Dosa Jariyah, Bukan Hanya Tentang Membuka Aurat Saja

Perihal kematian sedang hangat diperbincangkan karena berita duka yang datang dari kalangan selebriti usai dikabarkan meninggal dunia. Portal berita hingga akun Instagram pribadi sang selebriti dibanjiri ungkapan duka pada kolom komentarnya, tapi tidak sedikit yang menyoroti kehidupannya yang -netizen anggap- tidak berpakaian sesuai syari’at islam.

“Keluarganya, tolong dong kalau bisa hapus saja akunnya. Dosa jariyah itu.”

Kalimat ‘dosa jariyah’ menarik mundur ingatan saya pada saat saya masih duduk di bangku sekolah. Ketika itu pelajaran sedang berlangsung. Seorang guru menjelaskan panjang lebar mengenai dosa jariyah ini. Ia memaparkan bahwa dosa jariyah tidak hanya sebatas menyuguhkan aurat ke khalayak ramai saja, tetapi ada yang lebih sering manusia lakukan dan mereka bersikap seolah itu menjadi hal lumrah dan tidak tercela; membicarakan yang tidak benar tentang orang lain (memfitnah) dan ghibah.

Ia menambahkan, bahwa selain termasuk dalam dosa jariyah, membuat perkataan bohong tentang seseorang merupakan dosa besar. Dosa itu akan terus mengalir meskipun ia sudah berhenti membicarakan orang tersebut. Karena kalimatnya mengudara, hinggap pada telinga siapa saja, memunculkan berbagai paradigma. 

Membicarakan orang lain seakan menjadi makanan sehari-hari, memfitnah (berbicara yang tidak benar tentang seseorang) pun sudah dirasa bukan lagi termasuk ke dalam dosa, sehingga dengan santainya kita terus mengulang kegiatan tersebut disetiap kesempatan. Padahal Allah Ta’ala telah memperingatkan kita untuk senantiasa menjauhkan diri dari purba-sangka dan berghibah dalam QS. Al-Hujurat Ayat 12: 

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka buruk itu dosa. Dan janganlah sebagian kalian mencari-cari keburukan orang dan menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Firman Allah Ta’ala selanjutnya yang menggambarkan betapa beratnya dosa yang didapat ketika kita berghibah terdapat dalam Surah An-Nur ayat 19, “Siapapun gemar menceritakan atau menyebarluaskan kejelekan saudara Muslim kepada orang lain diancam dengan siksa yang pedih di dunia dan di akhirat.” (QS An-Nur : 19) 

Di dalam buku “Cara Terbebas dari Dosa” karya Hz. Masih Mau’ud a.s. pun disebutkan bahwa dusta, tidak berbelas kasih terhadap makhluk-Nya dan memfitnah merupakan dosa yang hukumannya sangat pedih. Beliau as menegaskan dengan sabdanya:

“Apakah Anda tidak lekas ke luar dari rumah yang hampir roboh, atau melompat ke luar dari tempat tidur yang terdapat ular, atau melarikan diri dari gendung yang terbakar? Jika Anda ingin menghindari kemungkinan bahaya ini, mengapa Anda tidak menghindari dari dosa-dosa yang baru saja saya sebutkan?” (Buku Terbebas dari Dosa hal. 33.

Astaghfirullahal’adzim, betapa penuhnya diri dengan dosa. Kita selalu sibuk mengarahkan orang lain, sedang diri sendiri pun masih sangat membutuhkan arahan. Kita selalu sibuk memperhatikan tutup kepala orang lain, sedang mulut kita sendiri pun kita buka lebar-lebar untuk menelan dosa akibat keganasan lidah kita sendiri. Kita selalu sibuk menghitung dosa dan menggunjing kesalahan orang lain, sedang kita sendiri tidak pernah keluar dari dosa ghibah yang menambah beban berat pada timbangan dosa kita. 

Semoga kita mampu memperlakukan orang lain dengan ma’ruf sehingga tidak akan timbul niat untuk membicarakan bahkan memfitnah orang lain. Semoga lidah kita disibukkan dengan mengucap asma-Nya dan berdzikir, agar kelak lidah kita meringankan jalan menuju surga-Nya. Karena apa yang kita katakan semasa hidup berpegang pada prinsip qaulan karima, bukan sebaliknya. Aamiin. 

Hits: 293

Nurul Hasanah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories