AYAH MENANTANG MAUT DEMI BERTEMU SANG KHALIFAH

Bulan Juli tahun 2000, merupakan kenangan paling indah seumur hidupku. Kami diberi kesempatan untuk berjumpa dengan sosok yang sangat kami cinta, Khalifah Keempat dalam acara mulaqat. Berbagai persiapan pun kami lakukan. Setiap anggota yang ingin bergabung, semaksimal mungkin berpartisipasi untuk menyambut beliau.

Tak ketinggalan saya yang waktu itu masih remaja, turut bertugas di bagian keamanan LI. Senang rasanya mendapat karunia menjadi bagian dari panitia. Pelatihan keamanan pun langsung diberikan oleh Pak Willy Widarma, seorang Ahmadi yang berprofesi sebagai polisi.

Hari yang dinanti pun tiba, semua persiapan penyambutan sudah disiapkan. Semua panitia bertugas di posisinya masing-masing. Semua anggota telah menunggu dengan sabar kedatangan Khalifah tercinta. Anggota yang akan bermulaqat hadir sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

Walaupun tidak bisa mengikuti acara tanya jawab anggota Lajnah bersama Huzur karena tugas mengatur para anggota, tetapi saya tetap bersyukur bisa berdekatan dan berhadapan langsung dengan wujud suci, Imam Jemaat ini. Terharu dan ingin rasanya memeluknya dan memohon untuk senantiasa didoakan.

Saya dan keluarga pun termasuk yang mendapat jadwal mulaqat bakda Zuhur. Sejak pagi, saya dan kedua kakak laki-laki saya sudah berada di Masjid Mubarak karena bertugas sebagai panitia. Sayangnya, bapak kami tidak bisa menghadiri acara ini karena sakit. Kami, anak-anak, melarangnya ikut karena kondisi yang tidak memungkinkan. Kanker hati stadium 4.

Namun saat jadwal mulaqat tiba, kami benar-benar dikagetkan dengan kehadiran bapak di tengah-tengah kami. Kami pun berkesempatan bersalaman dan berfoto bersama Huzur tercinta. Tak dapat diucapkan dengan kata-kata kebahagiaan bertemu Huzur selain uraian air mata yang mengalir deras. Sosok suci ini seperti menghipnotis kami yang berada di acara itu. Keyakinan kami akan kebenaran ajaran Ahmadiyah juga semakin tinggi. Begitu pun kecintaan kami kepada Khalifah.

Rasa penasaran dan berbagai pertanyaan masih tersimpan, bagaimana bapak bisa sampai di masjid? Belum sempat kutanyakan, karena padatnya tugas-tugas kepanitiaan.

Bapak pulang lebih dulu, begitu pun ibu dan adikku. Dan di tengah-tengah pekerjaan, saya mendengar obrolan di antara panitia, ada seorang bapak yang terjatuh dari motor. Panitia sudah menolongnya. Katanya bapak itu lemas, namun tidak sampai pingsan. Saat saya melewati mereka, salah satu panitia menunjuk saya dan berkata, “Bapaknya ini tadi yang jatuh.”

Sontak saja saya kaget. Astaghfirullah, ternyata yang jatuh adalah bapak. Bagaimana mungkin bapak mengendarai motor dalam kondisi sakit ke masjid. Sementara jaraknya hampir 17 kilometer. Sepanjang perjalanan pulang, saya terus memikirkan kondisi bapak. Bagaimana kalau bapak jatuh dan pingsan di jalanan dan tidak satu orang pun mengenalnya. Bersyukur atas kekuasaan Engkau, bapak jatuh di dekat tempat panitia.

Sesampainya di rumah, saya langsung menemui bapak yang sedang terbaring lemas. Kami pun penasaran bertanya bagaimana bapak bisa sampai di masjid. Bapak menceritakan dengan nafas yang tersengal, “Bapak kesepian di rumah sendiri. Tidak bisa istirahat, gelisah. Pikiran Bapak selalu tertuju ke masjid dan ingat huzur terus. Kalian enak bisa berkumpul bersama dan bertemu huzur. Masa Bapak enggak dan ditinggal sendirian di rumah?”

Kami hanya terpaku mendengar penjelasan bapak. Sembari sesekali mengatur napasnya, bapak melanjutkan, “Bapak memberanikan diri saja. Seolah ada kekuatan untuk bangun dan mengemudikan motor. Sepanjang jalan Bapak berdoa supaya kuat sampai di masjid antara sadar dan tidak, Bapak tak ingat lagi. Tahu-tahu Bapak sudah ada yang mengangkat dan sampai di masjid.”

Bapak berucap dengan nada pelan. Genangan air kaca terlihat di ujung mata. Tak kuasa menahan tangisnya, “Waktu Bapak tinggal sebentar lagi. Entah kapan … mungkin ini kesempatan terakhir Bapak bertemu Huzur. Belum tentu bisa bertemu lagi seumur hidup kalau tidak sekarang.”

Kami pun terisak dan segera meminta maaf kepada Bapak. Kami merasa bersalah membiarkan bapak sendiri di rumah, dan tidak mengajaknya pergi bersama ke acara mulaqat. Beruraian air mata kami tak lagi mampu terbendung. Kekuatan apa yang waktu itu membantu dan mengantarkan bapak ke masjid, kalua bukan kekuatan cintanya kepada khalifah.

Tak lama setelah mulaqat, kondisi bapak semakin menurun, bahkan sampai tidak bisa menghadiri wisuda saya waktu itu. Dokter di rumah sakit bahkan sudah pasrah, dan meminta keluarga untuk tabah dan sabar merawat bapak di rumah.

Bulan Oktober 2000, bapak meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Innalilahi wa innailaihi rojiuun. Walau bapak kami berasal dari non-Ahmadi dan tidak begitu aktif, tetapi kehadiran Khalifah memberikan energi yang luar biasa pada kecintaannya. Bahkan di akhir hayatnya, bapak berjuang melawan sakitnya demi untuk bisa bermulaqat dengan Huzur, walau nyawa sebagai taruhannya.

Perjuangan almarhum akan selalu dikenang sebagai pelajaran hidup bagi kami akan kecintaan anggota kepada pimpinannya yang begitu tinggi. Nasihat sekaligus doa bapak yang selalu mengajarkan kepada kami untuk tetap taat dan aktif di Jemaat. Katanya, supaya tidak seperti bapak.

Alhamdulillah kami mendapat karunia-Nya untuk berkhidmat di Jemaat sampai sekarang. Insya Allah, sampai ajal menjemput.

.

.

.

editor: Rahma A. Roshadi

Hits: 8

Liana S. Syam

1 thought on “AYAH MENANTANG MAUT DEMI BERTEMU SANG KHALIFAH

  1. Semoga alm ditempatkan ditempat terbaik dan keturunannya menjadi ahmadi yang mukhlis sesuai harapannya Amin yra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories