
Hal Ini yang Bikin Hati Keropos dan Membuka Jalan Menuju Kehancuran
Pandangan mata terbelalak pada sebuah tayangan berita, padahal berita itu hanyalah tentang sebuah tas yang diberi nama “The 1001 Nights Diamond Purse”. Apa gerangan istimewanya tas itu? Hingga menjadi top hits sebuah berita?
Rupanya, ada angka tak tanggung-tanggung untuk tas itu, 53 Milyar. Ini adalah tas tangan termahal di dunia dan disertifikasi oleh Guinness Book of World Record. Tas berbentuk hati ini bertatahkan 4.517 berlian dalam varian kuning, merah muda dan tidak berwarna dengan total 381,92 karat. Butuh sepuluh pengrajin terampil dan total 8.800 jam untuk membuat aksesori ini.
Antara percaya dan tidak, benarkah ada tas dengan harga sefantastis ini?
Iseng-iseng mengambil kalkulator. Jika seseorang mempunyai penghasilan yang disimpan 10 juta perbulan, maka dia butuh waktu lebih dari 5000 bulan menabung jika ingin memiliki tas itu.
Atau jika saja jumlah uang tersebut dijadikan sebuah perumahan, dengan harga rata-rata 1 rumah 200 juta, maka diperoleh lebih dari 265 rumah.
Apalagi jika dibelikan nasi bungkus untuk dhuafa seharga 20 ribu sebungkus, maka akan didapat lebih dari 2 juta bungkus nasi yang bisa mengganjal laparnya para fakir miskin.
Atau dibuat satu pabrik yang dapat menampung ratusan pekerja, dan dapat menyelamatkan perekonomian banyak keluarga.
Tapi ini jelas hanya sebuah keisengan dan halusinasi tingkat tinggi. Di zaman hedonis seperti ini, dimana manusia berlomba memenuhi hasrat dunia, maka hitung-hitungan logika dan akal sehat tak lagi punya makna.
Ironis memang, ditengah kesulitan yang melanda dunia, rupanya masih banyak yang menutup mata telinga, menutup mata hati demi kebanggaan dan kesenangan diri.
Inilah salah satu bentuk sifat boros yang dijelaskan dalam Alquran Surah Al-Isra ayat 26-27 :
“Dan berikanlah kepada kaum kerabat haknya, dan kepada fakir miskin dan orang musafir, dan janganlah memboroskan hartamu dengan berlebih-lebihan. Sesungguhnya para pemboros itu saudara setan, dan setan tidak tahu berterimakasih kepada Tuhan-Nya”.
Tafsir dari ayat ini adalah orang yang tidak mempergunakan anugerah-anugerah Tuhan dengan cara yang baik, sebenarnya tidak bersyukur terhadap-Nya, dan ia yang memboroskan kekayaannya, pada hakikatnya mencari jalan untuk menghindari kewajiban-kewajiban yang terletak di atas pundaknya untuk mempergunakannya dengan cara yang baik.
Dari tafsir di atas dapat dipahami bahwa sifat boros sama dengan tidak bersyukur dan salah satu dampaknya adalah rusaknya kondisi hati karena tertutup oleh ambisi-ambisi memenuhi keinginan sendiri dan melupakan adanya kewajiban-kewajiban lain. Maka pemboros pun disejajarkan dengan setan sebagai saudaranya. Naudzubillah.
Apa yang dimaksud dengan boros?
Boros artinya berlebih-lebihan dalam pemakaian uang, barang dan sebagainya, termasuk dalam hal makanan.
“Sesungguhnya termasuk pemborosan bila kamu makan apa saja yang kamu bernafsu memakannya”. (HR. Ibnu Majah)
Lantas seperti apakah Alquran memberikan tuntutan kepada manusia dalam hal membelanjakan harta?
Dalam surah Al-Furqan ayat 67 Allah Ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta tidaklah boros dan tidak pula kikir, melainkan mengambil jalan tengah diantara kedua keadaan itu”.
Mengambil jalan tengah, ini solusi terbaik dalam membelanjakan harta, tidak boros dan tidak pula kikir.
Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas pernah mengatakan:
“Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.”
Ini bermakna bahwa jika seseorang berlomba-lomba memberikan harta sebanyak-banyaknya untuk kebaikan, maka bukanlah pemborosan.
Semoga kita semua dapat terhindar dari sifat boros ini, dan dapat lebih mengasah empati. Bukan sekedar membelanjakan materi untuk kesenangan diri, namun tetap melihat rambu-rambu yang ditetapkan dan menyadarii bahwa masih banyak sisi lain kehidupan yang memerlukan banyak uluran tangan.
Views: 575