Keselarasan Ucapan Dan Perbuatan Saat Bertabligh

Kita sebagai mukmin yang merupakan makhluk ciptaan Allah SWT harus mampu memahami tujuan dan tugas kita sebagai makhluk ciptaan-Nya, yaitu untuk taat dan menghamba kepada Allah SWT.

Karena pasti sebagai seorang mukmin yang telah mendapat petunjuk dari Allah SWT kita juga menginginkan agar orang lain mendapat petunjuk sama seperti kita. Sebab, keimanan seseorang tidak dianggap sempurna sampai dia mencintai kebaikan untuk saudaranya yang ia cintai.

Dalam hal bertabligh, orang yang tulus dalam bertabligh, kalimat-kalimat yang keluar dari bibirnya yang manis itu harus benar-benar bersumber dari hati kecil yang terdalam yang penuh kecintaan. Karena di hadapannya ada seseorang yang sedang dalam upaya tabligh agar mampu diarahkan menuju jalan Tuhan.

Dengan cinta yang tulus kepada saudara seiman dan belas kasihan kepada seluruh manusia, maka kita harus berusaha sekuat tenaga untuk menunjukan serta membimbing orang lain ke arah jalan yang telah dirahmati oleh Allah SWT.

Adapun faktor-faktor yang sangat menentukan keberhasilan kegiatan pertablighan, yakni akhlak dan budi pekerti yang baik dari orang-orang yang sedang bertabligh. Pesan-pesan kebaikan dalam pertablighan akan menjadi sempurna diterima orang yang mendengarnya apabila si penyampai pesan, yaitu penabligh, telah terlebih dahulu mampu melaksanakan kebaikan tersebut dengan ikhlas. Antara kata dan perbuatan tidak bertolak belakang. Benar-benar selaras.

Sesungguhnya, perkara yang paling ideal untuk orang yang sedang bertabligh adalah dia mengucapkan atau menasehati, sekaligus mengamalkan apa yang telah diucapkannya. Tidak memerintahkan atau menasehati agar mengerjakan amal baik kepada orang lain, tetapi dirinya sendiri malah belum mengerjakannya.

Antara lisan dan amal perbuatan sejatinya beriringan, seperti Hazrat Rasulullah SAW tercinta. Tidak disangsikan lagi bahwa adanya perbedaan antara kata dan realita adalah salah satu hal yang sangat berbahaya. Itulah sebab datangnya murka Allah SWT.

Dalam Surat As-Shaff ayat 2-3, Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah SWT bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” 

Allah SWT juga mencela perilaku Bani Israil dengan firman-Nya QS. Al-Baqarah ayat 44, “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” 

Dalam hadits dari Usamah, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan didatangkan seorang pada hari kiamat lalu dicampakkan ke dalam neraka. Di dalam neraka orang tersebut berputar-putar sebagaimana keledai berputar mengelilingi mesin penumbuk gandum.”

“Banyak penduduk neraka yang mengelilingi orang tersebut lalu berkata, ‘Wahai Fulan, bukankah engkau dahulu sering memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran?’ Orang tersebut menjawab, ‘‘Sungguh dulu aku sering memerintahkan kebaikan namun aku tidak melaksanakannya.” “Sebaliknya aku juga melarang kemungkaran tapi aku menerjangnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hazrat Masih Mau’ud Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai pendiri Ahmadiyah pun bersabda, “Jika perkataan (ucapan) seorang manusia itu dilakukannya tidak dengan hati yang benar (jujur), dan di dalamnya tidak terdapat potensi (kekuatan) pengamalan maka ia tidak akan berkhasiat (berpengaruh).”

Kesuksesan dari seseorang yang sedang bertabligh dilihat dari mampunya ia menghiasi diri dengan amal kebaikan dengan ikhlas, yang sepi dari pengakuan. Karena ucapannya juga harus selaras dengan perbuatan karena selalu berdoa dan zikrullah dalam setiap kesempatan. 

Orang yang seperti ini berhak mendapatkan kecintaan yang khusus dari Allah SWT. Karena jika hanya menasehati atau memberitahu seseorang tanpa niat yang bersih dan kita juga tidak mengamalkannya, maka pesan tabligh yang kita sampaikan akan sia-sia belaka.

Metode tabligh terbaik adalah cara Hazrat Rasulullah SAW dalam menyebarkan Islam. Ketika itu, dalam bertabligh Hazrat Rasulullah SAW sangat bijak dan memiliki pandangan jauh ke depan.

Karena ucapannya sejalan dengan perbuatan, karena Hazrat Rasulullah SAW merupakan orang paling mulia dengan memiliki sifat Siddiq ( benar), Amanah (dipercaya), Tabligh  (menyampaikan wahyu) dan Fatanah (cerdas). Pada dasarnya tidak ada ajaran yang disembunyikan dengan alasan pribadi atau untuk kepentingan lain.

Manfaatkan akal dan kalam Ilahi, agar terwujud ma’rifat sejati dan cahaya iman dalam hatimu. Jadilah seorang yang bertabligh sebagai perantara yang membawa orang lain dari kegelapan menuju cahaya (penerangan), Amin Yra.

Hits: 145

Euis Mujiarsih

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories