AL-QUR’AN: NUR HAQIQI YANG SEMPURNA
“Bercerminlah pada setiap ayat Al-Qur’an yang kita baca, karena di dalamnya terdapat petunjuk hidup yang sempurna.” (Imam al-Mawardi)”
Sejak masih sekolah sampai saya menikah, saat sedang dalam masalah ataupun perasaan hati yang gundah gulana, tujuan utama penyelesaiannya adalah dari Al-Qur’an atau buku-buku Jemaat. Karena entah kenapa, setelah membaca dua atau tiga halaman dari keduanya hampir selalu ada kata-kata yang membuat hati saya tenang dan merasa bahwa inilah jawaban yang saya cari.
Al-Qur’an merupakan kitab suci yang memiliki khazanah yang sangat luas, bahkan jika air laut digunakan sebagai tinta untuk menuliskannya maka tidak akan cukup.
Dalam Al-Qur’an Allah Swt berfirman:
“Seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta) ditambah tujuh lautan lagi, niscaya tidak akan pernah habis kalimatullah (ditulis dengannya). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. [1]
Maka dari itu yakinlah semua permasalahan, semua beban manusia untuk hidup penuh kedamaian dimuka bumi ini dan menjalankannya dengan menurut Ridho-Nya dan demi meraih tujuan Allah Swt menciptakan manusia yaitu untuk beribadah kepada-Nya. Yakinlah semua ada di dalam Al-Qur’an, Sunah dan Hadist.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s bersabda dalam Ruhani Khazain.
“Kami telah menemukan Nur haqiqi yang telah mengusir kegelapan dan mewujudkan semua hati menjadi sunyi terhadap segala sesuatu kecuali Allah Swt. Inilah jalan satu-satunya yang bisa menuntun manusia keluar dari cengkeraman nafsu dan kegelapan ego sebagaimana ular yang meninggalkan selongsong kulit tuanya.”
(Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; Ruhani Khazain).
Kitab Suci Al-Qur’an merupakan mutiara yang langka. Bagian luarnya adalah Nur, bagian dalamnya juga Nur, begitu pula bagian atas dan bawahnya adalah Nur semata serta Nur di setiap kata di dalamnya.
Kitab ini merupakan taman ruhani yang rangkaian buahnya mudah dijangkau dan melalui mana mengalir banyak sungai. Semua bentuk kemaslahatan bisa ditemukan di dalamnya dan setiap obor penunjuk jalan dinyalakan daripadanya.
Nur Kitab ini telah menembus hatiku dan aku tidak akan mungkin memperolehnya dengan cara lain. Jika tidak ada Al-Quran maka aku tidak akan menemukan kegembiraan hidup. Keindahannya jauh melampaui kecantikan seratus ribu Nabi Yusuf. Aku amat cenderung kepadanya dan meresapkan rahmatnya ke dalam hati. Kitab ini telah menghidupkan aku sebagaimana laiknya sebuah embrio dihidupi dan betapa indah pengaruhnya atas kalbuku.
Kecantikannya telah menarik keluar jiwaku. Dalam sebuah kashaf dikemukakan kepadaku bahwa taman kesucian itu diairi oleh Al-Quran yang merupakan gelombang samudra air kehidupan. Barangsiapa yang meminum daripadanya akan menjadi hidup dan membawa kehidupan kepada manusia lainnya.”
(Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 545-546)
Sedemikian indahnya perumpamaan Al-Qur’an oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Suatu hal yang sangatlah tidak masuk di akal apabila kita tidak mencintai Al-Qur’an, membacanya, menghayati, memahami isinya dan melaksanakan semua ajarannya.
Al Fatihah pun diibaratkan sebagai bunga Mawar. Surah ini penuh dengan keharuman halus dari apa yang namanya kebenaran. Keharuman tersebut diikuti dengan keindahan pengungkapan, kepantasan dan kehalusan dalam pengucapan, sebagaimana keharuman bunga mawar yang diikuti dengan keindahan warna dan kejernihannya.
Semuanya itu menggambarkan sifat-sifat eksternalnya. Dari sudut pandang sifat-sifat internalnya. Surah Fatihah merupakan obat penawar bagi penyakit-penyakit keruhanian yang parah, serta memberikan pedoman guna kesempurnaan kekuatan intelektual dan tindakan.
Jika seseorang berupaya dalam mengingat Allah, zikir Illahi dan berupaya memahami ajaran Al-Qur’an suci, maka Allah Ta’ala telah memberikan jawaban untuk setiap masalah di dalam Al-Qur’an, ada tafsirnya. Silahkan baca tafsir itu dan mintalah pertolongan kepada Allah Ta’ala. Mohonlah kepada-Nya bagaimana Dia dapat membimbing anda mengenai apapun masalah yang muncul.
Ada contoh dari Dr.Abdussalam Sahib, seorang ilmuwan l, beliau mengatakan bahwa beliau menemukan 500 sampai 700 ayat Al Quran terkait dengan sains yang mendorong dan membimbing beliau menuju medan penelitian.
Bagi orang yang berpendidikan kita dapat mencari. Adapun bagi orang awam cukuplah dia menunaikan sholat 5 waktu dengan benar lalu berdoa didalamnya. Allah Ta’ala kemudian akan membimbingnya. Tidak mungkin Allah berfirman untuk berdoa kepada-Nya dan menunaikan hak-Nya dengan benar lalu dia menolak untuk memberikan apapun.[2]
Allah Ta’ala juga berfirman:
“Jika kamu memohon kepadaku maka akan aku beri. Syaratnya adalah kamu menaatiku dan beriman kepadaKu.”[3]
Sumber :
1. Qs. Lukman: 28.
2. Intisari Ajaran Islam Bagian Pertama, Hazrar Mirza Ghulam Ahmad a.s
A Week with Huzoor 12 Juni 2026
3. Qs. Al-Baqarah: 187.
Views: 25
