LAPUKNYA USIA TAK MEMISKINKAN HATI

Di sebuah desa anta berantah. Di sebuah pedalaman. Di ujung timur negeri ini. Di tengah-tengah hutan belantara. Akses jalan becek, penuh lumpur. Saya pun tak yakin corona bisa tembus sampai disini.

Di tempat ini tinggalah seorang nenek. Wajahnya sudaah keriput. Umurnya sudah kategori bonus untuk jaman sekarang. Beliau terlihat selalu bahagia dan bersahaja meskipun kehidupannya jauh dari apa yang ia perlihatkan.

Nenek tua itu biasa dipanggil Mbah Tinah. Usianya sudah 86 tahun. Seorang janda yang hidup sebatang kara. Rumahnya sangat sederhana dan jauh dari tetangga yang paling dekat sekalipun.

Setiap seminggu sekali biasanya saya rajin mengunjungi si Mbah. Mengecek kesehatan dan juga persediaan makanan.

Sejak pandemi corona, sudah hampir tiga minggu saya tidak mengunjunginya. Rasa kangen, kepikiran, khawatir kondisinya dan juga tanggung jawab mengantarkan bantuan warga terdampak covid-19 membangkitkan tekad saya untuk mengunjungi beliau.

Perjalanan kesana cukup dramatis. Naik turun motor. Berkali-kali harus mendorong motor yang terjebak dalam lumpur, tak bergerak. Akhirnya, sampailah di rumah Mbah Tinah.

Saat itu saya melihat Mbah Tinah yang sedang duduk di depan rumah sambil termenung. Pandangannya kosong. Sekelebat terlihat kecemasan menggantung di bola matanya.

Mbah,” sapaku. Seketika Nenek Tinah terperanjat. Kaget luar biasa yang mengakhiri lamunannya.

Sambil tergopoh-gopoh dan terseok-seok ia bangkit dari duduknya.

Ibu, Pak Ustadz. Ya Allah Alhamdulillah datang. Alhamdulillah kalian sehat?” tanya beliau.

Saya pun langsung di peluknya. Saya bertanya, “Bagaimana kabar mbah dan apa yang dilamunin?”

“Sudah dua minggu tidak ketemu dengan ibu, saya kepikiran ibu sakit dan juga para pedagang yang biasa membeli barang daganganku tidak datang. Apa mungkin karena musim hujan, secara otomatis jalanan becek dan susah dijangkau ya?” jawabnya yang membuat sesak diriku.

Betapa di era modern ini, ada sebuah kehidupan di pedalaman Papua yang sama sekali tak tersentuh informasi bahwa dunia tengah dirundung sebuah musibah besar.

Mbah Tinah adalah sosok wanita yang tangguh, ulet dan tekun. Ia hampir tidak pernah mengeluh dengan segala kondisinya. Untuk memenuhi kehidupannya, ia harus berjalan keluar masuk hutan mencari kelapa, untuk dijadikan kopra dan empon-empon lainya untuk dijual.

Meski dengan kondisi kaki yang sudah sangat rapuh dan gontai, Mbah Tinah tidak pernah mau untuk dikasihani. Sering kami menawarkan untuk tinggal bersama namun secara halus beliau menolaknya. “Mboten bu, eman-eman tanaman kulo, mboten enten sik ngerumat.

Namun tidak untuk pertemuan kali ini.

Si Mbah rupanya tidak punya uang satu sen pun. Meski tidak dia ungkapkan secara langsung, dari keinginannya mau menagis utang ke seorang warga, sudah menunjukkan betapa tidak ada lagi yang bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan harian.

Ibu mohon maaf, mo nawari makan tapi belum masak, dari tadi sibuk bersih-bersih di belakang,” dalam kondisi seperti ini Si Mbah masih bisa basa-basi seraya menunjukkan bahwa tidak ada yang terjadi dengan dirinya.

Saya bertanya pelan, berusaha untuk tidak menyinggung perasaannya, “Simbah beras habis? Sudah tidak punya lauk?

Lagi-lagi dia berhasil menunjukkan kebesaran hatinya. Ia berhasil menyembunyikan kekurangannya agar tidak dikasihani.. “Tidak kok bu, beras ada, lauk telur ayam ada, ikan asin juga masih.

Saat itu, saya berusaha memancing Mbah Tinah agar beliau berusaha mengutarakan apa yang menjadi kegalauan hatinya. Sorot matanya tidak seperti biasanya.

Mbah, orang-orang di bahwa (kota) kasihan loh, mereka banyak yang kehilangan penghasilan semenjak ada virus corona, yang membuat mereka harus diam di rumah.

Virus corona itu apa?” seketika ia nyeletuk.

Saya pun menjelaskan sedikit gambaran virus dan dampaknya bagi manusia. Juga bagaimana cara kita mencegahnya. Simbah mangguk-mangguk berusaha untuk mencerna dan menghubungkan dengan kondisi dirinya.

Bu, pantesan saja ya banyak pedagang tidak naik ke atas untuk beli hasil pencarian barang-barangku dari hutan. Mungkin mereka takut corona. Dagangan saya utuh semua tidak ada yang beli,” Simbah menimpali.

Rupanya, inilah yang membuat Mbah Tinah termenung sangat dalam. Mungkin virus itu tidak sampai ke pedalaman Papua, tapi dampaknya sangat terasa.

Mbah, bagaimana kalau dagangan Simbah kita beli aja, nanti saya bawa turun ke kota?”

Dengan mata yang sedikit basah, Mbah Tinah berkata, “Ya Allah bu, saya selalu merepotkan ibu dan pak ustadz, kalian datang di waktu yang tepat. Tapi, dagangan saya akan ibu jual kemana? Apa tidak susah membawanya?

Tenang aja Mbah, nanti banyak keluarga dan teman yang mau kok.” Saya pun kasih uang Simbah dan barang dagangannya saya bawa.

Ini bu, buat nanti beli bensin,” katanya sambil menyodorkan sejumlah uang.

Tidak usah, kita sudah punya, buat bayar candah aja ya Mbah?

Jangan bu, untuk candah ini aja,” sambil menyodorkan uang yang lain.

Mbah Tinah selalu membuat kami takjub. Terbuat dari apa hatinya? Begitu kokoknya hingga di usia renta seperti itu masih memutuskan untuk berdiri di atas kaki yang sudah gontai itu.

Selama masih sehat dan bisa makan, Mbah sudah bahagia,” sesederhana itu prinsip hidup janda sebatang kara yang berada di suatu tempat antah berantah, di pedalaman Papua.

Hits: 56

10 thoughts on “LAPUKNYA USIA TAK MEMISKINKAN HATI

  1. Jadi renungan kita bersama. Banyak2 bersyukur dg apa yg kita punya masih banyak yg lebih susah.Berusaha dan berdoa hasilnya kita serahkan Allah Swt

  2. Wah si Mbah. Sy dan isteri merindukan beliau. Kalau ke jagebob kami selalu menyempatkan ke rumahnya. Tolong titip sedikit rejeki buat beliau ya Bu

    1. Betull2. Mhn doa simbah Tinah sllu sehat dan umur panjang. Boleh pak, bs japri saja. InsyaAllah Rabu saya naik. Jazakumullah

  3. Semoga hadir Karunia Allah Ta’ala untuk bertemu dg mbah Tinah dan anggota lainnya di Tanah Papua.
    Aamiin tsumma Aamiin

  4. Kenapa saya baru sempat baca tulisan dan kisah seinspiratif ini ya?? Yaa Allah, luar biasa sekal mbah ini. Tak terasa air mataku berlinang membaca kisah ini. Membayangkan diriku berada dalam suasana ini ja udah mengharukan….

    “Jangan bu untuk candah ini aja”

    Subhanallah subhanallah…

  5. Kenapa saya baru sempat baca tulisan dan kisah seinspiratif ini ya?? Yaa Allah, luar biasa sekali mbah ini. Tak terasa air mataku berlinang membaca kisah ini. Membayangkan diriku berada dalam suasana ini ja udah mengharukan….

    “Jangan bu untuk candah ini aja”

    Subhanallah subhanallah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories