PONDASI TERKUAT DARI HARAPAN: YAKIN PADA SIFAT MAHA PERKASA TUHAN
Setiap manusia menjalani hidup penuh dengan harapan. Berharap lulus ujian, mendapat pekerjaan, sembuh dari sakit, rezeki lancar, hati yang tenang. Namun kadang kita sering lupa bertanya pada hati nurani: kepada siapa harapan itu kita sandarkan? Padahal sejatinya, jika kita tidak menyadari bahwa sandaran kita rapuh, patah, atau terbatas, maka harapan pun ikut runtuh saat badai datang. Untuk itu kita perlu bertanya, siapakah wujud yang seharusnya kita jadikan sandaran?
Dalam buku Inti Ajaran Islam halaman 102, pendiri Jamaah Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. bersabda:
“Jika kita tidak meyakini bahwa Tuhan bersifat Maha Perkasa maka semua harapan kita akan menjadi tidak ada artinya.”
Keimanan bahwa Allah Ta’ala bersifat Maha Perkasa — Al-Qawiyy, Al-Matiin, Al-‘Aziz, Al-Qadir — adalah fondasi agar harapan tidak hanya menjadi angan kosong.
Meyakini bahwa Allah Maha Perkasa, berarti kita yakin bahwa hanya Allah lah sandaran yang tidak pernah gagal, karena Allah tidak punya kelemahan. Tidak tidur, tidak lupa, tidak kehabisan kuasa. Jika kita yakin Dia adalah wujud yang Maha Perkasa, maka harapan yang kita panjatkan memiliki ‘tempat’ yang pasti dikabulkan sesuai waktu dan cara terbaik-Nya.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala di beberapa tempat dalam Al Quran:
1. “…Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [1]
Ayat ini menutup pembahasan tentang kuasa Allah mengatur hujan, petir, hidup-mati. Jika Dia sanggup atur langit dan bumi, tentu saja urusan kita yang kecil sangat mudah bagi Allah untuk mengatasinya.
2. “…Dan sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” [2]
Dalam ayat ini sifat Maha Perkasa berpasangan dengan Maha Bijaksana. Berarti kuasa Allah selalu tepat sasaran. Tidak ada doa yang sia-sia di hadapan-Nya.
Seperti keyakinan para utusan Allah yang ditugaskan untuk menyampaikan risalah kebenaran, mengajak manusia kepada kebaikan, pasti selalu mendapatkan penentangan, penolakan bahkan penganiayaan dari kaumnya. Tapi para rasul Allah tak pernah berhenti berharap karena sandarannya Allah, wujud yang Maha Perkasa.
Tanpa Keyakinan Ini, Harapan Jadi Rapuh
Manusia adalah makhluk lemah, yang memiliki banyak keterbatasan. Kerap dengan mudah berjanji, tapi sering kali ingkar. Diberikan kemampuan menolong sesama, tapi hanya sampai batas kemampuan. Memiliki rasa kasih sayang, tapi rasa itu bisa berubah kapan saja. Maka, jika manusia hanya menyandarkan harapan kepada sesama manusia, kepada jabatan, uang dan harta kekayaan, atau usaha diri sendiri, maka saat semua itu habis dan musnah, harapannya pun ikut mati.
Oleh sebab itu dalam QS. Ali ‘Imran (3) ayat 161, Allah Ta’ala memberikan kita petunjuk untuk yakin secara penuh pada pertolongan-Nya:
“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu, tetapi jika Allah membiarkan kamu, maka siapa yang dapat menolongmu selain Allah setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang beriman bertawakal.”
Sejalan dengan ayat tersebut terdapat hadits Rasulullah ﷺ yang bertujuan agar umatnya mampu menanamkan keyakinan ini ke dalam hati sejak kecil yang beliau sampaikan kepada Ibnu Abbas ra.:
Nabi ﷺ bersabda: _“Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.” [3]
Intinya, manusia harus mengarahkan semua harapan hanya kepada Dzat yang Maha Perkasa.
Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah berfirman: _
“Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku…” [4]
Maka, jika kita berprasangka Allah Maha Perkasa dan Maha Mendengar, maka harapan kita akan terus hidup. Tapi apabila kita ragu, maka kita sendirilah yang melenyapkan harapan itu.
Sebagai penutup, meyakini Allah Ta’ala Maha Perkasa bukan berarti kita diam tanpa usaha. Justru karena Dia adalah wujud yang Maha Perkasa, sekecil apapun usaha yang kita lakukan menjadi bernilai besar pada pandangan Allah. Harapan kita tetap terjaga, karena kita tahu: tidak ada yang mustahil bagi-Nya.
Dikala badai ujian menerpa, saat semua jalan seperti tertutup, saat tenaga terasa habis… bisikkan dalam hati: “Manusia memang makhluk yang tidak berdaya, tapi manusia memiliki Allah yang Maha Perkasa. Allah yang Maha Mampu.” Di situlah harapan kembali menyala.
Ketika Allah meyakinkan seorang hamba dengan satu kalimat, “Tidakkah Allah cukup bagi hambanya?”
Dengan keyakinan penuh seorang hamba yang beriman akan menjawab:
“Hasbunallah wa ni’mal wakil” — Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.
Referensi:
[1] QS. Al-Baqarah 2: 21
[2] QS. Al-Ankabut 29: 27
[3] HR. Tirmidzi, no. 2516, hadits hasan dan shahih
[4] HR. Bukhari, no. 7045; Muslim, no. 2675
Views: 38
