BELAJAR AMANAH DARI ANAK MUDA
Belajar sejatinya tidak hanya dilakukan di bangku sekolah. Terlebih belajar tentang kehidupan. Dimana pun, kapanpun dan dari siapapun, bahkan dari mereka yang usianya lebih muda, kita dapat belajar hal-hal baru yang terkadang luput dari pandangan.
Dan inilah pengalaman saya belajar tentang arti sebuah amanah akan suatu jabatan.
Kala itu di tahun 2017, cuaca di Jakarta sedang terasa panas. Tiba-tiba ponsel saya bergetar menandakan pesan chat masuk. Rupanya pesan dari salah
seorang pengkhidmat Masjid Al-Hidayah, Balikpapan Jakarta Pusat, yang bernama Bapak Aat Abdul Latif.
Beliau mengabarkan tentang, akan datangnya seorang tamu yaitu Bapak Sekretaris Al Wasiyat Pusat, yang akan bermalam di cabang kami. Dengan sigap saya meminta Pak Aat untuk
menyiapkan kamar tamu yang terletak dilantai dua untuk beliau beristirahat nantinya. Di sore harinya saya datang ke masjid karena ada beberapa surat yang harus ditandatangani. Kesempatan ini saya gunakan untuk menemui beliau dan meminta beberapa arahan tentang prosedur Al-Wasiyat.
Setelah beberapa waktu, perbincangan pun berakhir, saya sampaikan kepada beliau, untuk beristirahat dikamar yang telah disiapkan. Namun, tidak saya sangka ternyata beliau menolaknya dengan berkata.
“Maaf Pak Ketua, saya bermalam disini bukan untuk tugas Jemaat, tetapi untuk urusan saya
pribadi, Jadi saya tidak bisa tidur dikamar, tetapi saya akan di masjid saja.” Ucap beliau kala itu.
Pernyataan beliau sedikit menggetarkan hati saya. Tak tinggal diam, sayapun menyanggah pernyataan beliau dengan mengatakan.
“Jangan Pak, disini banyak nyamuk dan udaranya pun sangat panas.” Ujar saya.
Akan tetapi pernyataan saya tersebut tidak
menggoyahkan hatinya. Beliau tetap pada pendiriannya dengan mengatakan.
“Tidak apa apa Pak Ketua.”
Sebagai Ketua Jemaat Jakarta Pusat kala itu, saya tak mau kehilangan momentum pengkhidmatan kepada tamu. Terlebih beliau merupakan pengurus Majlis Amila Nasional, maka saya sampaikan argumen pamungkas pada beliau.
“Maaf Bapak, saya disini sebagai Ketua, Jadi Bapak harus itaat pada perintah saya, agar Bapak tidur dikamar tamu saja.” Desak saya kala itu.
Namun ucapan saya malah dijawab dengan kata-kata yang tidak pernah saya sangka sebelumnya.
“Baik Pak Ketua, tapi harus diingat, saya disini
juga tamu yang harus Bapak khidmati dengan memenuhi permintaan saya.” Tegas beliau.
Dengan tidak bisa berkata-kata lagi, sayapun akhirnya memenuhi keinginan beliau walaupun dengan sangat berat hati. Saat pulang ke rumah, saya tak henti-hentinya memikirkan beliau. Hingga tak nyenyak tidur, membayangkan bagaimana beliau yang akan berjibaku dengan para nyamuk-nyamuk ganas JakPus yang seperti biasa akan mengganggu siapa saja di tiap sudut ruangan yang ada, tidak terkecuali di dalam ruangan Masjid. Saat itu Mesjid kami belum dipasang Air Conditioner (AC) seperti saat ini.
Keesokan harinya saya usahakan untuk mampir ke masjid, saya sampaikan kepada beliau agar memperkenankan saya untuk mengantarkan beliau ke stasiun dan menjamu beliau sarapan pagi dengan uang pribadi saya, dan saya minta beliau untuk tidak menolaknya.
Alhamdulillah, beliau menyetujuinya tanpa sanggahan apapun. Walaupun diakhirnya saat akan melakukan pembayaran disalah satu restoran fast food tetap saja beliau masih menyanggah saya untuk dapat membayar makanan kami saat itu.
Pengalaman singkat ini memberikan sebuah pelajaran berharga kepada saya, akan sebuah amanah. Bahwa kita harus amanah terhadap milik Jemaat, baik berupa barang-barang maupun amanah sebuah jabatan yang kita emban. Amanah ini harus kita jaga dan kita rawat dengan penuh ketakwaan, walau dari hal yang nampaknya tak berarti.
Pelajaran yang sangat berharga saya peroleh dari “orang muda” yang usianya berada jauh
di bawah saya. Walaupun peristiwa ini terjadi sembilan tahun yang lalu, namun momen ini tidak akan pernah saya lupakan.
Hari-hari pun berlalu, kini tidak saya sangka Bapak Sekretaris Al Wasiyat itu, yang usianya
jauh lebih muda dibandingkan saya, kini telah mendapatkan amanah yang jauh lebih besar lagi. Yaitu, menjadi Amir Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia.
Jazakumullah Ahsanal Jaza, Bapak Zaki Firdaus, telah memberikan pelajaran berharga bagi saya, keluarga dan para ahmadi di manapun berada, dari hal-hal sepele yang kita anggap kecil tapi besar maknanya.
Semoga kita semua dapat menerapkan jiwa amanah dengan penuh ketakwaan semata-mata kepada Allah Ta’ala. Aamiin Allahuma Aamiiin.
Editor : Mega Maharani
Views: 15
