusut dan kotor, harganya tetap USD 100.”

Dia melanjutkan, “Hal yang sama terjadi pada kita. Akan ada saat-saat serupa dalam hidup kalian ketika kalian terjatuh, memar, dan berlumpur. Namun apapun yang terjadi, kalian tidak akan pernah kehilangan nilai kalian, kecuali kalian yang merusaknya.”

Ainun terpaku, menarik napas dalam dan kini bulir bening di matanya sudah berhenti mengalir.

“Ainun sayang, Ainun sama bernilainya dengan uang itu. Bahkan lebih. Karena selama ini Ainun telah memberikan yang terbaik buat rekan-rekan Ainun. Ainun akan tetap memiliki nilai yang sama dengan ataupun tanpa rekan-rekan yang mendampingi Ainun saat ini.”

“Sayang, nilai seseorang itu tidak diukur dari seberapa terkenalnya dia, seberapa tinggi ilmunya, seberapa berlimpah harta bendanya, atau seberapa banyak temannya saat menikmati kebahagiaan. Namun nilai seseorang itu diukur dari seberapa banyak ia bisa memberikan manfaat untuk sesama manusia dan makhluk Tuhan lainnya.”

“Ibu yakin, Ainun selalu bisa melakukan yang terbaik meskipun Ainun diperlakukan tidak baik ya, Sayang. Di dunia ini masih banyak orang-orang yang berhati mulia. Jika saat ini Ainun belum menemukannya, maka jadilah salah satu dari mereka, pasti Allah akan selalu menjaga dan membersamai langkah Ainun.”

“Saat ini Ibu mungkin belum bisa mendampingi Ainun, tapi yakinlah, do’a Ayah dan Ibu selalu mengalir untuk Ainun. Ainun adalah putri terbaik di hati Ayah dan Ibu. Semangat ya, Sayang,”

Ainun mengangguk. “Terimakasih, Bu, sudah selalu menguatkan Ainun,” jawab Ainun dengan senyum di bibirnya.

Segera sang ibu menutup pembicaraan mereka dengan ucapan salam dan senyum hangat saat melihat tatapan mata putri tercintanya kembali berbinar. Ainun sadar bahwa ia masih memiliki kedua orang tua yang selalu mendukungnya dengan sepenuh hati.

Gadis berniqab itu pun segera melangkah penuh semangat untuk mempersiapkan laporan penelitian tugas akhirnya yang sudah di depan mata. Saatnya membuktikan bahwa ia memiliki kemampuan yang sama seperti rekan-rekan sesama mahasiswa lainnya.

Ainun tak lagi peduli, apakah kehadirannya di antara mereka benar-benar diharapkan atau hanya dianggap sebagai pelengkap saat dibutuhkan saja, yang pasti ia masih bisa memberikan manfaat untuk orang lain.

Dalam menjalin hubungan sosial dengan beragam karakter manusia di dunia, akan selalu ada saat ketika kita merasa rendah diri dan tak berharga. Terlebih ketika kita dihadapkan pada mereka yang tak menghargai jerih payah dan upaya kita atau mungkin kita tidak mendapatkan feedback dari kebaikan yang telah kita lakukan.

Namun jika semua kebaikan yang kita lakukan benar-benar ikhlas, rasa kecewa dan rendah diri itu tak akan menghampiri. Nilai diri dan kebaikan yang kita lakukan tak akan berkurang meski dengan atau tanpa apresiasi dari orang lain.

Seperti halnya kadar emas yang diukur dari karatnya, maka kadar manusia diukur dari manfaat yang bisa dia berikan untuk orang-orang di sekitarnya. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.”

Tak ada alasan apapun yang bisa membuat kita rendah di hadapan siapapun, selagi kita bisa memberikan manfaat bagi banyak orang. Seperti sebuah kutipan berharga dari seorang tokoh wanita Amerika,
“Tidak ada yang bisa membuatmu rendah diri tanpa persetujuanmu.”
[Eleanor Roosevelt]

Tetaplah menjadi pribadi yang kuat, yang tetap bisa memberi manfaat sekecil apapun bagi kehidupan di sekitar kita. Karena harga diri kita bergantung pada diri kita sendiri, hargailah diri sendiri dengan terus berupaya memberikan kebaikan dan manfaat bagi orang lain tanpa mengharap apapun dari mereka, karena Tuhan Maha Melihat Segalanya.

Visits: 63

Aisyah Begum

2 thoughts on “Emas Diukur dari Karat, Manusia Diukur dari Manfaat

  1. Jazakumullah Ahsanal Jaza sudha menjadi ibu yang hampir sempurna untuk anak gadis mu ini, terimakasih sudah tetap bangga atas semua pencapaian yang sudha kk capai sampai saat ini. I LOVE YOU MORE 🥰🥰😞

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *