SEBUAH RENUNGAN: KEADILAN DALAM PANDANGAN AGAMA

Saat mendengar kata adil, yang terpikir di benak sebagian besar orang adalah suasana pengadilan, keputusan hakim dan bagaimana cara membagi sesuatu sama banyaknya.

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adil adalah perbuatan yang sama berat, tidak berat sebelah dan tidak memihak.

 

Adil dalam bertindak berarti bersikap seimbang dan memberikan hak kepada setiap orang sesuai dengan porsinya. Sikap adil tidak hanya dibutuhkan oleh pemimpin atau seseorang yang memiliki jabatan tetapi juga oleh setiap individu dalam kehidupan sehari-hari. Adil juga berarti menjalankan tugas dan menjaga kepercayaan yang diberikan kepada kita dengan jujur dan penuh tanggung jawab.

 

Keadilan pun merupakan salah satu nilai utama yang diajarkan dalam agama, keadilan bukan hanya kewajiban sosial, tetapi juga bentuk ketaatan kepada Tuhan. Dalam pandangan agama, setiap manusia memiliki derajat yang sama di hadapan Tuhan. Perbedaan suku, warna kulit, kekayaan, maupun jabatan tidak boleh menjadi alasan untuk memperlakukan seseorang secara tidak adil.

 

Bersikap adil berarti tidak memihak hanya karena hubungan keluarga, pertemanan, kekayaan ataupun jabatan. Orang yang adil akan memberikan hak kepada yang berhak dan tidak mengambil hak orang lain. Sikap ini dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti membagi tugas secara merata, mendengarkan pendapat orang lain dengan baik dan tidak memilih teman berdasarkan keuntungan pribadi.

 

Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan bahwa kita harus berlaku adil kepada-Nya dan juga kepada makhluk ciptaan-Nya. Atau dengan kata lain, kita harus memenuhi hak-hak mereka semua. Jika kita mampu melampauinya, maka seyogyanya tidak cukup hanya dengan menunjukkan keadilan saja, tetapi juga kita harus menunjukkan ihsan/kebaikan seolah-olah kita benar-benar melihat-Nya. Setelah itu, jika kita dapat melampaui standar tersebut, maka kita harus memperlakukan Allah Ta’ala dan ciptaan-Nya tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan imbalan apa pun, seperti halnya cinta seseorang karena adanya suatu ikatan hubungan.

 

Hadhrat Masih Mau’ud as. kemudian bersabda bahwa kita harus selalu memperhatikan hubungan dan ketaatan kita kepada Allah Ta’ala. Kita harus mengakui bahwasanya Allah Ta’ala itu Esa dan tiada sekutu bagi-Nya. Kita harus meyakini Allah Ta’ala sebagai satu-satunya Zat yang layak disembah. Inilah bentuk hubungan dengan Allah Ta’ala yang menunjukkan rasa keadilan. Dia adalah Tuhan, Pemelihara dan Penyedia segala sarana. Inilah hak-hak Allah Ta’ala yang harus kita penuhi. Merupakan hak-Nya agar kita mencintai-Nya dan menaati-Nya. Melakukan semua itu adalah bentuk keadilan bagi Allah Ta’ala. [1]

 

Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah hendaklah kita prioritaskan dalam kehidupan untuk berlaku adil pada Allah Ta’ala. Selanjutnya kita harus adil pada diri sendiri dengan berbuat baik dan menjauhi segala perbuatan yang dilarang-Nya, maka kita telah berlaku adil karena kita telah menjaga jiwa dan raga agar tidak mendapatkan murka-Nya. Barulah kemudian kita bersikap adil pada semua ciptaan-Nya, maka keseimbangan hidup akan kita dapatkan.

 

Allah Ta’ala sangat menyukai orang yang bersikap adil dan amanah, seperti tertuang dalam hadis berikut:

 

“Orang yang adil akan ditempatkan dalam barisan cahaya di hadapan Allah. Mereka adalah orang-orang yang berlaku adil dalam keputusan mereka, keluarga mereka, dan urusan yang dipercayakan kepada mereka.” [2]

 

Referensi:

[1] https://ahmadiyah.id/tiga-tingkatan-kebaikan-adil-ihsan-dan-itaidzil-qurba

[2] HR. Muslim

 

Views: 12

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *