Buah Dari Pengorbanan Harta Yang Diutamakan

Dalam setiap pengorbanan harta, seorang muslim selalu dihadapkan pada gejolak batin yang luar biasa. Karena pada saat itu terjadi pergulatan antara kebutuhan yang harus dipenuhi dengan hak Allah Ta’ala. Dan tak sedikit yang memilih untuk memenangkan kebutuhannya di atas hak Allah Ta’ala.
Tapi saat kita memenangkan hak Allah Ta’ala maka Allah Ta’ala pun akan memenangkan kita dengan pertolongan khas-Nya.

Ini bukan sebuah hikayat usang pada masa dahulu kala. Ini nyata di setiap masa dimana kita senantiasa memenangkan Allah Ta’ala. Ini jugalah yang aku saksikan di masa-masa sulit selama pandemi covid-19.

*****

Semenjak masa pandemi, perusahaan kecil tailor yang telah dirintis oleh almarhum bapak mertua dan sepeninggalnya dilanjutkan oleh anak-anaknya.
Alhamdulillah, tailor ini telah menanggung empat keluarga untuk memenuhi segala kebutuhan. Hingga datanglah covid-19 pada bulan Maret yang membuat suasana berubah drastis.

Tempat kami mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup, yang berada di kota Kembang, Bandung terdampak besar, karena pelanggan yang selama ini memberikan pekerjaan kebanyakan dari staf guru dan perkantoran. Hingga tempat kerja pun harus ditutup karena PSBB.

Suami pun pulang kampung dengan beban yang berat di pundaknya. Karena memikirkan bagaimana caranya memenuhi semua kebutuhan empat keluarga kami.

Dua minggu dilewati tanpa ada pemasukan. Tentu ini semua ini amat sulit bagi kami. Sementara sedikit simpanan pun akhirnya menjadi penyambung hidup sehari-hari.

Ada sebidang tanah peninggalan almarhumah ibu kami. Kami coba tawarkan kepada orang. Namun siapa yang mau beli dalam keadaan pandemi seperti ini? Karena kebanyakan orang akan mengatakan hal yang sama bahwa kondisi sedang serba sulit.

Tiga minggu berlalu. Tanpa ada sesuatu yang dapat dilakukan di kampung halaman. Sementara kebutuhan tak terhindarkan. Makan, bayar listrik, bayar kontrakan yang meski tak dipakai tapi harus tetap dibayar.

Suami dan saudaranya akhirnya mengambil langkah berani karena terdesak. Mencoba berangkat ke Bandung dengan sebuah harapan. Namun, sebelum sampai ke tempat kerja, di perjalanan justru disuruh balik arah oleh petugas karena tidak dapat masuk ke daerah zona merah.

Pulang dengan tangan hampa sementara beban tanggung jawab semakin berat. Untuk memenuhi kebutuhan pun kami dipinjami pelanggan suami, yang alhamdulillah mempercayai sikap jujur suamiku.

Di setiap sujud hampir tak pernah kosong dari doa penuh harap. Dari rintihan yang sangat manusiawi. Yang tengah menanti uluran pertolongan khas-Nya. Begitu juga, berkirim surat kepada Khalifah tercinta pun tak pernah surut.
Dan tibalah waktu yang seringkali melahirkan perang batin di kedalaman hati. Waktu pembayaran candah telah tiba.

Ketika itu kami hanya memiliki uang 70 ribu rupiah untuk membeli beras. Karena waktu membayar pengorbanan harta telah tiba, maka dibayarkanlah uang tersebut untuk candah dengan penuh keyakinan yang kuat kepada Allah Ta’ala bahwasanya Dia pasti akan mencukupkan segala kebutuhan kami.
Dua hari berlalu. Dan Allah menzahirkan pertolongan-Nya untuk kami. Ada seseorang yang menawarkan pekerjaan membuat masker dari kain. Dan suami pun menyanggupinya. Meski sedikit, tapi inilah rezeki terbaik sebab ia datang dari persangkaan baik hamba terhadap Tuhannya.

Dua bulan pun berlalu. Namun, alhamdulillah kami tak pernah luput dari karunia memenuhi pengorbanan harta sesulit apapun keadaan kami. Dan alhamdulillah, meski tak berpenghasilan, kami masih bisa makan. Ini adalah rezeki dari-Nya berkat tak lalai dalam membayar candah.

Pada bulan Ramadhan, alhamdulillah kami 4 keluarga mendapat bantuan dana dari Pusat. Kami demikian bersyukur karena saat itu kami memang sangat membutuhkannya.

Dari bantuan tersebut, kami utamakan untuk membayar candah, fitrah dan item-item pengorbanan harta lainnya.

Begitu juga denganku. Meski hanya sebagai ibu rumah tangga, tak memiliki penghasilan, namun selalu merasa memiliki kewajiban dalam diri, untuk selalu dapat membayar candah, dana lainnya dan melunasi perjanjian Tahrik Jadidku, karena aku selalu meniatkan ingin melunasi perjanjianku pada bulan Ramadhan.

Sementara ada beberapa rupiah sisa uang dari bantuan tersebut, kami jadikan modal kecil-kecilan untuk berjualan cemilan.

Seminggu menjelang Idul Fitri, kami mendapatkan pesanan yang lumayan banyak, dan harus diantar ke daerah Garut dan Bandung. Alhamdulillah selalu ada rezeki untuk menyambung kembali kebutuhan kami.

Dua minggu setelah Idul Fitri, ternyata situasi covid-19 masih saja belum menunjukan keadaan akan membaik. Sementara pesanan cemilan pun tak lagi ada. Dan waktunya pengorbananpun tiba kembali, sementara kami tak mungkin untuk menunda. Karena bisa jadi Dia pun akan menunda rezeki tak disangka-sangka-Nya untuk kami.

Meski dalam kesulitan sekalipun kami tak ingin melewatkannya, karena itu merupakan suatu ketenangan, dimana setiap kali kewajiban tersebut telah terpenuhi, maka hati kami terasa tenteram dan tenang.

Setelah uang yang ada kami bayarkan untuk candah, keesokan harinya pelanggan menghubungi suami, alhamdulillah ada pekerjaan yang dapat dikerjakan di rumah.

Setelah pekerjaan selesai dalam 1 minggu, upahpun didapat. Namun mengingat pada bulan september adalah bulan pelunasan Tahrik Jadid. Suami yang masih memegang upahnya langsung ingin melunasi perjanjiannya. Dan untuk kebutuhan lainnya biarlah nanti Allah Ta’ala yang memenuhinya. Kami percaya dan yakini, Insyaallah.

Baru seminggu berlalu setelah suami melunasi perjanjian Tahrik Jadidnya, tepatnya pada hari Jumat, sang paman menghubungiku. Kami mendapat kabar bahwa tanah yang sudah lama akan dijual namun tak laku-laku, akhirnya ada yang membeli bahkan uangnya pun sudah siap untuk diambil.
Alhamdulillah, ya Allah memang pertolongan-Mu selalu menaungi, rahmat-Mu selalu meliputi.
.
.
.
Penulis: Cucu Komariah
Editor: Muhammad Nurdin

Hits: 230

Cucu Komariah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories