Nabi Adam as. Bukan Manusia Pertama

Nabi Adam as bukan manusia pertama? Membaca judul ini, saya rasa banyak orang yang akan kaget. Sebab, yang kita tahu sejak SD (di pelajaran agama) manusia pertama di bumi adalah Nabi Adam as bukan? Adanya, diktum bahwa “Nabi Adam bukanlah manusia pertama” seakan-akan meluluh-lantakkan pondasi iman kita.

Semoga saja, tulisan ini tak menyulut pelabelan “otomatis kafir” atas diri saya. Toh, saya menulis berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan dalam ayat-ayat Quran.

Saya akan mulai dengan bahasan, Allah hendak menjadikan seorang “Khalifah” di muka bumi. Tentu, kata “Khalifah” ini merujuk kepada Nabi Adam as.

Mendengar Allah hendak menjadikan seorang Khalifah, para malaikat “protes”. “Apakah Engkau akan menjadikan di bumi orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di dalamnya?” begitulah protes para malaikat.

Pertanyaannya adalah, mengapa para malaikat bisa tahu bahwa yang namanya manusia akan membuat kerusakan dan pertumpahan darah? Sekiranya, Nabi Adam adalah manusia pertama.

Tentu saja para Malaikat bisa tahu. Sebab, sudah ada manusia-manusia lain sebelum dijadikannya Nabi Adam as. Para malaikat sudah memiliki data tentang sifat-sifat manusia. Mustahil tanpa “track record” malaikat tahu masa depan sebagai mana Allah sebagai ‘Alimul Ghaib.

Tapi. Yang hendak Allah ciptakan adalah seorang “Khalifah”. Ia adalah manusia pilihan yang akan membawa manusia pada sebuah peradaban yang lebih untuk zamannya. Kata “khalifah” bisa juga diartikan sebagai nabi, sebagaimana Nabi Daud as disebut sebagai Khalifah dalam Quran.

Adanya seorang Khalifah, yakni utusan Allah, manusia dapat mencapai tingkatan dimana mereka mampu melampaui derajat para malaikat. Sebab, manusia diberi pilihan untuk menjalani hidupnya. Mau mengambil jalan kebaikan atau jalan keburukan.

Tentunya. Nabi Adam as tidak akan bisa disebut Khalifah kalau tidak ada “umat”. Sebagai Khalifah, siapakah yang akan Nabi Adam as bimbing untuk meraih derajat dimana para malaikat “bersujud” di hadapannya?

Apakah Nabi Adam tinggal di Surga?

Mayoritas umat Islam akan menjawabnya, “Ya”.

Nabi Adam as beserta istri beliau diperintahkan untuk tinggal di sebuah tempat bernama “jannah”. Kata “jannah” ini diterjemahkan sebagai surga. Padahal, arti yang umum dari kata “jannah” salah satunya adalah kebun atau taman.

Kalau kata “jannah” disini diartikan sebagai surga, bagaimana dengan ayat ini, “Laa yamassuhum fiihaa nashabun wamaahum minhaa bimukhrajiin.” (QS. Al-Hijr: 49)

Yang artinya, “Keletihan tidak akan menyentuh mereka di dalamnya (surga) dan (selamanya) mereka tidak akan dikeluarkan dari situ.

Bagaimana bisa Nabi Adam as dikeluarkan dari surga? Padahal, sudah terdapat ketentuan bahwa mereka yang masuk ke dalam surga takkan pernah bisa dikeluarkan dari situ.

Quran mengatakan bahwa Nabi Adam as dikeluarkan dari “jannah” karena kesalahan yang beliau dan istri beliau lakukan. Lalu, pertanyaannya adalah, bagaimana bisa di dalam surga manusia berbuat kesalahan? Bukankah, hal-hal baik saja yang akan dikerjakan manusia dalam surga? Apakah di dalam surga masih terdapat ujian yang harus manusia lewati? Bukankah surga adalah akhir dari segala apa yang telah manusia kerjakan?

Tentu. Pertanyaan-pertanyaan ini amat pelik untuk dijawab. Ya, karena kita sudah keliru memahami makna dari “jannah”. Pemahaman yang salah ini, yang membuat ayat-ayat Quran lainnya tak mendukung satu sama lain. Kita hanya bisa berkomentar, “Pokoknya.. Pokoknya..

Ringkasnya. Kata “jannah” disini harus diterjemahkan dalam arti yang berbeda. Seperti taman atau kebun yang memiliki tanah yang subur, di dalamnya mengalir sungai-sungai. Dan disitu terdapat sebuah kehidupan yang terdiri dari banyak manusia.

Sebuah mimpi dari Muhyiddin Ibnu Arabi

Ibnu Arabi, seorang sufi besar, mengatakan bahwa ia bermimpi melihat dirinya sendiri sedang bertawaf di Ka’bah. Dalam mimpi itu seorang yang menyatakan dirinya sebagai nenek moyangnya nampak di hadapannya.

“Sudah berapa lama berlalu sejak anda meninggal?” tanya Ibnu Arabi.

“Lebih dari 40.000 tahun,” jawab orang itu.

“Masa itu jauh lebih lama, dari masa yang memisahkan kita dengan Adam,” kata Ibnu Arabi lagi.

Orang itu menjawab, “Adam yang mana yang engkau bicarakan? Adama yang terdekat kepada engkau atau Adam yang lain?”

“Maka aku ingat,” kata Ibnu Arabi. “Suatu sabda Rasulullah saw yang maksudnya bahwa Allah telah menjadikan tidak kurang 100.000 Adam dan aku berkata dalam hati, ‘Barangkali orang yang mengaku dirinya datukku ini seorang  dari Adam-Adam terdahulu.’”

Hits: 711

Writer | Website

Sab neki ki jarh taqwa he, agar yeh jarh rahi sab kuch raha ~ Akar dari semua kebaikan adalah takwa, jika ini ada maka semua ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories