Pena Senjata Ampuh untuk Jihad Masa Kini

Sejarah mencatat, dalam rentan waktu yang cukup panjang banyak orang mukmin dipotong dengan pedang, anak yatim dan para wanita dibantai di jalanan. Namun demikian, Allah memerintahkan untuk tidak membalas dan orang-orang Mukmin senantiasa taat mengikuti perintah tersebut.

Sementara jalan-jalan memerah dipenuhi darah mereka, kaum Mukmin tetap tidak mengeluarkan suara. Mereka dibantai seperti binatang, Nabi Muhammad saw. dilempari batu tetapi mereka menghadapinya dengan sabar dan hati yang lapang. Akan tetapi kekejian terus meningkat seolah orang Mukmin sebagai mangsa mereka.

Kemerdekaan manusia dirampas dengan semena-mena. Mereka berjalan di muka bumi seolah rumahnya sendiri sehingga orang lain pantas untuk dirampas hak kemerdekaannya. Kekejian demi kekejian telah membuat Allah murka hingga sudah saatnya bagi Tuhan untuk mengakhiri kebiadaban tersebut.

Allah Swt. yang tidak menginginkan kekejaman terus berlanjut tanpa batas di muka bumi yang menindas orang-orang yang lemah menurunkan kalam-Nya. Perintah inilah yang dijadikan dasar sehingga sampai saat ini dikenal sebagai jihad. Penegasannya ada dalam firman yang berbunyi, “Telah diizinkan bagi mereka yang diperangi, disebabkan mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah berkuasa menolong mereka.” [1]

Kita harus memahami bahwa saat ini bukan waktunya pergi ke medan perang untuk tujuan agama. Peperangan yang dahulu kala dilakukan Rasullullah saw. tidak untuk mengislamkan orang-orang kafir secara paksa, peperangan itu semata-mata dilakukan hanya untuk mempertahankan diri. Saat ini waktu telah berubah terdapat kedamaian di mana-mana, tetapi justru dengan pena dan tulisanlah Islam diserang.

Hadhat Masih Mau’ud a.s. menyerukan, “Pada zaman ini, Allah Ta’ala menghendaki agar fungsi pedang digantikan dengan pena. Dan para penentang supaya dihalau dan dilawan menggunakan tulisan. Oleh karena itu, saat ini tidak patut bagi siapapun untuk berusaha menjawab pena (tulisan lawan) dengan menggunakan pedang.”

Tidak heran bila beliau banyak menerbitkan tulisan-tulisan, baik berupa buku maupun selebaran-selebaran yang bertujuan untuk membela keberadaan Islam. Ajaran Islam yang sudah tercoreng di sana-sini dibersihkannya dengan memiat tulisan-tulisan. Semua dijawab dengan pena.

Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. berseru, “Allah Swt. berfirman bahwa kita harus mempersiapkan senjata yang sama untuk melawan musuh, maka sudah menjadi bahan renungan untuk kita semua mereka yang menyerang Islam sudah tidak mempersiapkan bala tentara. Mereka menerbitkan majalah dan buku-buku. Oleh karena itu kita juga harus mengangkat pena dan menjawab serangan mereka dengan majalah dan buku-buku juga. Tidaklah bijak jika obat digunakan untuk penyakit yang berlainan. Jika obat tidak sesuai dengan penyakitnya maka pasti hasilnya tidak baik dan justru berbahaya.”[2]

Kita mempunyai kewajiban untuk menyambut setiap seruannya. Kita sambut dengan membebaskan diri dari rasa malas untuk membuat satu tulisan yang bisa mencerahkan kegelapan. Menghilangkan rasa malas merupakan bentuk perbaikan diri yang artinya memberikan kemerdekaan pada diri sendiri.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. menekankan bahwa, “Kalian harus memahami betul, kebutuhan saat ini bukanlah pedang. Penalah yang harus kita pakai. Keragu-raguan terhadap Islam yang telah ditimbulkan oleh musuh-musuh serta serangan yang disebabkan oleh ilmu pengetahuan yang berbeda, telah mewajibkan kepada kita untuk mengangkat pena. Kita harus turun ke medan pertempuran dengan menunjukkan keberanian dan kekuatan Islam yang menakjubkan.”[3]

Kita tidak akan mampu memasuki medan pertempuran apapun. Semuanya hanya berkat karunia Allah Swt. Sudah sewajarnya bila kita kembali merendahkan diri di hadapan Sang Kuasa agar Dia memberikan segala kekuatan-Nya kepada kita untuk bisa melaksanakan segala yang diinginkan-Nya.

Doa adalah senjatanya dan keteguhan iman sebagai pedangnya karena zaman ini akan menjadi sumber kedamaian dan kasih sayang umat manusia. Semoga kita dapat menjadi bagian untuk ikut andil menyebarkan ajaran Islam dengan sebuah tulisan yang penuh kedamaian dan menenangkan setiap kalbu para pencari kebenaran.

Referensi:
[1] QS. Al-Hajj 22: 40
[2] Malfuzhat, Vol. 8
[3] Malfuzaat, Vol. I, hal. 57

Views: 58

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *