Mirza Ghulam Ahmad, Pejuang Islam atau Perusak Islam?

23 Maret besok, Jemaat Ahmadiyah secara global akan memperingati hari yang mereka namakan dengan “Hari Masih Mau’ud”. Peringatan ini bertepatan dengan tanggal dilaksanakannya “Bai’at Pertama” pada tahun 1889 yang menjadi titik awal berdirinya Jemaat Ahmadiyah. Pada saat itu, 40 orang menjadi pengikut awalin dari Mirza sahib.

Besok. Tepat 130 tahun Jemaat Ahmadiyah berdiri. Sebuah rentang waktu yang tidak sedikit dengan jumlah pengikut ratusan juta orang di 212 negara. Terlepas dari label “sesat-menyesatkan” yang diberikan banyak organasisasi Islam, Jemaat Ahmadiyah seolah tak berbendung. Bahkan, langkahnya semakin pasti dan kokoh.

Saya tidak tertarik untuk membahas soal diskursus “sesat-tidaknya” Ahmadiyah, karena hal ini tak akan mengubah apapun soal iman mereka. Yang menarik bagi saya adalah soal sosok Sang Pendiri, yakni Mirza Ghulam Ahmad, yang diyakini oleh para pengikutnya sebagai Nabi Isa sekaligus Imam Mahdi yang kedatangannya telah dikabar-ghaibkan oleh Yang Mulia Rasulullah saw.

Saya ingin menarik perhatian pembaca pada dua kemungkinan yang saling berparadoks. Apakah Mirza sahib seorang pejuang Islam, sebagaimana keyakinan para pengikutnya? Atau ia justru seorang perusak Islam sebagaimana yang dituduhkan oleh banyak pihak dalam Islam?

Pertama. Saya ingin menjelaskan kondisi yang terjadi di Hindustan menjelang kemunculan Mirza Ghulam Ahmad.

Kita ketahui bersama, India merupakan salah satu jajahan Inggris. Penjajahan ini membuka lebar-lebar pintu “injilisasi” Hindustan. Pada tahun 1799, injilisasi pertama kali dimulai oleh England Church Missionary Society.

Pada tahun 1851, saat itu Mirza sahib baru berusia 16 tahun, terdapat 19 macam missi penginjilan Kristen yang bekerja di India. Dan 40 tahun setelahnya, jumlah missi penginjilan Kristen bertambah pesat menjadi 73 perkumpulan missi.

Dari data yang diperoleh, pada tahun 1951 tercatat jumlah pengikut Kristen di India hanya berkisar 91.000 orang. Dan dalam kurun waktu 30 tahun setelahnya jumlahnya menjadi 450 kali lipat, yakni 41.711.372 orang.

Peningkatan jumlah yang begitu signifikan ini memunculkan berbagai faktor. Dan faktor utama yang membuat banyak umat Islam memutuskan untuk “murtad” ke Kristen adalah tidak adalah “Pembela Islam” di tengah gempuran dakwah Kristen yang maha masif, terstruktur dan terorganisir hampir sulit ditemukan.

Lalu dimana Mirza Ghulam Ahmad?

Sewaktu Mirza sahib masih kecil, ia mengatakan kepada seorang teman perempuannya, “Doakan saya supaya Allah memberi taufik kepada saya untuk shalat.” Dan perkataan ini tidak hanya sekali ia ucapkan. Kecintaan Mirza sahib terhadap shalat telah terpancar bahkan ketika ia masih sangat belia.

Sejak berusia 13 tahun, Mirza sahib telah menelaah banyak kitab. Mulai dari Al-Quran, Kitab Bukhari, Dalailul Khairat, Matsnawi, Tadzkiratul Aulia, Futuhatul Ghaib, dan banyak kitab lainnya.

Sejak berusia 16 tahun, Mirza sahib mulai menelaah “secara sengaja” kitab-kitab agama lain. Seperti Weda, Bibel dan Tafsir para pengarang Kristen.

Tujuan dari Mirza sahib siang malam menelaah banyak kitab dan buku-buku adalah sebagai bentuk kecintaannya pada ilmu pengetahuan, juga untuk mempersiapkan sebuah pembelaan kepada Islam yang tengah digempur oleh berbagai agama.

Mirza sahib menulis, “Di kamarku telah aku kumpulkan celaan-celaan mereka kepada Nabi Muhammad saw yang jumlahnya hampir 3000 buah.”

Perjuangan Mirza sahib dalam misi pembelaan Islam dimulai ketika ia berusia 29 tahun. Saat itu ia sedang bekerja di Sialkot, menjadi seorang juru tulis di pengadilan administrasi kependudukan.

 Mirza sahib telah mengadakan diskusi dengan banyak pihak. Dimulai dari ahli hukum Hindu yang menjadi kepala rumah tangga Kantor Pengadilan, kepala sebuah sekolah Kristen, sampai seorang dokter dan ahli kimia.

Mirza sahib juga sering menemui pendeta-pendeta Kristen yang tengah berdakwah di pasar-pasar dengan berapi-api. Salah seorang pendeta yang menjadi teman diskusi Mirza sahib adalah Pendeta Butler dari Church Missionari Society.

Pendeta Butler pernah mengungkapkan kesannya kepada Mirza sahib, “Ahmad seorang pemikir agama yang besar.” Ia merasa bangga bisa berkenalan dengan Mirza sahib.

Suatu kali ketika Pendeta Butler ingin pulang ke Inggris, ia menyempatkan diri untuk pamit kepada Mirza sahib. Ia datang ke kantor Mirza sahib, dan mereka menghabiskan hari terakhir dengan banyak kelakar yang membuat heran para pejabat kulit putih. Sebab, keyakinan di antara kelas penguasa, tak akan bertindak sesuatu yang kira-kira akan merendahkan martabat mereka.

Suatu kali Mirza sahib mengungkapkan kepada seorang tetangganya dari Qadian, “Sialkot laksana penjara baginya.”

Atasannya seorang Hindu. Sangat benci terhadap Islam dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk melontarkan ucapan-ucapan yang meremehkan dan mencela Islam. Tapi saat ia harus berhadapan dengan Mirza sahib, mulutnya langsung kelu, rahangnya kaku seketika, ia jadi bungkam seribu bahasa.

Seorang teman pernah menasehatkan Mirza sahib, “Biarlah atasan menang atas argumen-argumennya. Itu akan membuat anda mudah dalam kerja.”

Mirza sahib menolaknya mentah-mentah dan berkata, “Aku tak bisa membiarkan Islam tak terbela.” Dan ia siap menanggung segala resiko-resiko duniawi yang sebelum ia datang ke Sialkot keinginan duniawi telah padam dalam dirinya.

Mirza sahib menulis, “Aku benar-benar heran akan cara hidup mereka. Aku temukan kebanyakan mereka sangat berselera mengumpulkan uang baik halal maupun haram yang semuanya semata berpamrih duniawi untuk hidup mereka yang pendek ini.”

Empat tahun di Sialkot, Mirza sahib pulang kembali ke Qadian dikarenakan ibundanya wafat. Sejak saat itu, Mirza sahib mulai memantapkan diri untuk memulai pembelaannya secara tertulis. Mirza sahib mulai menulis untuk banyak jurnal tentang keagungan Islam dan kesucian wujud Rasulullah saw.

Mulai dari Jurnal Manshur Muhammadi yang terbit di Bangalore. Lalu, jurnal-jurnal yang terbit di Amritsar seperti Wakil, Safir Hind, Widya Prakash, dan Riaz Hind.

Jurnal-jurnal di Lahore juga menjadi tempat pendaratan artikel-artikel pembelaan beliau. Seperti pada jurnal Brother Hind, Aftab Punjab, dan Akhbar-e-Aam.

Dan tak berhenti disitu, Mirza sahib juga menulis di beberapa jurnal lain seperti Wazir Hind yang terbit di Sialkot, Nur Afshan yang terbit di Ludhiana, juga Isyaatus Sunah yang terbit di Batala.

Saya berikan satu contoh, Mirza sahib menulis sebuah artikel dalam Jurnal Manshur Muhammadi yang juga memberikan satu tantangan kepada agama-agama di luar Islam, “Dasar utara dari kebajikan manusia dalam hubungan kemanusiaan adalah sifat amana (kejujuran), menurut saya, orang dapat mengukur nilai suatu agama dari criteria seberapa jauh ia menekankan pentingnya kualitas kejujuran itu. Saya telah melakukan penelitian selama 20 tahun dan berkesimpulan bahwa tidak ada agama yang sedemikian rupa mengutamakan sifat jujur sebagaimana Islam.” Artikel ini dipublikasikan pada 25 Agustus 1872.

Lalu, Mirza meneruskan dalam tulisannya, “Dapatkah setiap orang Kristen, Hindu, atau Sikh menerbitkan dari kitab-kitab suci mereka tentang nilai kejujuran sebanyak yang dikemukakan oleh Al-Quran? Dapatkah mereka menerbitkan separuh atau sepertiga saja dari jumlah yang saya kemukakan?”

Mirza sahib menutup tantangannya dengan menjanjikan hadiah 500 rupee bagi yang dapat menjawab tantangannya.

Swani Dayanand, pendiri sekte Hindu Arya Samaj, pada 7 Desember 1877 mempublikasikan artikelnya dalam Jurnal Wakil bahwa jumlah jiwa itu tak terbatas dan bahkan tidak diketahui Tuhan.

Mirza sahib menulis sebuah bantahan yang dimuat dalam Jurnal Safir-e-Hind pada 9 Februari 1878. Argumen yang ia kemukakan begitu meyakinkan dan menyadarkan, sehingga Sekretaris Samaj Pusat menerbitkan suatu pernyataan yang mengatakan bahwa mereka bukanlah pengikut Swami Dayanand yang taklid. Mereka tidak menerima apa kata Swami kecuali hal yang masuk akal.

Dan.

Puncak perjuangan Mirza sahib untuk menegakkan marwah Islam di atas agama-agama adalah terbitnya sebuah buku yang sangat fenomenal yang berjudul “Barahin Ahmadiyah”. Buku ini berjumlah 2500 halaman. Berisi 300 argumen tentang kebenaran Islam. Dan buku ini dibagi menjadi empat bagian.

Jilid pertama dan kedua terbit pada 1880. Penerbitan dua jilid Barahin Ahmadiyah telah memberikan efek yang begitu dahsyat di Hindustan. Bahkan, Mirza sahib memberikan tantangan di dalamnya, bagi mereka yang bisa membatah argumen-argumennya, bahkan jika hanya setengah, atau seperempat, atau seperlimanya, ia akan memberikan orang tersebut hadiah sebesar 10.000 rupees.

Jilid ketiga baru bisa terbit pada 1882. Keterlambatan ini disebabkan karena ketidaktegasan pihak percetakan yang kebetulan managernya seorang Kristiani. Ia meminta Mirza sahib menyelesaikan dulu keberatan-keberatan pihak Kristen atas penerbitan dua jilid sebelumnya. Dan jilid keempat baru terbit pada tahun 1884.

Maulvi Muhammad Hussain Batalwi, seorang ulama ahli hadits yang telah membuat sebuah ulasan setebal 200 halaman soal buku Barahin Ahmadiyah, dimana di kemudian hari sang Maulvi menjadi musuh paling sengit Mirza sahib, ia memberikan kesan mendalamnya yang dipublikasi dalam Jurnal Isya’atus Sunah.

“Dalam pandangan kita, sejauh terpikir di abad ini dan kondisi kini, sebuah kitab yang semutu ini belum pernah diterbitkan sampai hari ini, entah nanti di masa akan datang. Pengarangnya membuktikan dirinya sedemikian konsisten dalam pengkhidmatannya terhadap Islam dengan pena, uang dan lisannya, yang sedikit sekali contoh semacam ini ditemukan di kalangan orang-orang Muslim.”

Bahkan, Maulvi sahib mendorong setiap umat Islam untuk membantu produksi buku ini.

“Kesempurnaan buku ini dan keuntungannya bagi Islam akan dikenal oleh mereka yang membaca dengan hati terbuka. Oleh karena itu, dengan mengikuti prinsip ‘buah dari kebajikan adalah kebajikan’, kami menganggap penting menolong penerbitan buku ini dengan sumbangan-sumbangan yang merintis ke arah pencetakannya, adalah kewajiban yang mesti dipikul oleh seluruh masyarakat Muslim.”

Pada permulaannya, buku Barahin Ahmadiyah berhasil dicetak sebanyak 700 buah. Setelah selebaran-selebaran disebar untuk memberitahu masyarakat Hindustan tentang sebuah buku yang sangat fenomenal, jumlah produksi kedua meningkat menjadi 1000 buah.

Pada masa itu, dimana tingkat literasi penduduknya hanya sekitar satu persen populasi, akan sangat sulit mencari pembeli sekaligus pembaca di kalangan muslim di satu sisi, dan pembaca di kalangan agama lainnya di sisi yang lain. Sehingga, jumlah tersebut begitu fenomenal di zamannya.

Sekitar tahun 1890 atau 1891, tak lama setelah Mirza sahib mengumumkan kepada khalayak bahwa Nabi Isa as tidak hidup di langit, dimana setelah itu orang-orang yang dulu mendukung Mirza sahib kini berbalik menyerangnya, ada sebuah peristiwa unik. Di distrik Amritsar ada sebuah desa bernama Jandilaya. Missi Kristen yang dimulai oleh Dr. Henry Marty Clark tengah mendapat perlawanan dari para tetua desa.

Dr. Martyn Clark akhirnya mengajukan usul untuk perdebatan dengan para tetua desa. Anehnya, para tetua desa justru meneruskan suratnya kepada Mirza sahib untuk mewakili mereka dalam perdebatan. Padahal, mereka tahu fatwa kafir telah dilekatnya secara masif kepada Mirza sahib. Tapi, memang pada saat itu yang bisa andalkan untuk melawan pihak Kristen adalah Mirza sahib.

Dr. Martyn Clark tidak ingin berdebat dengan Mirza sahib. Ia segera menerbitkan sebuah leaflet di Ludhianna yang disebarkan ke seluruh desa. Dalam leaflet tersebut ia menyatakan bahwa Mirza sahib dianggap bukan seorang Muslaim, bagaimana ia dapat mewakili golongan Islam.

Meskipun leaflet telah tersebar bahkan dimuat kembali dalam sebuah iklan di harian lokal, para tetua desa tetap bersiteguh kepada putusan mereka. Mereka menginginkan Mirza sahib mewakili mereka.

Tak lama setelah perdebatan berlangsung dimana pihak Kristen dipermalukan dalam debat tersebut, para misionaris Kristen sekali lagi diberitahu untuk tidak terlibat dalam perdebatan dengan Mirza sahib. Ia dipandang terlalu luas ilmunya oleh pihak Kristen.

Pada sekitar Februari atau Maret 1900, Uskup Lahore, Pendeta G. A. Lefroy memberikan kuliah umum yang bertema “Nabi yang tak berdosa” dan ia menyatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya nabi yang tak berdosa. Usai berpidato, ia mempersilahkan jika ada seorang Muslim yang ingin bertanya.

Pada saat itu, majulah Mufti Muhammad Sadiq untuk bertanya. Ia meminta kepada sang Uskup untuk menerangkan tentang sebuah ayat dalam Injil yang berbunyi, “Mengapa kalian mengatakan aku baik? Tiada yang baik kecuali satu, yaitu Tuhan.” (Matius 19:17)

Ketika Mirza sahib mendengar cerita tentang pidato sang Uskup, ia menulis dua “isytihar (selebaran)” dan dipublikasikan pada 25 Mei 1900 bertepatan dengan sang Uskup yang akan berpidato dengan tema yang sama. Usai sang Uskup berpidato, Mufti Muhammad Sadiq membagian leaflet tersebut dan meminta sang Uskup untuk menjawabnya.

Akan tetapi, Uskup Lahore hanya mengatakan bahwa ia tidak bisa bicara banyak karena poin yang diangkat dalam leaflet tadi cukup baru baginya.

Dalam salah satu kutipan dari selebaran tersebut, Mirza sahib menulis, Konsepsi tentang dosa dalam beragam agama sangat berbeda. Minum alcohol itu dosa pada satu agama dan menjadi ritual pada agama lain. Pada beberapa agama adalah zina memandangi wanita dengan nafsu. Di lain agama perbuatan seksual “niyog” dianggap sebagai kepentingan sosial dan agama. Membunuh kutu atau cacing dianggap dosa bagi beberapa agama, sedang beberapa agama yang lain memperlakukan sapi dan domba tidak lebih utama daripada sayur-mayur.

Beberapa bulan setelah itu, sebuah surat terbuka yang ditanda-tangani oleh sejumlah besar Muslim dari berbagai penjuru Punjab dikirimkan kepada Uskup Lahore. Surat ini juga dikirimkan kepada semua surat kabar. Surat tadi dalam bahasa Inggris, diungkapkan dengan amat sopan dan fasih, dengan sentuhan rasa bahasa ketimuran.

Saya akan kutipkan sebagian dari isi surat tersebut:

“Selagi hidup dunia kita yang sementara ini akan segera berlalu layaknya awan musim panas dan waktu kian mendekat dan segera ditinggalkan untuk masuk alam yang abadi. Adalah menjadi kepedulian kita yang amat mendalam bahwa wisata hidup kita ini seyogianya semakin mendekat kepada kesalehan dan keberkatan samawi, dan agar nafas-nafas kita yang terakhir sebagai penyandang utama misi agama akan menunjukkan jalan kepada Kehendak Tuhan. Maka apabila kami ini tidak berada di jalan yang benar, seyogianya kami siap jiwa dan raga, lahir batin, untuk meninggalkan keyakinan itu, dengan syarat diungkap sejelas-jelasnya kepada kami dengan argumen-argumen yang benderang dan kokoh.

“Apabila ada seseorang yang mampu mengarahkan keberaniannya untuk tampil dan membuktikan kepada kami kebenaran agama Kristen, ia boleh membebankan di atas pundak kami kewajiban-kewajiban yang paling berat. Adalah hasrat kami yang paling dalam dan kami selalu amat mengidam-idamkan diadakannya satu telaah, satu kajian yang mengungkap jasa-jasa kebaikan, nilai-nilai dan kesempurnaan-kesempurnaan komparatif dari agama Kristen dan Islam.”

Untuk itu mereka mengusulkan diadakannya dialog antara sang Uskup dengan Mirza sahib tentang lima buah pokok bahasan.

Akan tetapi, sang Uskup justru malah mencari celah agar dialog tersebut tidak pernah terjadi. Ia mulai mencari-cari alasan dengan mengatakan Mirza sahib telah mengejek dan menghina umat Kristen dengan mengambil nama Al-Masih Yang Dijanjikan, yang merupakan sosok yang sangat mereka muliakan.

Sang Uskup juga berkilah untuk menghindari dialog. Di akhir surat penolakannya ia mengatakan bahwa ia tidak bisa menyisihkan waktu untuk debat publik. Sebagai seorang Uskup waktunya tersita dengan tugas-tugas administratif.

Tak lama kemudian, datangnya sebuah kabar dari koran Indian Spectator yang menyebutkan bahwa Uskup Lahore rupanya harus berhenti dari tugasnya lebih dini. Ia akhirnya harus meninggalkan arena pertarungan, daripada harus menanggung malu, seperti para pendahulunya.

Di satu sisi, umat Islam di Hindustan meng-“kafir”-kan Mirza sahib atas klaim “Kenabian” juga “Kemahdian”-nya. Tapi di sisi lain, hanya Mirza Ghulam Ahmad yang dapat diandalkan untuk menghadapi pihak Kristen.

Hanya Mirza Ghulam Ahmad yang diyakini dapat menegakkan pondasi agama Islam di atas agama-agama lainnya. Dimana jauh sebelum terjadi kontroversi besar seputar “Kenabian dan Kemahdian”-nya, umat Islam pada saat itu menaruh  harapan yang amat besar kepada sosoknya juga penanya yang begitu tajam menggilas lawan-lawan Islam.

Dan kebenaran tetaplah kebenaran. Ia amat kokoh meski dikelilingi oleh berbagai kedustaan. Ia layaknya karang yang tak bergeming meski terus diterjang ombak dan gelombang.

Kini. 130 tahun Jemaat Ahmadiyah telah melewati suatu kurun waktu yang amat panjang. 40 orang di masa awal tumbuh berkembang, membesar tak terhadang, menjadi ratusan juta orang.

Mirza sahib pernah mengatakan, “Pada akhirnya, keimanan akan memperoleh kemenangan dan memperlihatkan banyak mukjizat. Keimanan mengangkat orang yang dianggap lemah kepada kemulian yang tak terbayangkan.”

referensi:

  1. A. R. Dard M.A. (2008), Life of Ahmad Founder The Ahmadiyya Movement, UK: Islam International Publications Limited.
  2. Iain Adamson (2010), Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian, Terj: H. Suhadi Madyohartono, B.A., Yogyakarta: Pustaka Marwa

Hits: 457

Writer | Website

Sab neki ki jarh taqwa he, agar yeh jarh rahi sab kuch raha ~ Akar dari semua kebaikan adalah takwa, jika ini ada maka semua ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories